ST3BST3B

JURNAL IMPARTAJURNAL IMPARTA

Pendidikan keselamatan tubuh atau body safety merupakan bagian penting dari pencegahan kekerasan seksual terhadap anak, tetapi penerapannya dalam Pendidikan Kristen Anak Usia Dini masih kerap bersifat parsial dan belum terhubung secara sistematis dengan antropologi teologis serta safeguarding institusional. Penelitian ini bertujuan mengonstruksi kurikulum body safety berbasis teologi tubuh dan Imago Dei bagi PAUD Kristen. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-konseptual melalui telaah literatur integratif dan teologi konstruktif terhadap artikel jurnal nasional dan internasional terbitan 2016–Juli 2026. Literatur dianalisis melalui pemetaan konsep, kategorisasi tematik, dialog teologis-interdisipliner, dan sintesis kurikulum dengan backward design. Penelitian menghasilkan model IMAGO-SAFE yang mengintegrasikan martabat tubuh, literasi anatomi dan privasi, agensi serta batas tubuh, tindakan perlindungan, orang dewasa tepercaya, situasi aman dan membingungkan, pencegahan rahasia dan grooming, safeguarding keluarga-sekolah-gereja, serta asesmen autentik dan inklusif. Model tersebut dioperasionalkan menjadi delapan unit pembelajaran berbasis bermain. Penelitian menyimpulkan bahwa kurikulum body safety harus membangun kompetensi protektif anak tanpa memindahkan tanggung jawab utama perlindungan dari orang dewasa dan institusi kepada anak.

Konstruksi kurikulum body safety bagi PAUD Kristen memerlukan hubungan yang utuh antara ilmu perlindungan anak, pedagogi perkembangan, dan antropologi teologis.Teologi tubuh menegaskan bahwa kehidupan manusia merupakan kesatuan pribadi, sedangkan Imago Dei menempatkan setiap anak sebagai pribadi bermartabat yang tidak dapat dijadikan objek kuasa orang dewasa.Konsekuensinya, bahasa tubuh, privasi, batas, persetujuan, suara anak, dan akses terhadap pertolongan merupakan bagian dari praksis pendidikan Kristen.Penelitian menghasilkan model IMAGO-SAFE yang menghubungkan identitas tubuh, pengenalan tubuh dan sinyal, agensi dan batas, gerak perlindungan, orang dewasa tepercaya, penilaian situasi, pencegahan rahasia dan grooming, keselamatan digital, safeguarding keluarga-sekolah-gereja, serta evaluasi autentik dan inklusif.Model tersebut diterjemahkan ke dalam delapan unit berbasis bermain yang menghubungkan tujuan, aktivitas, dan bukti perkembangan.Kontribusi terpenting model adalah penolakan terhadap pemindahan tanggung jawab perlindungan kepada anak.Anak perlu memiliki bahasa dan keterampilan, tetapi orang dewasa serta institusi tetap bertanggung jawab menciptakan lingkungan aman, merespons pengungkapan, membatasi kuasa, dan mempertanggungjawabkan pelanggaran.Oleh karena itu, pelaksanaan kurikulum harus selalu disertai pelatihan guru, pendidikan orang tua, kebijakan safeguarding, kanal pengaduan, serta audit budaya organisasi.

Saran penelitian lanjutan yang baru adalah menguji efektivitas model IMAGO-SAFE melalui design-based research pada beberapa PAUD Kristen. Uji efektivitas dapat menggunakan desain prates-pascates dengan alat ukur sesuai usia, observasi perilaku, dan tindak lanjut retensi, disertai persetujuan etik yang ketat. Penelitian juga perlu menguji apakah materi dipahami secara setara oleh anak laki-laki dan perempuan, anak dengan disabilitas, anak dari kelompok bahasa berbeda, dan anak yang tinggal dalam struktur keluarga beragam. Evaluasi terhadap safeguarding perlu berjalan paralel agar peningkatan pengetahuan anak tidak disalahartikan sebagai bukti bahwa institusi telah aman. Selain itu, penelitian dapat mengembangkan modul, buku cerita, lagu, kartu skenario, dan panduan keluarga yang sesuai dengan model IMAGO-SAFE. Penelitian juga dapat mengkaji lebih lanjut tentang peran orang tua dan guru dalam implementasi kurikulum body safety, serta bagaimana mereka dapat bekerja sama dengan institusi untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak.

Read online
File size182.76 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test