ILOMATAILOMATA

Ilomata International Journal of Tax and AccountingIlomata International Journal of Tax and Accounting

Penelitian ini mengkaji hubungan kointegrasi antar indeks saham di negara-negara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), dengan memperhatikan potensi perubahan dinamika pasar setelah implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015. Alih-alih menguji secara formal adanya perubahan struktural, penelitian ini menggunakan kerangka komparatif dua periode untuk menilai perbedaan dalam keseimbangan jangka panjang dan dinamika jangka pendek sebelum dan sesudah MEA. Dengan menggunakan indeks harga saham gabungan mingguan dari enam negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam), analisis dibagi menjadi dua periode: pra-MEA (2011–2016) dan pasca-MEA (2017–2024). Studi ini menerapkan Model Koreksi Kesalahan Vektor (VECM), uji kointegrasi ambang batas, dan analisis kausalitas Granger untuk menangkap penyesuaian simetris dan asimetris serta hubungan arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kointegrasi tetap ada di antara lima pasar, tidak termasuk Vietnam, dengan penyesuaian jangka pendek yang asimetris dan konvergensi jangka panjang yang simetris. Lebih lanjut, periode pasca-MEA menunjukkan pola hubungan kausal dua arah yang lebih kuat dan lebih luas, mengindikasikan peningkatan integrasi keuangan di seluruh kawasan. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa periode setelah MEA terkait dengan keterkaitan keuangan regional yang lebih kuat, daripada memberikan bukti definitif tentang perubahan struktural. Penelitian ini menggarisbawahi relevansi inisiatif kebijakan regional dalam membentuk dinamika pasar modal dan menawarkan wawasan tentang bagaimana integrasi ekonomi dapat tercermin dalam hubungan pasar keuangan.

Penelitian ini mengkaji integrasi pasar modal ASEAN sebelum dan sesudah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, menemukan bahwa pasar ASEAN-6 tetap terintegrasi secara ekonomi, meskipun Vietnam menunjukkan koneksi jangka panjang yang relatif lebih lemah.Analisis kausalitas Granger menunjukkan bahwa interdependensi jangka pendek telah berevolusi seiring waktu, dengan peningkatan hubungan kausal dua arah antar negara setelah MEA 2015, mengindikasikan pasar saham regional menjadi lebih saling terhubung.Temuan ini menegaskan bahwa perubahan struktural terkait kebijakan dapat bersamaan dengan pergeseran kekuatan dan arah hubungan antar pasar, memberikan implikasi penting bagi pembuat kebijakan, investor, dan bisnis dalam memantau interdependensi pasar dan mengelola strategi regional.

Penelitian lanjutan sangat relevan untuk memperdalam pemahaman kita tentang integrasi pasar modal ASEAN. Pertama, studi di masa depan dapat memperluas analisis dari indeks harga saham gabungan ke indeks spesifik sektor atau dinamika tingkat industri. Ini akan memungkinkan para peneliti untuk menyelidiki bagaimana sektor-sektor ekonomi tertentu, seperti perbankan, manufaktur, atau teknologi, di berbagai negara ASEAN saling terintegrasi. Pendekatan ini diharapkan dapat mengungkap pola dan pendorong integrasi yang berbeda, serta menjelaskan anomali yang ditemukan dalam penelitian ini, seperti pengaruh Filipina yang tidak terduga terhadap Singapura atau dinamika hubungan antara Indonesia dan Malaysia. Kedua, penting untuk secara eksplisit menguji dampak guncangan ekonomi eksternal yang besar, seperti pandemi COVID-19 atau krisis keuangan global, terhadap pola integrasi pasar modal regional. Mengembangkan model yang mampu mengidentifikasi secara langsung perubahan struktural atau pergeseran rezim akan membantu memahami bagaimana guncangan tersebut mengubah mekanisme transmisi antar pasar, tidak hanya dari segi prediktabilitas statistik, tetapi juga melalui faktor-faktor ekonomi riil seperti sentimen investor, respons kebijakan makroekonomi, dan gangguan rantai pasok. Ketiga, penelitian dapat lebih jauh mengeksplorasi saluran transmisi ekonomi spesifik yang mendasari integrasi dan hubungan kausal yang diamati. Investigasi ini harus mencakup peran investasi asing langsung, volume perdagangan bilateral untuk barang dan jasa tertentu, harmonisasi regulasi lintas batas, serta keberadaan lembaga keuangan regional. Dengan demikian, kita dapat mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang paling efektif dalam mendorong keterkaitan keuangan yang lebih dalam di seluruh wilayah ASEAN.

Read online
File size369.09 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test