CHEM UPRCHEM UPR

Jurnal Ilmiah Kanderang TingangJurnal Ilmiah Kanderang Tingang

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan , serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dilakukan di Gampong Meunasah Meucat dan beberapa kampung sekitarnya di Kabupaten Aceh Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem sapaan dalam keluarga masyarakat Aceh Utara dikategorikan menjadi dua, yaitu berdasarkan garis keturunan dan hubungan perkawinan. Dari garis keturunan, ditemukan 31 bentuk sapaan, seperti Ama, Ayah, dan Apak untuk ayah kandung. Dari hubungan perkawinan, ditemukan 18 bentuk sapaan, seperti Temude dan Abang untuk suami kakak perempuan. Penggunaan sapaan ini dipengaruhi oleh faktor sosial dan situasional seperti usia, status sosial, tingkat keakraban, dan latar belakang budaya atau daerah asal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem sapaan dalam keluarga masyarakat Aceh Utara sangat kaya dan kompleks, mencerminkan nilai-nilai penghormatan dan kekerabatan yang dijunjung tinggi.

Bentuk sapaan dalam keluarga pada masyarakat Aceh Utara sangat beragam dan mencerminkan sistem kekerabatan yang kompleks.Sapaan tidak hanya dibedakan berdasarkan hubungan darah langsung, tetapi juga berdasarkan garis keturunan (ayah atau ibu), usia, jenis kelamin, serta kedudukan seseorang dalam struktur keluarga.Bentuk sapaan tersebut meliputi sapaan untuk orang tua, kakek-nenek, paman, bibi, kakak, adik, hingga kerabat melalui hubungan perkawinan.Sapaan yang digunakan dapat berupa bentuk leksikal asli bahasa Aceh, gabungan sapaan dengan nama diri, serta variasi dialektal yang berkembang dalam masyarakat Aceh Utara.Sapaan berfungsi sebagai bentuk penghormatan, keakraban, serta penanda hierarki dalam keluarga.Pemilihan sapaan sangat memperhatikan situasi tutur, hubungan antara penutur dan mitra tutur, serta konteks formal dan informal.Dalam praktiknya, penggunaan sapaan tidak bersifat bebas, melainkan terikat oleh adat dan kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun.Hal ini menunjukkan bahwa sapaan tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana pelestarian nilai budaya dan identitas masyarakat Aceh Utara.

Untuk menjaga kelestarian sistem sapaan dalam keluarga masyarakat Aceh Utara, diperlukan kesadaran dari generasi muda serta dukungan dari pemerintah dan lembaga pendidikan. Pengintegrasian materi kebahasaan dalam kurikulum dan kegiatan pelestarian budaya dapat menjadi langkah strategis dalam upaya ini. Selain itu, penelitian lanjutan dapat dilakukan untuk mengeksplorasi lebih lanjut variasi dan makna sapaan dalam konteks sosial dan budaya Aceh Utara, serta pengaruhnya terhadap interaksi dan hubungan kekerabatan dalam masyarakat.

  1. Analisis Penggunaan Sapaan dalam Bahasa Mandar pada Masyarakat Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi... e-journal.my.id/onoma/article/view/4047Analisis Penggunaan Sapaan dalam Bahasa Mandar pada Masyarakat Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi e journal my onoma article view 4047
  2. PENGGUNAAN SAPAAN KEKERABATAN BAHASA ACEH DALAM TUTURAN MASYARAKAT KABUPATEN ACEH UTARA | Kande : Jurnal... ojs.unimal.ac.id/kande/article/view/4686PENGGUNAAN SAPAAN KEKERABATAN BAHASA ACEH DALAM TUTURAN MASYARAKAT KABUPATEN ACEH UTARA Kande Jurnal ojs unimal ac kande article view 4686
Read online
File size194.22 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test