YAMASIYAMASI

Jurnal Kesehatan Yamasi MakassarJurnal Kesehatan Yamasi Makassar

Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), diperkirakan sekitar 1,5 miliar orang di dunia mengalami infeksi Soil Transmitted Helminth (STH), yaitu kelompok parasit usus yang penularannya melalui media tanah. Salah satu pendekatan alternatif dalam penanggulangan helminthiasis adalah pemanfaatan obat tradisional, seperti biji pepaya, yang secara empiris diketahui memiliki aktivitas anthelmintik karena kandungan senyawa bioaktif seperti alkaloid, saponin, tanin, dan flavonoid. Selain itu, kulit pepaya juga mengandung nutrisi penting seperti mineral, kalium, protein, serta beta karoten yang berkontribusi pada potensi anthelmintik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan efektivitas sirup yang terbuat dari biji dan kulit pepaya terhadap kematian cacing Ascaris suum secara in vitro. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratorium. Hasil menunjukkan bahwa sirup biji pepaya pada konsentrasi 5% memiliki waktu kematian cacing terlama, yaitu rata-rata 5 jam 15 menit, sedangkan sirup kulit pepaya pada konsentrasi yang sama membutuhkan waktu rata-rata 4 jam 15 menit. Pada konsentrasi 15%, kedua sirup menunjukkan waktu kematian tercepat, yaitu rata-rata 4 jam. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa komponen kimia yang terdapat dalam ekstrak biji dan kulit buah pepaya memiliki efek anthelmintik pada cacing Ascaris suum dalam bentuk sediaan sirup.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa sirup ekstrak biji dan kulit buah pepaya (Carica papaya L.) menunjukkan efektivitas sebagai agen anthelmintik terhadap cacing Ascaris suum.Efektivitas tersebut tercermin dari konsentrasi sirup biji 5% yang memiliki rata-rata waktu kematian terlama, yaitu 5 jam 15 menit.Sedangkan konsentrasi sirup kulit 5% dengan rata-rata waktu kematian 4 jam 15 menit, konsentrasi sirup biji 15% dengan rata-rata waktu kematian 4 jam, serta sirup kulit 15% dengan rata-rata waktu kematian 4 jam, merupakan konsentrasi yang paling cepat menyebabkan kematian cacing.Disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan yang fokus pada identifikasi senyawa kimia aktif yang memiliki potensi sebagai agen anthelmintik dan penggunaan konsentrasi yang lebih tinggi guna memperoleh hasil yang lebih optimal dan efektif.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada identifikasi senyawa kimia aktif dalam ekstrak pepaya yang berperan utama dalam efek anthelmintik, seperti enzim papain atau alkaloid karpain, serta mekanisme kerjanya secara spesifik terhadap cacing Ascaris suum. Selain itu, perlu dilakukan studi perbandingan efektivitas ekstrak pepaya dengan obat anthelmintik sintetik yang umum digunakan, baik dalam hal kecepatan pembunuhan cacing maupun efek samping yang mungkin terjadi. Penelitian juga dapat mengeksplorasi potensi penggunaan ekstrak pepaya sebagai terapi kombinasi dengan obat lain untuk meningkatkan efektivitas pengobatan cacing usus, terutama di daerah dengan tingkat resistensi obat yang tinggi.

Read online
File size394.2 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test