STBISTBI

PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama KristenPASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen

Kelompok yang terpinggirkan sering kehilangan suara autentik dalam struktur kekuasaan dominan. Isu ini relevan dalam memahami representasi, kekuasaan, dan ketimpangan dalam berbagai konteks sosial, politik, dan budaya. Artikel ini berupaya untuk mengeksplorasi kompleksitas representasi dan identitas tokoh Ester melalui perspektif subaltern dan teologi pembebasan. Secara kritis meneliti pertanyaan yang diajukan oleh Gayatri Chakravorty Spivak, “Dapatkan subaltern berbicara? dengan menganalisis identitas ganda Ester sebagai subaltern dan non-subaltern. Menggunakan analisis tekstual, penelitian ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang bagaimana narasi tentang Ester menantang gagasan tradisional tentang kekuasaan, agensi, dan representasi. Hasil analisis menemukan bahwa suara Ester hanya dapat didengar ketika posisi Ester selaras secara status sosial dengan struktur otoritas yang dominan dalam konteks sosial-politik dalam pemerintahan.

Ester menempati posisi unik dalam narasi sebagai seorang subaltern dan non-subaltern (ratu), yang mempersulit representasi identitasnya.Pada saat dia mewujudkan perjuangan keselamatan dan kebebasan komunitas Yahudi dari ancaman pembantaian, status sosialnya di dalam kerajaan sebagai seorang ratu memberinya hak istimewa yang sesungguhnya tidak dapat diakses oleh subaltern.Pergeseran status Ester dari seorang non-subaltern menjadi subaltern menunjukkan bahwa posisi sebagai seorang subaltern tidak tidak memiliki suara (tidak dapat berbicara) terhadap pemerintahan dominan.Narasi menyiratkan bahwa subaltern hanya dapat “berbicara secara efektif ketika mereka mengadopsi bahasa dan strategi kekuatan dominan dalam pemerintahan.Kemampuan Ester untuk menavigasi struktur patriarki dan kekaisaran yang menindas rakyatnya menunjukkan bahwa menggunakan kebijaksanaan dan negosiasi privilese jauh lebih efektif daripada kekerasan dalam hal strategi memerangi ketidakadilan.Dibalik kisah perjuangan Ester untuk membebaskan umat-Nya, ada peran Allah yang tidak disebutkan secara eksplisit, namun terlihat melalui penyelenggaraan-Nya yang melibatkan serangkaian peristiwa penting.Meski umat-Nya tidak disebutkan secara langsung, kehadiran Allah nyata dalam membimbing sejarah dan menjaga perjanjian-Nya dengan Israel.

Berdasarkan analisis, penelitian lanjutan dapat berfokus pada implikasi etis dan tantangan yang dihadapi oleh individu-individu dalam posisi ganda seperti Ester. Bagaimana mereka dapat menjadi jembatan antara dunia subaltern dan non-subaltern, serta bagaimana mereka dapat memaksimalkan posisi istimewa mereka untuk mendorong perubahan sosial yang lebih luas. Selain itu, penelitian dapat mengeksplorasi lebih lanjut strategi-strategi resistensi dan pembebasan yang digunakan oleh kelompok-kelompok subaltern, termasuk analisis tentang efektivitas dan konsekuensi moral dari berbagai bentuk perlawanan dalam konteks kontemporer. Terakhir, penelitian dapat menyelidiki lebih dalam peran Allah dalam narasi Ester dan bagaimana konsep teologi pembebasan dapat diterapkan dalam konteks-konteks modern untuk mendorong perubahan sosial dan keadilan.

  1. The Complexity of Esther's Voice: Negotiating Subaltern or Privilese? | PASCA : Jurnal Teologi dan... doi.org/10.46494/psc.v20i2.373The Complexity of Esthers Voice Negotiating Subaltern or Privilese PASCA Jurnal Teologi dan doi 10 46494 psc v20i2 373
  2. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... jstor.org/stable/10.2307/j.ctv12fw86b.59Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site jstor stable 10 2307 j ctv12fw86b 59
Read online
File size874.46 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test