PUBLICASCIENTIFICSOLUTIONPUBLICASCIENTIFICSOLUTION

Jurnal Teknik IndonesiaJurnal Teknik Indonesia

Pembangunan Jembatan Malo di Kabupaten Bojonegoro menghadapi tantangan signifikan selama fase penegakan superstruktur, terutama karena keterbatasan akses lokasi dan penggunaan metode penegakan yang kurang sesuai. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi efisiensi komparatif dua metode penegakan utama: penggunaan kran crawler 250 ton yang beroperasi dari darat dan metode kombinasi yang melibatkan kran crawler 100 ton didukung oleh ponton modular yang beroperasi dari air. Pendekatan studi kasus dengan metodologi kuantitatif diterapkan, fokus pada tiga parameter utama: durasi penegakan, biaya konstruksi, dan manajemen risiko. Analisis menunjukkan bahwa metode kran crawler 250 ton darat memerlukan periode penegakan yang lebih pendek sebesar 181 hari, dibandingkan 203 hari untuk metode ponton modular, menghasilkan peningkatan efisiensi waktu sebesar 10,84%. Selain itu, metode kran crawler 250 ton menunjukkan efektivitas biaya yang lebih tinggi dan tingkat risiko operasional yang lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa memilih metode penegakan yang sesuai dengan kondisi geografis dan logistik lokasi sangat penting untuk mengoptimalkan kinerja konstruksi. Pemilihan metode yang tepat dapat menghasilkan peningkatan signifikan dalam efisiensi waktu dan biaya, terutama dalam lingkungan yang kompleks atau terbatas.

Berdasarkan analisis dua metode penegakan untuk Jembatan Malo – Bojonegoro, metode kran crawler 250 ton menunjukkan keunggulan yang jelas dalam hal efisiensi waktu, biaya, dan tingkat risiko dibandingkan metode kombinasi ponton modular dengan kran 100 ton.Metode kran crawler 250 ton menyelesaikan penegakan dalam 181 hari, 10,84% lebih cepat dibandingkan 203 hari yang diperlukan untuk metode ponton.Metode ini juga memerlukan logistik yang lebih sederhana, kurang bergantung pada kondisi air, dan menimbulkan risiko lingkungan serta operasional yang lebih rendah.Sebaliknya, metode ponton lebih rentan terhadap arus sungai, gelombang, dan cuaca ekstrem, serta memerlukan operator yang tercertifikasi dan manajemen kerja yang lebih ketat.Oleh karena itu, metode kran crawler 250 ton disarankan untuk proyek dengan akses darat yang memadai dan kondisi tanah stabil, sementara metode ponton modular dapat digunakan sebagai alternatif di lokasi dengan akses darat terbatas, asalkan risiko operasional dan logistik dikelola secara hati-hati.Penelitian masa depan dapat mengeksplorasi strategi penegakan hibrida atau adaptif yang mengoptimalkan efisiensi dan keselamatan di lokasi dengan kendala lingkungan dan akses yang sangat bervariasi, potensial mengintegrasikan pemantauan real-time dan alat manajemen risiko prediktif.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan metode penegakan hibrida yang menggabungkan keunggulan kran darat dan ponton modular untuk situasi yang lebih kompleks. Misalnya, mengeksplorasi teknologi pemantauan real-time untuk memprediksi risiko cuaca atau stabilitas ponton secara dinamis. Selain itu, perlu dilakukan studi tentang adaptasi metode penegakan untuk wilayah dengan akses darat sangat terbatas, seperti daerah rawan banjir atau sungai dengan aliran ekstrem, dengan mempertimbangkan material alternatif atau desain struktur yang lebih ringan. Terakhir, penelitian dapat mengevaluasi efektivitas pelatihan operator khusus untuk kondisi khusus seperti penggunaan kran di atas ponton, termasuk simulasi risiko dan pengambilan keputusan cepat dalam situasi darurat.

Read online
File size328.15 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test