UROLOGIUROLOGI

Indonesian Journal of UrologyIndonesian Journal of Urology

Tujuan: Mengevaluasi kemungkinan stenosis yang terjadi pada ureter akibat penggunaan elektrokauter pada prosedur sayatan ureter pada Laparoskopi ureterolitotomi (LU). Bahan& Cara: Penelitian ini dilakukan di RS Fatmawati Jakarta, kami mengumpulkan data secara retrospektif pada 22 pasien terdiagnosis batu ureter yang menjalani prosedur LU dari tahun 2014 hingga 2021, memenuhi syarat dan telah menyelesaikan protokol tindak lanjut. Pasien dievaluasi dengan menilai kondisi ginjal pasca prosedur menggunakan USG dan CT scan untuk mengevaluasi adanya stenosis ureter. Hasil: Stenosis ureter ditemukan pada 6 dari 22 pasien (27.3%). Waktu tindak lanjut rerata adalah 45 bulan (3-4 tahun). Semuanya tidak menunjukkan gejala. Simpulan: Ada kemungkinan 27.3% pasien akan mengalami stenosis ureter setelah LU. Meskipun LU adalah salah satu metode terbaik untuk mengekstraksi batu ureter berukuran besar, komplikasi akhir setelah LU harus dipertimbangkan.

3% pasien akan mengalami stenosis ureter setelah Laparoscopic Ureterolithotomy (LU).Hal ini mungkin disebabkan oleh efek tertunda cedera termal selama prosedur insisi ureter.Penggunaan pisau dingin selama LU dapat dipertimbangkan.

Penelitian selanjutnya dapat berfokus pada perbandingan metode insisi ureter yang berbeda selama prosedur Laparoscopic Ureterolithotomy (LU). Mengingat temuan bahwa penggunaan elektrokauter dapat meningkatkan risiko stenosis ureter akibat cedera termal, sebuah studi komparatif dapat dirancang untuk membandingkan tingkat stenosis pasca-operasi antara kelompok pasien yang menjalani insisi dengan elektrokauter monopolar, elektrokauter bipolar yang mungkin lebih terlokalisasi, atau bahkan teknik pisau dingin jika memungkinkan secara laparoskopik. Pendekatan ini akan memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang metode mana yang paling aman dan efektif dalam meminimalkan kerusakan jaringan jangka panjang, serta dapat mengidentifikasi apakah modifikasi alat atau teknik bedah dapat secara signifikan mengurangi komplikasi. Selain itu, penting juga untuk menyelidiki secara mendalam mekanisme biologis di balik cedera termal yang menyebabkan stenosis. Pertanyaan penelitian dapat mencakup bagaimana paparan panas memicu perubahan histologis yang berujung pada pembentukan jaringan parut dan penyempitan ureter secara asimptomatik, dan apakah ada intervensi farmakologis atau teknik bedah pendukung (misalnya penggunaan zat pelindung atau pendingin) yang dapat diterapkan selama operasi untuk melindungi jaringan ureter dari efek termal. Akhirnya, mengingat temuan adanya kasus stenosis yang tidak bergejala, studi kohort jangka panjang diperlukan untuk memantau evolusi klinis pasien yang mengalami stenosis asimptomatik setelah LU. Apakah kondisi ini stabil seiring waktu, memburuk secara perlahan tanpa disadari, atau justru dapat menimbulkan komplikasi serius pada ginjal di masa depan? Penelitian ini dapat membantu dalam mengembangkan protokol tindak lanjut yang lebih tepat dan menentukan apakah intervensi diperlukan bahkan pada kasus yang tidak bergejala, serta mencari penanda biokimia atau radiologis yang dapat memprediksi prognosis jangka panjang. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa prosedur LU, yang efektif untuk batu besar, juga aman dalam jangka panjang.

Read online
File size836.41 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test