UINMADURAUINMADURA

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia: GhancaranJurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia: Ghancaran

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya pengetahuan masyarakat di desa-desa di Kecamatan Larangan tentang sejarah dan alasan di balik penamaan wilayah tempat tinggal mereka. Warga di wilayah tersebut umumnya hanya mengetahui nama desa mereka, namun tidak memahami sejarah atau asal-usul dari penamaan. Dengan adanya hal itu, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan menguraikan ekologi toponimi dari tiga perspektif, yaitu aspek perwujudan, aspek kemasyarakatan, dan aspek kebudayaan. Penelitian yang digunakan metode deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini mengungkapkan ekologi toponimi berdasarkan pengaruh lingkungan dalam penamaan desa-desa di Kecamatan Larangan. Ada tiga desa, yaitu Desa Montok, Desa Trasak, dan Desa Peltong, yang termasuk dalam kategori aspek perwujudan. Desa Panaguan dan Desa Duko tergolong dalam aspek toponimi kemasyarakatan, sementara Desa Kaduara Barat, Desa Taraban, dan Desa Grujugan masuk dalam aspek toponimi kebudayaan.

Manusia dan alam merupakan dua entitas yang saling berkaitan dan memiliki hubungan timbal balik.Interaksi antara keduanya menciptakan manfaat dan risiko yang saling memengaruhi.Hasil penelitian mengenai ekologi toponimi di Kecamatan Larangan menunjukkan adanya pengaruh lingkungan terhadap penamaan desa-desa di wilayah tersebut.Berdasarkan aspek toponimi, tiga kategori utama dapat diidentifikasi.aspek perwujudan, aspek kemasyarakatan, dan aspek kebudayaan.Penamaan desa-desa di Kecamatan Larangan bukanlah sekadar identitas geografis, melainkan juga representasi hubungan manusia dengan lingkungan, masyarakat, dan warisan budaya mereka.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan program pendidikan lokal yang mengintegrasikan sejarah toponimi sebagai bagian dari kurikulum sekolah dasar dan menengah di Kecamatan Larangan. Hal ini dapat meningkatkan kesadaran generasi muda tentang makna dan nilai budaya yang terkandung dalam nama desa mereka. Selain itu, pembuatan platform digital interaktif berbasis komunitas, seperti aplikasi atau website, dapat digunakan untuk menyimpan dan membagikan kisah sejarah penamaan desa, sehingga memudahkan masyarakat akses informasi secara mandiri. Terakhir, kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan tokoh adat dapat dilakukan untuk mengumpulkan dan mendokumentasikan kisah-kisah lisan serta tradisi lokal yang terkait dengan toponimi, sebagai upaya pelestarian warisan budaya yang relevan dengan konteks ekologi dan sosial masyarakat setempat.

Read online
File size316.73 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test