IAIN PONOROGOIAIN PONOROGO

Dialektika: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan PengajarannyaDialektika: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya

Media sosial telah mengubah paradigma komunikasi secara fundamental, menyatukan berbagai tingkat interaksi dalam satu jaringan. Dengan kemajuan digital, interaksi tatap muka sebagian besar tergantikan, sementara identitas manusia kini dibuat, dibangun, dan dinegosiasikan oleh individu itu sendiri. Fenomena ini menjadi lebih kompleks bagi remaja muslimah yang menghadapi tuntutan ganda: tampil ideal sesuai trend media sosial sekaligus menjaga citra diri yang konsisten dengan nilai keislaman dan ekspektasi komunitas. Fitur Instagram seperti Close Friends dan Feeds mendukung dualitas ini. Penelitian ini fokus pada peran komunikasi digital dalam negosiasi identitas remaja muslimah Wongsorejo. Menggunakan metode kualitatif dengan pisau analisis teori Dramaturgy, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi aktivitas media sosial. Temuan menunjukkan remaja muslimah memiliki pola komunikasi digital berlapis: Feeds digunakan untuk membangun citra publik yang baik, religius, dan sesuai syariat, sementara Close Friends menjadi ruang privat untuk ekspresi autentik, keterbukaan diri, dan manajemen privasi. Instagram berfungsi sebagai sarana representasi diri, dakwah personal, dan pemenuhan kebutuhan sosial, namun juga menghadirkan tekanan untuk menyeimbangkan penerimaan sosial dengan keutuhan diri sebagai muslimah. Penelitian ini memberikan kontribusi akademik pada Ilmu Komunikasi dengan menawarkan pemahaman lebih kaya tentang pengelolaan citra diri, privasi, dan tuntutan keagamaan remaja di era digital.

Negosiasi identitas remaja muslimah Wongsorejo di ruang digital khususnya Instagram merupakan dinamika yang kompleks antara budaya digital, ekspresi diri, dan nilai religius.Pertama, remaja muslimah Wongsorejo menerapkan pola komunikasi digital berlapis yang memanfaatkan dualisme fitur Instagram.Fitur feeds dioperasikan sebagai panggung depan untuk membangun personal branding yang ideal, syari, dan selaras dengan ekspektasi sosial masyarakat lokal religius.Sedangkan fitur Close Friends dimanfaatkan sebagai panggung belakang sekaligus instrumen manajemen privasi untuk keterbukaan diri (self-disclosure) secara lebih autentik dan bebas dari penghakiman publik.Kedua, proses negosiasi identitas terjadi melalui taktik pemilahan audiens digital.dengan cara ini, remaja muslimah mampu mereduksi ketegangan struktural antara dorongan eksistensi modernitas dengan tuntutan menjaga marwah keagamaan.Hal ini juga mencerminkan prinsip at-tawazun dan dakwah bil-hal, dimana teknologi digital tidak diadopsi secara mentah melainkan dinegosiasikan secara adaptif tanpa menghilangkan akhlak dan moralitas lokal.Dengan demikian, komunikasi digital dalam konteks ini bukan sekedar medium teknologi, melainkan sebuah ruang mediasi sosial dan religius yang dinamis di era modern.

Berdasarkan hasil penelitian, berikut adalah saran penelitian lanjutan: Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih luas untuk melihat perbandingan variasi negosiasi identitas remaja muslimah di media sosial di berbagai wilayah dengan karakteristik sosial dan budaya yang berbeda. Kedua, studi berikutnya dapat mengeksplorasi platform lain seperti TikTok atau YouTube untuk memahami dinamika negosiasi identitas di platform yang lebih interaktif dan visual. Ketiga, penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan pendekatan mixed-methods atau kuantitatif untuk mengukur intensitas penggunaan fitur digital dalam negosiasi identitas dan dampak sosial serta psikologisnya terhadap remaja. Selain itu, peran literasi digital, kesadaran etika bermedia, dan perlindungan privasi juga dapat menjadi fokus penelitian untuk memahami bagaimana remaja muslimah dapat menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.

Read online
File size1.24 MB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test