STIKESALMAARIFSTIKESALMAARIF

Cendekia Medika: Jurnal Stikes Al-Ma`arif BaturajaCendekia Medika: Jurnal Stikes Al-Ma`arif Baturaja

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada balita di negara berkembang, termasuk Indonesia. Kelompok balita sangat rentan terhadap ISPA karena sistem imun dan saluran pernapasannya belum berkembang sempurna. Salah satu faktor lingkungan yang signifikan namun kerap diabaikan adalah kebiasaan merokok orang tua di dalam rumah. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok orang tua dengan kejadian ISPA pada balita. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional dengan melibatkan 30 orang tua yang memiliki Balita di RT 03 RW 02 Kelurahan Sukaraya, wilayah kerja UPTD Puskesmas Sukaraya. Teknik total sampling digunakan untuk memperoleh sampel secara menyeluruh. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan instrumen checklist terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 17 orang tua yang merokok, 47,1% balita mengalami ISPA. Sebaliknya, dari 13 orang tua yang tidak merokok, hanya 7,7% balita mengalami ISPA. Uji statistik menunjukkan nilai p = 0,042 (p< 0,05), yang menandakan adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok orang tua dan kejadian ISPA pada balita. Temuan ini menegaskan pentingnya edukasi dan intervensi kesehatan keluarga, terutama dalam mengurangi paparan asap rokok di rumah sebagai upaya pencegahan ISPA dan perlindungan kesehatan balita secara berkelanjutan.

Adanya hubungan signifikan antara kebiasaan merokok orang tua dengan kejadian ISPA pada Balita.Balita yang tinggal serumah dengan orang tua perokok terbukti memiliki risiko lebih besar mengalami ISPA dibandingkan balita yang hidup di lingkungan bebas asap rokok.Paparan asap rokok dalam rumah tangga merupakan salah satu faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap tingginya kasus kejadian ISPA pada Balita.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada dampak jangka panjang paparan asap rokok terhadap fungsi paru-paru balita. Selain itu, perlu dilakukan studi tentang efektivitas program edukasi kesehatan keluarga dalam mengurangi kebiasaan merokok di lingkungan rumah. Penelitian lain bisa mengeksplorasi peran faktor sosial ekonomi dalam memengaruhi kebiasaan merokok orang tua dan risiko ISPA pada balita. Kombinasi antara intervensi kebijakan dan pendekatan edukasi perlu diuji untuk menemukan strategi optimal dalam mencegah ISPA. Penelitian juga bisa membandingkan tingkat paparan asap rokok di berbagai wilayah dengan kondisi lingkungan berbeda. Penting juga untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan bebas asap rokok di lingkungan sekolah dan tempat umum terhadap kesehatan anak. Penelitian tentang pengaruh paparan asap rokok selama masa kehamilan terhadap risiko ISPA pada bayi baru lahir juga layak dikaji. Selain itu, perlu dilakukan penelitian tentang peran komunitas dalam mempromosikan lingkungan bebas asap rokok. Studi tentang hubungan antara kebiasaan merokok orang tua dan kejadian penyakit pernapasan kronis pada anak juga bisa menjadi arah penelitian lanjutan. Terakhir, penelitian yang menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif untuk memahami dinamika perilaku merokok dalam keluarga dapat memberikan wawasan lebih mendalam.

Read online
File size290.67 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test