STT TAWANGMANGUSTT TAWANGMANGU

FIDEIFIDEI

Latar belakang artikel ini adalah kekudusan menjadi istilah yang dianggap absurd pada jaman postmodern karena sekularisasi di dunia membuat orang tidak lagi mementingkan kekudusan sebagai hal utama. Kekudusan mengalami degradasi makna yang pada mulanya sesuatu yang agung dan mulia dari Allah, berubah menjadi standar etika atau moralitas saja. Hal krusial di dalam penulisan artikel ini adalah apakah kekudusan manusia itu benar-benar tidak dapat dicapai? Apakah kekudusan itu hanya merupakan sebuah konsep ideal saja? Tujuannya adalah bagaimana orang percaya masa kini dapat menerapkan kekudusan itu dalam kehidupannya sehari-hari. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan etimologis dan eksposisi Alkitab terkait dengan kekudusan. Batasan pembahasannya adalah makna kekudusan di dalam Alkitab dan implikasinya bagi orang percaya pada masa postmodern saat ini. Hasil akhirnya ditemukan bahwa kunci kekudusan itu terwujud dalam keseimbangan relasi antara Tuhan dan sesama, menyadari bahwa kekudusan itu adalah anugerah, dan menjadikannya radar tentang hidup benar di hadapan Allah.

Postmodernisme memberikan nuansa warna kekudusan yang beragam karena standar yang digunakan adalah subyektifitas seseorang dan nilai spiritual seseorang tidak dapat menjadi patokan kekudusan yang dapat dipertanggungjawabkan.Fenomena para pelayan gereja, pendeta atau aktivis yang kemudian jatuh dalam pelanggaran moral seperti pelecehan seksual, eksploitasi sosial ekonomi, terjerat dalam jebakan bisnis pelayanan dan masih banyak hal lain yang dulunya merupakan sesuatu yang tabu tetapi sekarang semua menjadi begitu transparan dan biasa.Di situasi seperti ini, kebenaran orang-orang kudus dipertaruhkan untuk tetap dapat menjadi gaya hidup yang berbeda dari pada umumnya.Manusia pada masa kini perlu kembali meneguhkan iman mereka agar kembali menemukan radar atau pengingat bahwa dirinya sudah dikuduskan, ditebus dari hukuman dosa dan itu memberikan konsekwensi menjadi orang yang sungguh-sungguh kudus, bukan sekedar normatif tetapi sungguh mengaplikasikan apa yang diyakini dan memiliki dasar yang teguh dalam bersikap dan bertindak sebagai umat Tuhan yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan.Keberadaan manusia yang kudus di tengah situasi yang tidak kudus menjadikan kekudusan itu seperti terang yang dapat mengubah dunia menjadi baru dan sesuai apa yang Tuhan kehendaki.

1. Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi dampak spiritualitas digital terhadap pemahaman kekudusan di era postmodern, khususnya bagaimana platform online memengaruhi praktik ibadah dan kesadaran etis. 2. Studi lebih lanjut diperlukan untuk menganalisis peran komunitas gereja dalam mempertahankan nilai kekudusan, terutama dalam menghadapi tekanan sosial yang cenderung relativis. 3. Penelitian dapat mengkaji hubungan antara etika postmodern dan praksis kekudusan dalam konteks perubahan sosial, seperti isu-isu gender dan keadilan sosial, untuk mengevaluasi relevansi konsep kekudusan dalam masyarakat yang semakin kompleks.

  1. Kekudusan dalam Alkitab dan Nilai Praksisnya Bagi Orang Percaya Pada Masa Postmodern | Fidei: Jurnal... stt-tawangmangu.ac.id/e-journal/index.php/fidei/article/view/528Kekudusan dalam Alkitab dan Nilai Praksisnya Bagi Orang Percaya Pada Masa Postmodern Fidei Jurnal stt tawangmangu ac e journal index php fidei article view 528
Read online
File size232.56 KB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test