UNIKUUNIKU

Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra IndonesiaFon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kejahatan berbahasa berdampak hukum pada tindak tutur ilokusi ekspresif bentuk penghinaan, fitnah, dan makian. Ditemukan dalam penelitian berupa kejahatan berbahasa berdampak hukum pada tindak tutur ilokusi ekspresif bentuk penghinaan, fitnah, dan makian. Pertama, Bentuk-bentuk ilokusi penghinaan yang dilakukan oleh pengguna media sosial pada masa pra dan pasca pemilihan Walikota Makassar 2020 ditemukan bebarapa bentuk ilokusi tindak tutur ekspresif penghinaan yaitu omong kosong, omong doang, pakai otak, bohong, iqnya rendah, mempermalukan diri sendiri, otak kosong, tong kosong nyaring bunyinya, banyak ballena, ular berkepala dua, dan seribu wajah. Kedua, Bentuk-bentuk ilokusi fitnah yang dilakukan pengguna sosial media pada masa pra dan pasca pemilihan Walikota Makassar 2020 ditemukan bebarapa bentuk ilokusi tindak tutur ekspresif fitnah yaitu, tidak ada sekali sama sekali kinerja yang diberikan, melakukan korupsi, melakukan kecuangan, calon koruptor, menjadi provokator, melakukan kelicikan, dan mendapatkan bantuan. Ketiga, Bentuk-bentuk ilokusi fitnah dilakukan oleh pengguna media sosial pada masa pra dan pasca pemilihan Walikota Makassar 2020 ditemukan bebarapa bentuk ilokusi tindak tutur ekspresif makian yaitu, telaso, sundala, tidak punya rasa malu, munafik, calon ahli neraka, balao, rakus harta, bau tanah, mulut comberan, kongkong, dan tolo-tolo.

Ditemukan kejahatan berbahasa berdampak hukum pada tindak tutur ilokusi ekspresif bentuk penghinaan, fitnah, dan makian.Pertama, Bentuk-bentuk ilokusi penghinaan yang terjadi di media sosial pada masa pra dan pasca pemilihan Walikota Makassar 2020 ditemukan bebarapa bentuk ilokusi tindak tutur ekspresif penghinaan yaitu omong kosong, omong doang, pakai otak,bohong, iqnya rendah, mempermalukan diri sendiri, otak kosong, tong kosong nyaring bunyinya, banyak ballena, ular berkepala dua, dan seribu wajah.Kedua, Bentuk-bentuk ilokusi fitnah yang terjadi di media sosial pada masa pra dan pasca pemilihan Walikota Makassar 2020 ditemukan bebarapa bentuk ilokusi tindak tutur ekspresif fitnah yaitu, tidak ada sekali sama sekali kinerja yang diberikan, melakukan korupsi, melakukan kecuangan, calon koruptor, menjadi provokator, melakukan kelicikan, dan mendapatkan bantuan.Ketiga, Bentuk-bentuk ilokusi fitnah yang terjadi di media sosial pada masa pra dan pasca pemilihan Walikota Makassar 2020 ditemukan bebarapa bentuk ilokusi tindak tutur ekspresif makian yaitu, telaso, sundala, tidak punya rasa malu, munafik, calon ahli neraka, balao, rakus harta, bau tanah, mulut comberan, kongkong, dan tolo-tolo.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk melakukan studi lebih lanjut tentang dampak kejahatan berbahasa di media sosial terhadap masyarakat, khususnya dalam konteks politik dan pemilihan kepala daerah. Selain itu, penelitian lanjutan dapat berfokus pada analisis linguistik forensik yang lebih mendalam, termasuk analisis semantik dan pragmatik, untuk memahami cara-cara dan strategi yang digunakan dalam kejahatan berbahasa. Terakhir, penelitian dapat mengeksplorasi peran dan tanggung jawab platform media sosial dalam mencegah dan menangani kejahatan berbahasa, serta strategi edukasi dan pencegahan yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak negatif dari kejahatan berbahasa di media sosial.

Read online
File size228.19 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test