UROLOGIUROLOGI
Indonesian Journal of UrologyIndonesian Journal of UrologyTujuan: Penelitian tentang persebaran urologi di Indonesia terutama di Jawa Timur masih belum banyak dibahas. Masih ada beberapa daerah di Jawa Timur yang sama sekali belum memiliki dokter urologi. Kami mencoba mencari tahu faktor yang mendasari persebaran ini lewat beberapa indikator. Bahan & Cara: Data seluruh rumah sakit di Jawa Timur dihimpun dengan data dokter spesialis urologi di Jawa Timur yang didapatkan dari Ikatan Ahli Urologi Indonesia/ Indonesian Urological Association, ditambah dengan informasi dari media sosial dan telepon operator rumah sakit. Jumlah dokter urologi dan rumah sakit dengan pelayanan urologi, kemudian dikorelasikan dengan indeks pembangunan manusia, indeks pendidikan, indeks daya beli, indeks kesehatan, dan upah minimum regional. Hasil: Rasio dokter urologi di tiap kabupaten dan kota di Jawa Timur masih belum merata, begitu juga dengan rumah sakit dengan pelayanan urologi di tiap kabupaten dan kota di Jawa Timur. Rasio dokter urologi dan jumlah rumah sakit dengan pelayanan urologi berhubungan signifikan dengan indeks pembangunan manusia, indeks pendidikan, indeks daya beli, indeks kesehatan, dan upah minimum regional pada suatu daerah. Simpulan: Penyebaran dokter spesialis urologi berhubungan dengan kemajuan suatu daerah, yang dalam penelitian ini dinilai lewat indikator pembangunan manusia, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Distribusi dokter urologi di Jawa Timur masih belum merata, dengan rasio tinggi di kota-kota besar seperti Surabaya dan Malang yang memiliki rumah sakit pendidikan, serta daerah sekitarnya, sementara beberapa kabupaten seperti Pacitan, Sampang, dan Sumenep sama sekali belum memiliki dokter urologi.Rasio dokter urologi dan jumlah rumah sakit penyedia layanan urologi ini secara signifikan berhubungan dengan indeks pembangunan manusia, indeks pendidikan, indeks kesehatan, indeks daya beli, dan upah minimum regional.Temuan ini mengindikasikan bahwa dokter urologi cenderung memilih praktik di wilayah yang maju, yang dinilai berdasarkan kualitas sumber daya manusia, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Distribusi dokter urologi yang tidak merata di Jawa Timur, dengan konsentrasi di kota besar dan ketiadaan di beberapa daerah, menunjukkan kebutuhan mendesak akan penelitian lanjutan untuk mengatasi masalah akses layanan kesehatan urologi. Pertama, penting untuk mendalami faktor-faktor yang secara langsung memengaruhi keputusan dokter urologi dalam memilih lokasi praktik. Ini dapat dilakukan melalui studi kualitatif mendalam yang mengeksplorasi persepsi dan preferensi pribadi para urolog, mencakup aspek-aspek seperti lingkungan kerja yang ideal, peluang pengembangan profesional dan karier, pentingnya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, serta dampak insentif finansial. Dengan memahami motivasi intrinsik dan ekstrinsik ini, pemerintah dan institusi terkait dapat merancang strategi penempatan yang lebih efektif dan menarik. Kedua, mengingat korelasi yang signifikan antara distribusi urolog dengan indeks pembangunan daerah, penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi efektivitas berbagai intervensi kebijakan yang bertujuan untuk pemerataan. Contohnya, studi dapat meninjau keberhasilan program beasiswa ikatan dinas, pemberian tunjangan khusus bagi tenaga medis di daerah terpencil, atau model kemitraan antara rumah sakit swasta dan pemerintah yang berfokus pada peningkatan layanan urologi di area yang kurang terlayani. Analisis kebijakan ini akan memberikan bukti konkret tentang pendekatan terbaik untuk menarik dan mempertahankan urolog di wilayah yang membutuhkan. Ketiga, untuk perencanaan jangka panjang, studi komprehensif mengenai beban penyakit urologi di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur sangatlah krusial. Penelitian ini harus mencakup prevalensi kondisi seperti urolitiasis dan insidensi kanker urologi, serta memproyeksikan kebutuhan dokter urologi berdasarkan tren demografi dan epidemiologi. Dengan data ini, dapat diidentifikasi kesenjangan antara kapasitas pendidikan dokter urologi yang ada saat ini dengan kebutuhan proyeksi di masa depan, memungkinkan perumusan strategi peningkatan kapasitas pendidikan dan distribusi yang berkelanjutan dan adil.
| File size | 1.03 MB |
| Pages | 6 |
| DMCA | Report |
Related /
UROLOGIUROLOGI 6±20. 6 ml dengan IPP (Intravesical Prostatic Protrusion) 13. 0±5. 2 ml. Diabetes Mellitus merupakan penyakit penyerta yang paling banyak diderita pasien,6±20. 6 ml dengan IPP (Intravesical Prostatic Protrusion) 13. 0±5. 2 ml. Diabetes Mellitus merupakan penyakit penyerta yang paling banyak diderita pasien,
UROLOGIUROLOGI Berdasarkan pemeriksaan CT scan, kami menemukan bahwa pasien menderita ginjal tapal kuda dengan hidronefrosis kiri. Hidronefrosis tersebut disebabkan olehBerdasarkan pemeriksaan CT scan, kami menemukan bahwa pasien menderita ginjal tapal kuda dengan hidronefrosis kiri. Hidronefrosis tersebut disebabkan oleh
UROLOGIUROLOGI Waktu tindak lanjut rerata adalah 45 bulan (3-4 tahun). Semuanya tidak menunjukkan gejala. Simpulan: Ada kemungkinan 27. 3% pasien akan mengalami stenosisWaktu tindak lanjut rerata adalah 45 bulan (3-4 tahun). Semuanya tidak menunjukkan gejala. Simpulan: Ada kemungkinan 27. 3% pasien akan mengalami stenosis
MAND YCMMMAND YCMM Penelitian ini bertujuan mengkaji korelasi antara pengetahuan dan sikap ibu dengan pelaksanaan imunisasi polio pada balita di wilayah tersebut. Hasil penelitianPenelitian ini bertujuan mengkaji korelasi antara pengetahuan dan sikap ibu dengan pelaksanaan imunisasi polio pada balita di wilayah tersebut. Hasil penelitian
MAND YCMMMAND YCMM Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas latihan Range of Motion (ROM) pasif dalam meningkatkan kekuatan otot pada pasien stroke non-hemoragik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas latihan Range of Motion (ROM) pasif dalam meningkatkan kekuatan otot pada pasien stroke non-hemoragik.
POLIBANPOLIBAN Dari analisis Think Aloud ini, didapatkan hasil berupa rekomendasi sebanyak 23 rekomendasi perbaikan yang dapat memperbaiki dan mengembangkan website SIPDari analisis Think Aloud ini, didapatkan hasil berupa rekomendasi sebanyak 23 rekomendasi perbaikan yang dapat memperbaiki dan mengembangkan website SIP
JCIVIL UPIYPTKJCIVIL UPIYPTK Berdasarkan hasil pengujian terhadap beton yang menggunakan tiga jenis semen berbeda (Semen A, Semen B, dan Semen C) pada umur 7, 14, dan 28 hari, diperolehBerdasarkan hasil pengujian terhadap beton yang menggunakan tiga jenis semen berbeda (Semen A, Semen B, dan Semen C) pada umur 7, 14, dan 28 hari, diperoleh
UMPRUMPR Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan (field research) menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun subjek penelitian yaitu orang, tempat, benda,Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan (field research) menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun subjek penelitian yaitu orang, tempat, benda,
Useful /
UROLOGIUROLOGI Sebagian besar pasien dirujuk dan dioperasi setelah usia 1 tahun. Penundaan dalam pengobatan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan orang tua dalam membawaSebagian besar pasien dirujuk dan dioperasi setelah usia 1 tahun. Penundaan dalam pengobatan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan orang tua dalam membawa
UROLOGIUROLOGI 25% vs 43.75%), abnormalitas SGOT SGPT (25% vs 56.25%), abnormalitas kreatinin (6. 25% vs 37. 5%), anemia (18.75% vs 31.25%), leukositosis (6. 25% vs 0%),25% vs 43.75%), abnormalitas SGOT SGPT (25% vs 56.25%), abnormalitas kreatinin (6. 25% vs 37. 5%), anemia (18.75% vs 31.25%), leukositosis (6. 25% vs 0%),
POLIBANPOLIBAN Secara keseluruhan, audit ini menunjukkan bahwa PT. ABC memiliki pondasi tata kelola TI yang solid, namun masih terdapat ruang untuk meningkatkan efisiensiSecara keseluruhan, audit ini menunjukkan bahwa PT. ABC memiliki pondasi tata kelola TI yang solid, namun masih terdapat ruang untuk meningkatkan efisiensi
POLIBANPOLIBAN We followed a user-centered design framework (Five Planes) and evaluated the prototype via scenario-based usability testing (n=5). Users completed tasksWe followed a user-centered design framework (Five Planes) and evaluated the prototype via scenario-based usability testing (n=5). Users completed tasks