MALAHAYATIMALAHAYATI

Jurnal Dunia KesmasJurnal Dunia Kesmas

Puskesmas Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, yang membawahi 12 puskesmas pembantu, melayani wilayah seluas 30,226 km² dengan jumlah penduduk 464.236 jiwa. Kepadatan penduduk yang tinggi meningkatkan risiko penyakit, seperti Demam Berdarah Dengue (DBD). Menghadapi ancaman ini, Puskesmas Kalideres secara rutin melaksanakan program Grebek Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui pendekatan 3M dan fogging sebagai upaya pencegahan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyakit DBD di wilayah Kecamatan Kalideres dan strategi pencegahan dan pengendalian DBD oleh Puskesmas Kecamatan Kalideres.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit akut akibat infeksi virus dengue.Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan 3M (menutup, menguras, menimbun) dan pengobatan penyakit ini bersifat suportif untuk meringankan gejala.Data penelitian menunjukkan bahwa jumlah kasus DBD lebih dominan pada laki-laki, yaitu sebanyak 144 orang.Selain itu, individu dengan kategori usia 19-59 tahun menjadi penderita DBD terbanyak dengan jumlah 151 kasus dan diikuti oleh kategori usia remaja yaitu 10-18 tahun sebanyak 69 kasus, dimana kalangan usia dewasa lebih rentan terpapar karena pola kerja dan aktivitas yang dilakukan.Berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi (PE) di Kecamatan kalideres, kasus DBD dengan hasil PE ( ) sebanyak 60 kasus dan hasil PE (-) adalah 186 kasus.Dengan demikian, kasus yang perlu dilakukan fogging adalah 60 kasus.Program Grebek PSN dan fogging berperan penting dalam menekan kasus DBD di Kecamatan Kalideres, namun efektivitasnya masih perlu ditingkatkan melalui peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai lokasi-lokasi rawan jentik yang harus diperiksa saat pelaksanaan PSN.Selain itu, diperlukan kolaborasi antar puskesmas agar cakupan wilayah lebih luas, keterlibatan masyarakat lebih merata, dan angka bebas jentik dapat meningkat sehingga penularan DBD dapat ditekan secara optimal.

Untuk meningkatkan efektivitas program pencegahan dan pengendalian DBD, perlu dilakukan peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai lokasi-lokasi rawan jentik. Selain itu, kolaborasi antar puskesmas dan lintas sektor terkait dapat memperluas cakupan wilayah dan meningkatkan keterlibatan masyarakat secara merata. Dengan demikian, angka bebas jentik dapat meningkat dan penularan DBD dapat ditekan secara optimal. Selain itu, penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan strategi edukasi dan kampanye yang efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya penyakit DBD dan pentingnya pencegahan. Penelitian juga dapat mengeksplorasi faktor-faktor lingkungan dan iklim yang mempengaruhi prevalensi DBD, serta mengidentifikasi strategi intervensi yang tepat untuk mengurangi risiko penularan.

Read online
File size692.31 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test