AHMADDAHLANAHMADDAHLAN

Jurnal Media Komunikasi Ilmu EkonomiJurnal Media Komunikasi Ilmu Ekonomi

Berakhirnya insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) kendaraan listrik di Indonesia menimbulkan dilema antara keberlanjutan fiskal dan transisi transportasi rendah emisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi alternatif kebijakan PPN kendaraan listrik pasca-insentif 2025 dari perspektif pemangku kepentingan menggunakan Teori Pajak Optimal. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan regulator, perwakilan industri kendaraan listrik, konsultan pajak, analis kebijakan, dan akademisi, yang didukung oleh analisis regulasi perpajakan serta dokumen kebijakan terkait. Data dianalisis secara tematik untuk menilai tiga alternatif, yaitu penghentian langsung insentif, pengurangan insentif secara bertahap, dan insentif terarah. Penghentian langsung meningkatkan efisiensi fiskal dan kesederhanaan administrasi, tetapi berpotensi menurunkan keterjangkauan konsumen, permintaan pasar, dan kepastian investasi. Pengurangan bertahap menyediakan proses penyesuaian yang lebih dapat diprediksi sambil mengurangi beban fiskal secara progresif. Insentif terarah meningkatkan ketepatan penggunaan anggaran melalui prioritas bagi kendaraan dengan TKDN tinggi, angkutan umum listrik, kendaraan produktif, serta kelompok yang menghadapi hambatan adopsi. Evaluasi menunjukkan tidak ada satu alternatif yang sepenuhnya memenuhi tujuan fiskal, ekonomi, sosial, industri, dan lingkungan. Kombinasi pengurangan bertahap dan insentif terarah merupakan pendekatan paling seimbang bagi reformasi PPN pasca-insentif.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa reformasi kebijakan PPN kendaraan listrik pasca-insentif harus menyeimbangkan keberlanjutan fiskal, stabilitas pasar, penguatan industri, dan tujuan dekarbonisasi.Evaluasi menunjukkan penghentian insentif langsung efisien fiskal namun berisiko bagi konsumen dan investasi, sementara pengurangan bertahap menjaga adaptasi pasar dan insentif selektif lebih tepat sasaran.Oleh karena itu, kombinasi pengurangan insentif secara bertahap dan selektif dianggap sebagai pendekatan paling proporsional untuk menjaga disiplin fiskal sekaligus mendukung transisi kendaraan listrik dan pengembangan industrinya.

Penelitian selanjutnya dapat memperkaya pemahaman mengenai transisi kebijakan PPN kendaraan listrik ini dengan beberapa arah studi baru yang lebih mendalam. Pertama, penting untuk mengkaji secara spesifik model implementasi insentif PPN yang selektif. Ini bisa dilakukan melalui analisis perbandingan terhadap berbagai skema verifikasi dan pengawasan yang paling efektif serta efisien, terutama untuk insentif yang ditujukan bagi kendaraan listrik dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) tinggi atau untuk sektor angkutan umum. Tujuan utamanya adalah menemukan cara agar manfaat kebijakan benar-benar tepat sasaran tanpa membebani pemerintah atau pelaku industri dengan birokrasi yang kompleks. Kedua, studi dapat menelusuri secara lebih detail bagaimana dinamika perilaku konsumen berubah seiring dengan skenario pengurangan insentif PPN secara bertahap. Pertanyaan yang menarik adalah bagaimana elastisitas permintaan kendaraan listrik beradaptasi pada berbagai tahapan pengurangan insentif, serta dampaknya terhadap keputusan pembelian dan strategi harga produsen di pasar lokal. Pemahaman ini krusial untuk merancang jadwal gradual phase-out yang optimal. Terakhir, ada peluang untuk melihat kebijakan ini dalam konteks yang lebih luas, yaitu hubungannya dengan transisi energi nasional. Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi bagaimana strategi PPN kendaraan listrik dapat diselaraskan dengan investasi pada infrastruktur pengisian daya yang berkelanjutan dan pengembangan energi terbarukan, sehingga transisi ke kendaraan listrik tidak hanya mengurangi emisi transportasi, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas jaringan listrik dan tujuan energi hijau Indonesia secara keseluruhan. Dengan demikian, kajian masa depan tidak hanya fokus pada dampak fiskal dan pasar, namun juga pada integrasi ekosistem EV yang lebih besar.

  1. Open Knowledge Repository. open knowledge repository doi.org/10.1596/978-1-4648-1358-0Open Knowledge Repository open knowledge repository doi 10 1596 978 1 4648 1358 0
Read online
File size266.04 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test