SEMARANGKOTASEMARANGKOTA

RIPTEKRIPTEK

Kota Semarang ditetapkan sebagai kota metropolitan kelima terbesar di Indonesia sekaligus sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah. Rata-rata investasi di Kota Semarang dari 2014 hingga 2019 meningkat 55% setiap tahun. Namun, pada 2020 Kota Semarang mengalami pertumbuhan ekonomi negatif hingga mencapai -1,61 akibat pandemi COVID-19. Hal ini menyebabkan target investasi tidak tercapai. Pemerintah Kota Semarang perlu fokus pada optimalisasi perizinan, tata kelola, sumber daya manusia, basis data, dan infrastruktur dasar untuk meningkatkan investasi. Selain itu, diperlukan iklim belajar kolaboratif dengan melibatkan masyarakat, rebranding kota, serta promosi investasi melalui studi lanjutan.

Kota Semarang perlu mengoptimalkan proyek strategis seperti Semarang Lama dan SORR untuk meningkatkan investasi.Peningkatan promosi investasi yang efektif, perizinan yang baik, dan infrastruktur yang memadai menjadi faktor penting.Pengembangan industri kreatif dan pemanfaatan teknologi informasi serta database juga diperlukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Pertama, penelitian lanjutan perlu mengkaji dampak pemulihan ekonomi pasca-pandemi terhadap pola investasi di Kota Semarang. Kedua, mengeksplorasi program literasi digital untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia sebagai daya tarik investor. Ketiga, mengevaluasi efektivitas model pembelajaran kolaboratif yang melibatkan masyarakat dalam pengembangan infrastruktur. Ketiga saran ini bertujuan memperkuat daya saing Kota Semarang melalui pendekatan berbasis teknologi, partisipasi masyarakat, dan adaptasi terhadap tantangan ekonomi global.

Read online
File size629.71 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test