POLTEKTIARABUNDAPOLTEKTIARABUNDA
Journal of Midwifery Tiara BundaJournal of Midwifery Tiara BundaPreeklamsia adalah sindrom kumulatif yang muncul pada ibu hamil dengan trias gejala: hipertensi, proteinuria, dengan atau tanpa edema. Namun, sebagian besar wanita tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang gejala-gejalanya, sehingga tindakan pencegahan sering terlambat dilakukan, yang dapat menyebabkan komplikasi serius. Oleh karena itu, preeklamsia merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor risiko preeklamsia pada ibu hamil. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan populasi ibu hamil yang mengalami preeklamsia, dan sampel sebanyak 24 orang diambil dengan consecutive sampling. Variabel independen meliputi usia, paritas, riwayat penyakit individu, riwayat keluarga, riwayat kunjungan ANC, penambahan berat badan, dan pendapatan keluarga. Variabel dependen adalah kejadian preeklamsia pada ibu hamil. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi p ≤ 0,05. Hasil menunjukkan ada hubungan signifikan antara preeklamsia dengan usia (p=0,019) dan riwayat penyakit individu (p=0,013), sedangkan faktor paritas (p=0,525), riwayat penyakit keluarga (p=0,558), riwayat kunjungan ANC (p=0,602), penambahan berat badan (p=0,646), dan pendapatan keluarga (p=0,206) tidak berhubungan signifikan dengan kejadian preeklamsia. Oleh karena itu, ibu hamil yang telah teridentifikasi berisiko harus rutin melakukan kunjungan ANC agar perkembangan kehamilan dapat dipantau. Tenaga kesehatan diharapkan memberikan perhatian khusus kepada ibu hamil yang memiliki faktor risiko preeklamsia.
Preeklamsia adalah sindrom kumulatif yang muncul pada ibu hamil dengan trias gejala.Namun, sebagian besar wanita tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang gejala-gejalanya, sehingga tindakan pencegahan sering terlambat dilakukan, yang dapat menyebabkan komplikasi serius.Oleh karena itu, preeklamsia merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor risiko preeklamsia pada ibu hamil.Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan populasi ibu hamil yang mengalami preeklamsia, dan sampel sebanyak 24 orang diambil dengan consecutive sampling.Variabel independen meliputi usia, paritas, riwayat penyakit individu, riwayat keluarga, riwayat kunjungan ANC, penambahan berat badan, dan pendapatan keluarga.Variabel dependen adalah kejadian preeklamsia pada ibu hamil.Data dianalisis menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi p ≤ 0,05.Hasil menunjukkan ada hubungan signifikan antara preeklamsia dengan usia (p=0,019) dan riwayat penyakit individu (p=0,013), sedangkan faktor paritas (p=0,525), riwayat penyakit keluarga (p=0,558), riwayat kunjungan ANC (p=0,602), penambahan berat badan (p=0,646), dan pendapatan keluarga (p=0,206) tidak berhubungan signifikan dengan kejadian preeklamsia.Oleh karena itu, ibu hamil yang telah teridentifikasi berisiko harus rutin melakukan kunjungan ANC agar perkembangan kehamilan dapat dipantau.Tenaga kesehatan diharapkan memberikan perhatian khusus kepada ibu hamil yang memiliki faktor risiko preeklamsia.Usia ibu saat hamil berhubungan signifikan dengan kejadian preeklamsia, di mana usia di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun meningkatkan risiko terjadinya preeklamsia di RSUD Khidmat Sehat Afiat.Penelitian lanjutan dapat mengkaji bagaimana interaksi antara faktor genetik dan gaya hidup memengaruhi risiko preeklamsia pada ibu hamil dengan usia ekstrem, apakah pola makan dan aktivitas fisik yang berbeda dapat mengurangi risiko preeklamsia pada ibu dengan riwayat penyakit individu meskipun tidak melakukan kunjungan ANC secara rutin, dan apakah pendidikan kesehatan berbasis komunitas yang ditargetkan pada ibu hamil dengan riwayat keluarga preeklamsia dapat meningkatkan kesadaran dan pencegahan dini, sehingga memperbaiki hasil kehamilan secara signifikan tanpa bergantung hanya pada faktor ekonomi atau akses layanan kesehatan.Pendapatan keluarga tidak berhubungan signifikan dengan kejadian preeklamsia, namun sikap positif ibu terhadap kesehatan dan kunjungan ANC yang teratur dapat menurunkan risiko preeklamsia meskipun pendapatan rendah.Preeklamsia adalah sindrom kumulatif yang muncul pada ibu hamil dengan trias gejala.Namun, sebagian besar wanita tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang gejala-gejalanya, sehingga tindakan pencegahan sering terlambat dilakukan, yang dapat menyebabkan komplikasi serius.Oleh karena itu, preeklamsia merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor risiko preeklamsia pada ibu hamil.Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan populasi ibu hamil yang mengalami preeklamsia, dan sampel sebanyak 24 orang diambil dengan consecutive sampling.Variabel independen meliputi usia, paritas, riwayat penyakit individu, riwayat keluarga, riwayat kunjungan ANC, penambahan berat badan, dan pendapatan keluarga.Variabel dependen adalah kejadian preeklamsia pada ibu hamil.Data dianalisis menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi p ≤ 0,05.Hasil menunjukkan ada hubungan signifikan antara preeklamsia dengan usia (p=0,019) dan riwayat penyakit individu (p=0,013), sedangkan faktor paritas (p=0,525), riwayat penyakit keluarga (p=0,558), riwayat kunjungan ANC (p=0,602), penambahan berat badan (p=0,646), dan pendapatan keluarga (p=0,206) tidak berhubungan signifikan dengan kejadian preeklamsia.Oleh karena itu, ibu hamil yang telah teridentifikasi berisiko harus rutin melakukan kunjungan ANC agar perkembangan kehamilan dapat dipantau.Tenaga kesehatan diharapkan memberikan perhatian khusus kepada ibu hamil yang memiliki faktor risiko preeklamsia.
Penelitian lanjutan dapat mengkaji bagaimana interaksi antara faktor genetik dan gaya hidup memengaruhi risiko preeklamsia pada ibu hamil dengan usia ekstrem, apakah pola makan dan aktivitas fisik yang berbeda dapat mengurangi risiko preeklamsia pada ibu dengan riwayat penyakit individu meskipun tidak melakukan kunjungan ANC secara rutin, dan apakah pendidikan kesehatan berbasis komunitas yang ditargetkan pada ibu hamil dengan riwayat keluarga preeklamsia dapat meningkatkan kesadaran dan pencegahan dini, sehingga memperbaiki hasil kehamilan secara signifikan tanpa bergantung hanya pada faktor ekonomi atau akses layanan kesehatan.
| File size | 281.98 KB |
| Pages | 8 |
| DMCA | Report |
Related /
POLTEKBAUBAUPOLTEKBAUBAU Metode penelitian pra-eksperimental one group pretest-posttest without control group design. Populasi dalam penelitian sebanyak 220 orang. Sampel 40 orangMetode penelitian pra-eksperimental one group pretest-posttest without control group design. Populasi dalam penelitian sebanyak 220 orang. Sampel 40 orang
POLTEKKES MKSPOLTEKKES MKS Kondisi ini 50 % terjadi pada ibu hamil, paling banyak terjadi pada primigravida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Terapi AcupressureKondisi ini 50 % terjadi pada ibu hamil, paling banyak terjadi pada primigravida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Terapi Acupressure
JURNALEMPATHYJURNALEMPATHY Penyuluhan disertai praktik langsung mampu menaikkan kesadaran masyarakat memakai masker. Dukungan APD gratis mempercepat perubahan perilaku pencegahanPenyuluhan disertai praktik langsung mampu menaikkan kesadaran masyarakat memakai masker. Dukungan APD gratis mempercepat perubahan perilaku pencegahan
JURNALEMPATHYJURNALEMPATHY Hasil: Pendidikan kesehatan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran dalam mengontrol tekanan darah, sementara terapi SEFT dapat menurunkan tekanan darahHasil: Pendidikan kesehatan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran dalam mengontrol tekanan darah, sementara terapi SEFT dapat menurunkan tekanan darah
JURNALEMPATHYJURNALEMPATHY Kesimpulan: Penyelesaian yang dapat dilakukan adalah memberikan bantuan dalam penyediaan pengetahuan, pemahaman, dan penerapan role‑play sehingga dapatKesimpulan: Penyelesaian yang dapat dilakukan adalah memberikan bantuan dalam penyediaan pengetahuan, pemahaman, dan penerapan role‑play sehingga dapat
JURNALEMPATHYJURNALEMPATHY Kegiatan dilaksanakan dalam 3 tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap implementasi, dan tahap evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan mengukur pengetahuan menggunakanKegiatan dilaksanakan dalam 3 tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap implementasi, dan tahap evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan mengukur pengetahuan menggunakan
JURNALEMPATHYJURNALEMPATHY Kesimpulan: Pengetahuan organisasi pemuda meningkat dan kegiatan ini memerlukan tindak lanjut, yaitu pemantauan perilaku masyarakat terkait pencegahanKesimpulan: Pengetahuan organisasi pemuda meningkat dan kegiatan ini memerlukan tindak lanjut, yaitu pemantauan perilaku masyarakat terkait pencegahan
JURNALEMPATHYJURNALEMPATHY Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test. Hasil: Peningkatan rata-rata jawaban benar antara 3–4 poin. Kesimpulan: Pendidikan kesehatan efektifEvaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test. Hasil: Peningkatan rata-rata jawaban benar antara 3–4 poin. Kesimpulan: Pendidikan kesehatan efektif
Useful /
PENERBITGOODWOODPENERBITGOODWOOD Dampak terhadap kesejahteraan masyarakat mencapai 72%, terutama melalui peningkatan infrastruktur dasar. Namun, tantangan masih ada dalam dokumentasi danDampak terhadap kesejahteraan masyarakat mencapai 72%, terutama melalui peningkatan infrastruktur dasar. Namun, tantangan masih ada dalam dokumentasi dan
UNSRATUNSRAT Lengan utara pulau Sulawesi merupakan salah satu bagian dari pulau Sulawesi yang sangat rentan terhadap gempa bumi. Tujuan penelitian ini adalah untukLengan utara pulau Sulawesi merupakan salah satu bagian dari pulau Sulawesi yang sangat rentan terhadap gempa bumi. Tujuan penelitian ini adalah untuk
UNSRATUNSRAT Skrining fitokimia menggunakan beberapa reagen yang disesuaikan dengan jenis uji fitokimia. Metode 1. 1 diphenyl-2-picrylhydracyl (DPPH) digunakan untukSkrining fitokimia menggunakan beberapa reagen yang disesuaikan dengan jenis uji fitokimia. Metode 1. 1 diphenyl-2-picrylhydracyl (DPPH) digunakan untuk
UNSRATUNSRAT 289 mm2/s, titik api 56℃, titik tuang 3℃. Berdasarkan peraturan Pemerintah Indonesia tentang spesifikasi bahan bakar diesel, sampel 2b adalah campuran289 mm2/s, titik api 56℃, titik tuang 3℃. Berdasarkan peraturan Pemerintah Indonesia tentang spesifikasi bahan bakar diesel, sampel 2b adalah campuran