YAMASIYAMASI

Jurnal Kesehatan Yamasi MakassarJurnal Kesehatan Yamasi Makassar

Ketersediaan obat yang memadai di Puskesmas merupakan indikator penting keberhasilan pengelolaan obat, yang dipengaruhi oleh pengetahuan petugas pengelola obat. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara pengetahuan petugas pengelola obat dengan ketersediaan obat di beberapa Puskesmas Kota Makassar. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, dilaksanakan pada 16-17 Mei 2025 di Puskesmas Paccerakkang, Mamajang, Pattingalloang, dan Mangasa yang dipilih melalui cluster random sampling, dengan teknik total sampling sehingga diperoleh 7 petugas pengelola obat sebagai responden. Data pengetahuan dikumpulkan menggunakan kuesioner 20 item (Cronbachs alpha 0,9675), sedangkan data ketersediaan obat diperoleh dari Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) tahun 2024 pada 40 item obat indikator. Uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk dan uji korelasi menggunakan Pearson. Hasil menunjukkan rata-rata pengetahuan petugas sebesar 90% (kategori baik), dengan 6 dari 7 responden berkategori baik dan 1 berkategori cukup. Ketersediaan obat bervariasi, yaitu 1 Puskesmas berkategori baik (69,87%) dan 3 Puskesmas berkategori cukup (rata-rata 46,29%). Uji korelasi Pearson menunjukkan koefisien -0,853 dengan signifikansi 0,147 (p>0,05), berarti tidak terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan petugas dengan ketersediaan obat. Disimpulkan bahwa ketersediaan obat di Puskesmas Kota Makassar lebih dipengaruhi oleh faktor lain seperti kebijakan pengadaan, distribusi, dan anggaran kesehatan, bukan semata-mata oleh pengetahuan petugas.

Tingkat pengetahuan petugas pengelola obat di Puskesmas Kota Makassar termasuk kategori baik dengan rata-rata persentase 90%, sedangkan tingkat ketersediaan obat menunjukkan hasil bervariasi dengan rata-rata kategori cukup.Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan nilai signifikansi 0,147 (p>0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan petugas pengelola obat dengan tingkat ketersediaan obat di Puskesmas Kota Makassar.Ketersediaan obat di Puskesmas lebih dipengaruhi oleh faktor sistemis lain seperti kebijakan pengadaan, distribusi, dan anggaran kesehatan.Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan model indikator lain yang menjadi faktor penentu ketersediaan obat di Puskesmas untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai determinan tingkat ketersediaan obat yang kurang optimal.

Untuk meningkatkan ketersediaan obat di Puskesmas, diperlukan penguatan sistem pengelolaan logistik obat melalui perencanaan kebutuhan yang akurat, pemantauan persediaan secara berkala, dan optimalisasi pencatatan dan pelaporan. Selain itu, peningkatan kompetensi petugas pengelola obat melalui pelatihan berkelanjutan juga penting untuk mempertahankan dan mengembangkan kemampuan dalam perencanaan, pengendalian persediaan, dan evaluasi penggunaan obat. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan variabel-variabel lain seperti ketepatan perencanaan kebutuhan, proses pengadaan, efisiensi distribusi, pemanfaatan sistem informasi logistik farmasi, kecukupan anggaran, dan kepatuhan terhadap prosedur pengelolaan obat. Penggunaan desain analitik multivariat dapat membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang paling dominan memengaruhi ketersediaan obat di Puskesmas.

Read online
File size427.72 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test