UNIFLORUNIFLOR

Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran SejarahSajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana proses pelaksanaan ritual pemberian nama anak (Pii Waung) pada klan Tenu di Desa Lanamai Kecamatan Riung Barat Kabupaten Ngada, (2) Apa makna dari ritual Pemberian nama (Pii Waung) Pada klan Tenu Di Desa Lanamai Kecamatan Riung Barat Kabupaten Ngada. Untuk membahas masalah diatas peneliti mengunakan teori Interaksionisme Simbolik yang dikemukakan oleh George Simmle. Jenis penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah metode kualitatif. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data-data berupa kata-kata yang tertulis atau lisan dari para narasumber serta perilaku yang diamati yang diarahkan pada latar belakang seutuhnya. Subyek penelitian, peneliti memilih enam orang informan yaitu empat orang tokoh masyarakat dan satu orang tokoh adat sebagai informan pendukung. Teknik pengumpulan data ini ada tiga yaitu: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data diantaranya: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) Ritual pemberian nama anak masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat pada klan Tenu. (2) dari kalangan generasi mudah kurang peduli terhadap ritual pemberian nama anak. Aspirasi masyarakat Desa lanamai akhirnya mendapat sambutan baik dari pemerintah daerah Kabupaten Ngada. Hasil akhir studi ini menyimpulkan bahwa Desa Lanamai mengalami perkembangan antara lain dalam bidang sosial, dan bidang budaya.

Ritual pii waung merupakan upacara pemberian nama anak yang baru lahir.Ritual pemberian nama anak juga merupakan salah satu budaya yang terdapat dalam seluruh lapisan masyarakat.Ritual ini sangat dihormati secara agama maupun adat, Upacara ini sangat penting karena seorang anak yang baru lahir harus melakukan upacara pemberian Nama anak.Dengan ritual pii waung seorang anak yang baru lahir secara resmi disahkan sebagai anggota keluarga dan masyarakat klannya.Upacara ini wajib dilakukan, jika upacara ini tidak dilakukan maka dampaknya adalah jika ia besar ia akan menjadi seorang yang salang mawah (anak ini akan cacat dari segi mental dan fisik) dan bahkan berujung pada kematian yang tidak disukai oleh keluarga.Lebih dari itu semua, upacara ini merupakan satu-satunya kesempatan untuk menyampaikan syukur dan permohonan berkat kepada yang maha kuasa lewat doa, kurban persembahan dan penyampaian syukur karena seorang anak manusia baru telah datang dan selamat ke dunia.

Mengkaji dampak modernisasi terhadap keberlanjutan ritual tradisional seperti Pii Waung di kalangan generasi muda. Membandingkan praktik ritual pemberian nama anak antar klana di wilayah Ngada untuk memahami variasi budaya. Mengeksplorasi peran pendidikan dalam pelestarian nilai-nilai budaya melalui partisipasi aktif generasi muda dalam upacara adat.

Read online
File size573.48 KB
Pages24
DMCAReport

Related /

ads-block-test