PERADABANPUBLISHINGPERADABANPUBLISHING

Peradaban Journal of Religion and SocietyPeradaban Journal of Religion and Society

Resolusi konflik yang berkelanjutan dalam masyarakat multikultural tidak hanya memerlukan mekanisme yang efektif untuk mengelola ketegangan sosial, tetapi juga transformasi moral yang mampu memulihkan hubungan antarmanusia yang retak. Meskipun pendekatan sosiologis dan teologis terhadap rekonsiliasi telah banyak dikaji, integrasi keduanya masih jarang dibahas, khususnya dalam konteks Maluku pascakonflik. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara teori safety valve Lewis Coser dan teologi rekonsiliasi Paus Fransiskus serta mengkaji relevansinya bagi resolusi konflik di Maluku pascakonflik. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kepustakaan kualitatif dengan pendekatan analisis konseptual. Sumber utama penelitian meliputi karya-karya Lewis Coser tentang teori konflik dan ensiklik Fratelli Tutti karya Paus Fransiskus, yang didukung oleh berbagai publikasi ilmiah mengenai resolusi konflik dan konflik komunal di Maluku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme safety valve, seperti dialog, lembaga adat, serta kepemimpinan tokoh agama dan tokoh adat, berperan penting dalam mencegah eskalasi konflik komunal. Namun, perdamaian yang berkelanjutan tidak dapat dicapai hanya melalui pengelolaan konflik secara institusional. Penekanan Paus Fransiskus pada kasih, pengampunan, keadilan, dan persaudaraan melengkapi perspektif sosiologis Lewis Coser dengan menyediakan landasan moral bagi rekonsiliasi yang berkelanjutan. Penelitian ini menawarkan suatu kerangka konseptual sosio-religius yang mengintegrasikan pengelolaan konflik secara struktural dengan rekonsiliasi moral sebagai kontribusi konseptual bagi kajian resolusi konflik dan pembangunan perdamaian dalam masyarakat multikultural.

The analysis demonstrates that sustainable conflict resolution cannot rely solely on institutional mechanisms for managing social tensions or exclusively on moral appeals for reconciliation.Rather, lasting peace requires the integration of structural and moral dimensions of conflict transformation.In the context of Maluku, indigenous traditions such as pela-gandong, together with dialogue and the leadership of customary and religious authorities, function as effective safety valves that prevent the escalation of conflict and facilitate social reconciliation.Nevertheless, these mechanisms alone are insufficient to heal the emotional and spiritual wounds left by communal violence.Genuine reconciliation also requires personal transformation through love, forgiveness, and justice, as emphasized by Pope Francis in Fratelli Tutti.The findings further indicate that Lewis Cosers conflict theory and Pope Francis theology of reconciliation are complementary rather than competing approaches to conflict resolution.Cosers theory explains how institutional and social mechanisms channel conflict constructively, whereas Pope Francis provides the ethical and spiritual foundations necessary for restoring broken relationships and preventing the recurrence of violence.The integration of these perspectives constitutes the principal contribution of this study by proposing a socio-religious conceptual framework in which institutional conflict management and moral reconciliation operate as interconnected dimensions of sustainable peacebuilding.The case of post-conflict Maluku illustrates that the restoration of social harmony depends not only on dialogue and political agreements but also on the willingness of individuals and communities to cultivate fraternity, forgiveness, and justice.Although this study is grounded in the post-conflict experience of Maluku, the proposed conceptual framework has broader relevance for multicultural societies facing identity-based and communal conflicts.By integrating sociological and theological perspectives, this study contributes to interdisciplinary discussions on conflict resolution and peacebuilding while offering an analytical framework that may inform future peace initiatives in similarly diverse contexts.As a conceptual study based on library research, however, its findings remain theoretical in nature.Future research is therefore encouraged to examine the applicability of this framework through empirical studies in Maluku and other post-conflict societies to evaluate its practical effectiveness and contextual adaptability.

Berdasarkan hasil penelitian, berikut adalah saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan:. . 1. Mengembangkan studi empiris yang menyelidiki bagaimana mekanisme safety valve, seperti dialog, lembaga adat, dan kepemimpinan tokoh agama, dapat diterapkan secara efektif dalam konteks Maluku pascakonflik untuk mencegah eskalasi konflik dan memfasilitasi rekonsiliasi sosial. Penelitian ini dapat mencakup analisis mendalam tentang tantangan dan peluang yang dihadapi dalam menerapkan pendekatan ini, serta strategi konkret untuk meningkatkan efektivitasnya.. . 2. Melakukan penelitian kualitatif yang berfokus pada pengalaman pribadi individu dalam proses rekonsiliasi pasca-konflik di Maluku. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana konsep-konsep seperti kasih, pengampunan, dan keadilan yang ditekankan oleh Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti, berdampak pada kehidupan sehari-hari orang-orang yang terlibat dalam konflik. Dengan memahami pengalaman pribadi ini, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mempromosikan rekonsiliasi yang tahan lama.. . 3. Menganalisis secara komprehensif peran agama dalam mempromosikan perdamaian dan rekonsiliasi di Maluku. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana agama, khususnya Islam dan Kristen, dapat menjadi katalisator untuk membangun persaudaraan, toleransi, dan pemahaman antar-kelompok. Dengan memahami dinamika agama dalam konteks ini, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih inklusif dan sensitif secara budaya untuk membangun perdamaian yang berkelanjutan.. . Dengan menggabungkan saran-saran ini, penelitian lanjutan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam memahami dan mempromosikan resolusi konflik dan pembangunan perdamaian di masyarakat multikultural, khususnya dalam konteks Maluku pascakonflik.

  1. Identifikasi Konflik di Indonesia: Studi Terhadap Kondisi dan Pemicu Tindakan Kekerasan di Timor Timur... doi.org/10.57251/ici.v2i1.454Identifikasi Konflik di Indonesia Studi Terhadap Kondisi dan Pemicu Tindakan Kekerasan di Timor Timur doi 10 57251 ici v2i1 454
  2. Mediating reconciliation with God: Exploring divine forgiveness experiences during confession among Catholic... doi.org/10.1371/journal.pone.0347608Mediating reconciliation with God Exploring divine forgiveness experiences during confession among Catholic doi 10 1371 journal pone 0347608
  3. Perbedaan aliran dalam Islam sebagai konflik hubungan pernikahan dalam perspektif Lewis A. Coser | Jurnal... journal3.um.ac.id/index.php/fis/article/view/286Perbedaan aliran dalam Islam sebagai konflik hubungan pernikahan dalam perspektif Lewis A Coser Jurnal journal3 um ac index php fis article view 286
  4. Mediating reconciliation with God: Exploring divine forgiveness experiences during confession among Catholic... journals.plos.org/plosone/doi?id=10.1371/journal.pone.0347608Mediating reconciliation with God Exploring divine forgiveness experiences during confession among Catholic journals plos plosone doi id 10 1371 journal pone 0347608
  5. Coping with religious-based segregation and discrimination: Efforts in an Indonesian context | Iwamony... doi.org/10.4102/hts.v76i4.6071Coping with religious based segregation and discrimination Efforts in an Indonesian context Iwamony doi 10 4102 hts v76i4 6071
Read online
File size540.26 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test