UMKUMK

Jurnal Psikologi PerseptualJurnal Psikologi Perseptual

Ketidakadilan gender dimaknai sebagai perbedaan perlakuan masyarakat terhadap salah satu gender dengan gender lainnya, seperti perlakuan masyarakat terhadap gender laki-laki yang dimana perlakuan mereka lebih baik daripada gender perempuan. Laki-laki dianggap sebagai gender yang kuat dan berkuasa sehingga perempuan harus tunduk pada mereka. Perbedaan perlakuan dari masyarakat menyebabkan munculnya toxic masculinity. Toxic masculinity merupakan perlakuan tidak adil pada gender laki-laki. Gender laki-laki yang dianggap sebagai sosok yang kuat sehingga memunculkan sebuah sudut pandang bahwa laki-laki tidak boleh merasa sedih, atau mengeskpresikan emosinya ketika sedang sedih. Laki-laki juga manusia yang memiliki rasa dan hati, mereka berhak untuk merasa sedih, lemah, bahkan menangis, namun karena pemikiran masyarakat yang sudah terbawa sejak dulu bahwa laki-laki tidak boleh menangis mengakibatkan tekanan-tekanan pada gender laki-laki.

Toxic masculinity yang masih beredar dikalangan masyarakat hingga saat ini, sangat sulit untuk dihilangkan karena masih adanya pola pikir statement bahwa seorang pria harus menjadi individu yang kuat, tidak boleh lemah, tidak boleh menangis, dan jika sudah berumah tangga harus bekerja di luar rumah (urusan rumah tangga hanya boleh diurus oleh istri.Pola pikir masyarakat yang terus terbawa dari leluhur-leluhurnya yang mengatakan bahwa laki-laki adalah sosok yang kuat sehingga menimbulkan perspektif bahwa sosok laki-laki adalah sosok yang kuat dan tahan banting, emosi sedih, menangis tidak boleh diekspresikan oleh laki-laki karena perspektif tersebut.Toxic masculinity muncul akibat perspektif masyarakat tersebut, akibatnya laki-laki mengalami tekanan batin karena mereka tidak dapat mengekspresikan emosinya secara leluasa.Segala aspek atau hal yang dikerjakan dalam keseharian akan terganggu ketika seseorang mengalami toxic masculinity dalam bentuk apapun, misal seperti labelling dan umpatan.Umpatan seperti lemah, banci, yang mengakibatkan laki-laki mengalami tekanan, karena walaupun mereka manusia yang memiliki rasa dan hati tetapi mereka tidak bisa mengekspresikan emosi sedihnya dengan bebas.Perilaku dari masyarakat yang tidak adil membuat kemungkinan laki-laki mengalami depresi, namun yang paling bahaya adalah seseorang tersebut mengalami gangguan mental, entah itu merasa menjadi orang yang tidak berguna, berusaha menutup diri karena tidak percaya diri, dan yang lainnya.Kehadiran bahwa diri merasa menjadi lebih feminim atau berperilaku seperti perempuan berawal dari label yang dilemparkan oleh masyarakat kepada gender laki-laki, labelling yang dilontarkan oleh masyarakat bahkan sering terjadi sejak kecil.Pola pikir masyarakat seharusnya berubah, karena kita sudah berada di era modern, mindset kuno yang berpikiran bahwa laki-laki tidak boleh menangis, sedih dan sebagainya harus dihilangkan, tidak ada manusia yang ingin diperlakukan tidak adil di dunia ini, baik dari gender perempuan maupun laki-laki.Tidak ada laki-laki yang ingin menjadi sosok yang dipandang sebagai istilah bencong oleh orang lain karena Ia mengekspresikan emosi sedihnya, namun masyarakat secara spontan memberikan label tersebut karena hanya melihat suatu hal yang dilakukan oleh laki-laki tidak sesuai dengan prinsip yang orang tersebut pegang.

Berdasarkan hasil penelitian ini, kami menyarankan agar dilakukan studi lebih lanjut untuk mengeksplorasi dampak toxic masculinity pada kesehatan mental laki-laki. Penelitian ini dapat berfokus pada bagaimana tekanan batin yang dialami oleh laki-laki akibat toxic masculinity dapat mempengaruhi kesehatan mental mereka, dan bagaimana masyarakat dapat membantu mengurangi stigma dan tekanan tersebut. Selain itu, penelitian lanjutan juga dapat dilakukan untuk menganalisis bagaimana toxic masculinity mempengaruhi aspek-aspek lain dalam kehidupan sosial, seperti hubungan interpersonal dan interaksi dalam komunitas. Dengan memahami dampak toxic masculinity secara lebih mendalam, kita dapat mengembangkan strategi intervensi yang efektif untuk mengurangi dampak negatifnya dan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan adil bagi semua gender.

Read online
File size224.03 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test