UNIMUDASORONGUNIMUDASORONG

FRASA: Jurnal Keilmuan, Bahasa, Sastra, dan PengajarannyaFRASA: Jurnal Keilmuan, Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya

Penelitian ini berangkat dari upaya memahami bagaimana bahasa tidak selalu mampu menampung pengalaman batin, khususnya dalam situasi traumatis seperti perang. Fokus kajian ini adalah melihat bagaimana kegagalan bahasa simbolik sekaligus membentuk subjektivitas yang terluka dalam novel Perang karya Rama Wirawan. Dengan memanfaatkan perspektif pascastrukturalisme Julia Kristeva, analisis diarahkan pada relasi antara dimensi simbolik dan semiotik, konsep abjeksi, serta gagasan subjek dalam proses. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengalaman trauma perang membuat bahasa simbolik kehilangan daya representasinya; apa yang dialami tokoh tidak lagi sepenuhnya bisa diungkapkan melalui bahasa yang terstruktur. Dalam kondisi ini, muncul luapan semiotik berupa emosi, ritme, dan ekspresi yang terasa “tidak selesai secara bahasa. Dampaknya, tokoh tidak hanya mengalami konflik batin, tetapi juga keterasingan terhadap dirinya sendiri, yang kemudian membentuk subjektivitas yang terluka identitas yang tidak utuh dan terus berhadapan dengan ingatan traumatis.

Berdasarkan analisis terhadap 15 data dalam novel Perang karya Rama Wirawan, dapat dilihat bahwa bahasa simbolik memiliki keterbatasan ketika berhadapan dengan pengalaman kekerasan dan trauma yang intens.Dalam situasi tersebut, bahasa tidak lagi mampu sepenuhnya menampung apa yang dialami tokoh.Akibatnya, yang muncul bukan hanya kesulitan berkomunikasi, tetapi juga perubahan dalam cara tokoh memahami dirinya sendiri.Struktur simbolik yang biasanya membantu menjaga keteraturan makna dan identitas menjadi goyah, sehingga membuka ruang bagi munculnya ekspresi yang lebih emosional dan tidak terstruktur.Kondisi ini berkontribusi pada terbentuknya subjektivitas yang terluka, di mana tokoh mulai melihat dirinya secara terpisah, bahkan sebagai sesuatu yang asing bagi dirinya sendiri.

Penelitian lanjutan bisa mengkaji karya sastra lain dengan tema trauma perang untuk melihat apakah pola kegagalan bahasa simbolik dan bentuk ekspresi semiotik serupa terjadi. Selain itu, peneliti dapat mengeksplorasi konteks trauma non-perang, seperti bencana alam atau kekerasan domestik, untuk membandingkan respons bahasa dan subjektivitas tokoh. Terakhir, studi bisa diperluas ke medium non-literatur, seperti film atau seni visual, untuk melihat bagaimana ekspresi trauma yang tidak terstruktur muncul melalui alat komunikasi yang berbeda.

  1. Membaca Intertekstualitas pada Hasil Renovasi Stasiun Jatinegara Jakarta | RUAS. membaca hasil renovasi... ruas.ub.ac.id/index.php/ruas/article/view/2063Membaca Intertekstualitas pada Hasil Renovasi Stasiun Jatinegara Jakarta RUAS membaca hasil renovasi ruas ub ac index php ruas article view 2063
Read online
File size284.26 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test