IAIN LANGSAIAIN LANGSA
Al-Qadha : Jurnal Hukum Islam dan Perundang-UndanganAl-Qadha : Jurnal Hukum Islam dan Perundang-UndanganPenelitian mengenai tema interseksionalitas dalam ruang digital, representasi gender, dan keluarga poligami dalam komunitas Muslim telah memperoleh perhatian akademik yang semakin besar dalam beberapa dekade terakhir. Namun, penelitian yang secara khusus mengkaji peran penting media digital dalam mereproduksi praktik dan menormalisasi poligami masih belum banyak dilakukan. Artikel ini mengkaji normalisasi poligami dalam lanskap digital Indonesia dengan berfokus pada tiga kanal YouTube yang dikelola oleh Muslim yang menjalankan poligami, termasuk kanal dengan jumlah penonton terbanyak yang menampilkan kehidupan sehari-hari keluarga poligami di Indonesia. Penelitian ini berargumen bahwa representasi kehidupan sehari-hari keluarga poligami di ruang digital berkontribusi terhadap normalisasi poligami, memperkuat struktur patriarkal, sekaligus menantang prinsip monogami dalam budaya perkawinan Muslim di Indonesia. Data dikumpulkan menggunakan teknik netnografi dari tiga kanal YouTube tersebut. Artikel ini mengintegrasikan konsep performativitas gender Judith Butler dan teori praktik sosial Pierre Bourdieu untuk menganalisis habitus patriarkal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa normalisasi poligami pada kanal-kanal tersebut berlangsung melalui empat pola utama, yaitu religiusitas yang melingkupi poligami, naturalisasi hasrat laki-laki, interpretasi koersif terhadap ajaran Al-Quran tentang poligami, serta penggambaran perempuan ideal sebagai sosok yang tunduk dan patuh. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pola-pola normalisasi poligami pada kanal-kanal YouTube tersebut berfungsi sebagai strategi diskursif dan simbolik untuk mempertahankan dominasi laki-laki dalam relasi keluarga dengan mengatasnamakan agama dan budaya. Studi ini menyoroti kompleksitas hubungan antara agama dan platform digital yang, di satu sisi, dapat mendorong kesetaraan gender, tetapi di sisi lain juga dapat menjadi ruang yang signifikan bagi penguatan nilai-nilai patriarkal dalam keluarga dan masyarakat Muslim.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa tiga kanal YouTube yang diteliti menormalisasi praktik poligami melalui diskursus digital religius, membingkainya sebagai ketaatan kepada Tuhan dan kepemimpinan laki-laki yang saleh, serta sunah yang sakral, sehingga melanggengkan ideologi patriarkal.Kanal-kanal ini secara konsisten menampilkan narasi maskulinitas religius di mana laki-laki adalah pemimpin dan pengendali hasrat, sementara perempuan diposisikan sebagai pendukung moral dan spiritual yang tunduk, sabar, dan murah hati, yang secara halus menutupi ketidakseimbangan kekuasaan dan menormalisasi subordinasi perempuan.Normalisasi ini didukung oleh interpretasi selektif ayat-ayat Al-Quran dan klaim otoritas interpretatif pribadi, yang menciptakan otoritas keagamaan terdesentralisasi yang melegitimasi dinamika kekuasaan gender yang tidak setara, sehingga membutuhkan dekonstruksi simbol-simbol religius yang menormalisasi ketidaksetaraan demi kerangka interpretatif yang berlandaskan maqāṣid Al-Quran dan etika kesetaraan gender.
Penelitian ini telah menyoroti peran penting kanal YouTube dalam menormalisasi praktik poligami di kalangan Muslim Indonesia, namun ada beberapa arah penelitian lanjutan yang menarik untuk dieksplorasi guna memperdalam pemahaman kita tentang fenomena kompleks ini. Pertama, penting untuk melakukan studi empiris yang lebih mendalam mengenai bagaimana audiens, khususnya para istri dan anak-anak dalam keluarga poligami, menginternalisasi narasi yang disajikan di platform digital tersebut. Studi ini dapat mengkaji dampak psikologis dan sosial jangka panjang dari paparan konten semacam itu, meneliti apakah narasi harmonis yang ditampilkan berkorelasi dengan pengalaman riil mereka, atau justru menciptakan disonansi kognitif yang memengaruhi kesejahteraan emosional dan stabilitas keluarga. Kedua, ada kebutuhan mendesak untuk menganalisis respons dari kerangka kerja regulasi agama dan gender terhadap munculnya otoritas interpretasi digital ini. Bagaimana lembaga keagamaan formal dan organisasi hak-hak perempuan merespons klaim-klaim otoritas yang berbasis pengalaman pribadi dan karisma di media sosial, dan apakah ada upaya sistematis untuk mengembangkan kerangka interpretatif alternatif yang lebih inklusif, adil, dan berlandaskan pada etika kesetaraan gender yang lebih luas, sesuai dengan maqāṣid Al-Quran? Penelitian dapat mengeksplorasi strategi yang efektif dalam mengembangkan dan menyebarluaskan narasi tandingan yang mampu membongkar simbol-simbol religius yang menormalisasi ketidaksetaraan, serta mengedukasi publik tentang interpretasi yang lebih kontekstual dan kritis terhadap teks-teagamaan terkait poligami. Ketiga, studi di masa depan dapat memperluas fokus dari YouTube ke platform media sosial lainnya seperti TikTok, Instagram, atau Facebook, untuk memahami strategi komunikasi yang berbeda dan bagaimana audiens yang lebih beragam berinteraksi dengan konten poligami. Analisis komparatif lintas platform dan studi longitudinal dapat mengungkapkan bagaimana agen perempuan menegosiasikan atau bahkan menantang narasi patriarkal yang dominan, serta melihat evolusi diskursus normalisasi dari waktu ke waktu. Hal ini akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang dinamika ruang digital sebagai arena kontestasi dan reproduksi nilai-nilai sosial dan keagamaan di Indonesia.
- Project MUSE -- Verification required!. project muse verification required order better serve keep site... doi.org/10.2979/amerreli.5.1.05Project MUSE Verification required project muse verification required order better serve keep site doi 10 2979 amerreli 5 1 05
- Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... doi.org/10.1007/s11562-007-0035-6Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site doi 10 1007 s11562 007 0035 6
- From Digitalization to Normalization: A Netnography of Everyday Indonesian Muslims' Polygamous Marriages... journal.iainlangsa.ac.id/index.php/qadha/article/view/14461From Digitalization to Normalization A Netnography of Everyday Indonesian Muslims Polygamous Marriages journal iainlangsa ac index php qadha article view 14461
| File size | 414.6 KB |
| Pages | 32 |
| DMCA | Report |
Related /
IAIN MADURAIAIN MADURA Produksi fatwā di Indonesia telah didominasi oleh ulama laki-laki dan berakar pada metodologi konvensional yang memprioritaskan sumber-sumber tekstual,Produksi fatwā di Indonesia telah didominasi oleh ulama laki-laki dan berakar pada metodologi konvensional yang memprioritaskan sumber-sumber tekstual,
POLTEKSAHIDPOLTEKSAHID Partisipasi masyarakat yang cukup tinggi memperlihatkan efektivitas metode partisipatif yang digunakan, meskipun masih terdapat hambatan berupa keterbatasanPartisipasi masyarakat yang cukup tinggi memperlihatkan efektivitas metode partisipatif yang digunakan, meskipun masih terdapat hambatan berupa keterbatasan
UIRUIR Islam sangat memuliakan wanita dan yang paling pokok dari masalah gender terjawab sudah melalui konsep tauhid dimana derajat laki-laki dan perempuan adalahIslam sangat memuliakan wanita dan yang paling pokok dari masalah gender terjawab sudah melalui konsep tauhid dimana derajat laki-laki dan perempuan adalah
UNIVEDUNIVED Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, yang melibatkan pengumpulan data dari buku, literatur,Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, yang melibatkan pengumpulan data dari buku, literatur,
IAIN PONOROGOIAIN PONOROGO Fatwa-fatwa tersebut memisahkan kurikulum sekolah dan profesi yang dapat diambil oleh perempuan, menekankan peran ibu rumah tangga, dan memperkuat normaFatwa-fatwa tersebut memisahkan kurikulum sekolah dan profesi yang dapat diambil oleh perempuan, menekankan peran ibu rumah tangga, dan memperkuat norma
IAIN MADURAIAIN MADURA Oleh karena itu, hak-hak hukum dan dukungan yang lebih besar bagi perempuan diperlukan untuk mewujudkan politik yang lebih setara. 2) Aktivis feminis diOleh karena itu, hak-hak hukum dan dukungan yang lebih besar bagi perempuan diperlukan untuk mewujudkan politik yang lebih setara. 2) Aktivis feminis di
UIGMUIGM Seperti bagaimana para tokoh perempuan dalam Film Yuni melakukan perlawanan atau resistensi berupa keberanian untuk mengambil pilihan hidup, tetap berpegangSeperti bagaimana para tokoh perempuan dalam Film Yuni melakukan perlawanan atau resistensi berupa keberanian untuk mengambil pilihan hidup, tetap berpegang
UTBUTB Sumber data yang digunakan adalah data primer hasil wawancara dengan 10 informan yang merupakan para tetua dan pengurus lembaga adat desa dibeberapa desaSumber data yang digunakan adalah data primer hasil wawancara dengan 10 informan yang merupakan para tetua dan pengurus lembaga adat desa dibeberapa desa
Useful /
NHS JOURNALNHS JOURNAL Anemia secara substansial meningkatkan morbiditas, mortalitas, dan beban perawatan kesehatan pada pasien hemodialisis (HD) pemeliharaan, sehingga memerlukanAnemia secara substansial meningkatkan morbiditas, mortalitas, dan beban perawatan kesehatan pada pasien hemodialisis (HD) pemeliharaan, sehingga memerlukan
IAIN MADURAIAIN MADURA Faktor yang menjadi penyebab kebakaran tersebut berdampak pada luas lahan, kesehatan, transportasi pengguna jalan, pendidikan dan sosial kemasyarakatanFaktor yang menjadi penyebab kebakaran tersebut berdampak pada luas lahan, kesehatan, transportasi pengguna jalan, pendidikan dan sosial kemasyarakatan
ALMAARIFALMAARIF Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru profesional di SMA Al-Muslim secara aktif mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran PAI. Beberapa strategiHasil penelitian menunjukkan bahwa guru profesional di SMA Al-Muslim secara aktif mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran PAI. Beberapa strategi
ALMAARIFALMAARIF Peristiwa ini diprediksi kuat sebab dampak pendidikan Islam yang sudah dirasai bahasa area di Jawa (“Pendidikan Islam Dan Nilai Kejawen, N. D. ). PenelitianPeristiwa ini diprediksi kuat sebab dampak pendidikan Islam yang sudah dirasai bahasa area di Jawa (“Pendidikan Islam Dan Nilai Kejawen, N. D. ). Penelitian