IAINIAIN

Journal Of Biology EducationJournal Of Biology Education

Penelitian ini merupakan studi komparatif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian difokuskan pada populasi tanaman Bandotan di wilayah Kudus dan Jepara, dengan mengekstraksi daun serta mengecualikan batang, akar, dan bunga. Ekstraksi dilakukan dengan metode macerasi dan Soxhlet menggunakan pelarut etanol 96%. Untuk menentukan kadar total flavonoid pada ekstrak daun Ageratum conyzoides, metode spektrofotometri UV-Vis digunakan. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak daun Ageratum conyzoides yang diperoleh melalui metode Soxhlet memiliki kadar total flavonoid lebih tinggi (0,32% b/v) dibandingkan metode macerasi (0,22% b/v). Analisis data total flavonoid menggunakan uji Mann‑Whitney U menghasilkan nilai Asymp. Sig. (dua sisi) sebesar 0,102 (>0,05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara metode macerasi dan Soxhlet dalam hal total flavonoid pada ekstrak Ageratum conyzoides, meskipun persentase flavonoid total pada ekstrak Soxhlet lebih tinggi dibandingkan macerasi.

Analisis spektrofotometri UV‑Vis menunjukkan bahwa ekstrak daun Ageratum conyzoides yang diperoleh dengan metode Soxhlet menghasilkan kadar total flavonoid lebih tinggi (0,32% b/v) dibandingkan metode macerasi (0,22% b/v), namun uji Mann‑Whitney U memberikan nilai signifikansi 0,102 (>0,05) sehingga perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik.Meskipun tidak signifikan, peningkatan kadar flavonoid pada ekstrak Soxhlet kemungkinan disebabkan oleh jumlah siklus ekstraksi yang lebih banyak serta suhu yang lebih tinggi, yang dapat meningkatkan kelarutan senyawa flavonoid.Oleh karena itu, dalam penerapan metode ekstraksi panas seperti Soxhlet, perlu dioptimalkan suhu dan durasi ekstraksi untuk memperoleh hasil yang optimal.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji (1) bagaimana variasi suhu (misalnya 40‑80 °C) dan durasi ekstraksi (misalnya 30‑180 menit) pada metode Soxhlet mempengaruhi kadar total flavonoid serta aktivitas antioksidan ekstrak Ageratum conyzoides, sehingga dapat ditentukan kondisi optimal untuk ekstraksi panas; (2) perbandingan efisiensi pelarut alternatif seperti metanol, air, atau campuran etanol‑air dalam mengekstrak flavonoid dari daun Bandotan, untuk menilai pengaruh polaritas pelarut terhadap hasil ekstrak dan kualitas senyawa aktif; (3) hubungan antara kandungan flavonoid dan aktivitas biologis (seperti antiinflamasi, antimikroba, atau antikanker) pada ekstrak yang dihasilkan dari tanaman yang tumbuh di berbagai ketinggian atau kondisi ekologi, guna memahami pengaruh faktor lingkungan terhadap kualitas fitokimia; serta (4) skala produksi ekstrak dengan mempertimbangkan aspek ekonomi dan keberlanjutan, sehingga hasil penelitian dapat diaplikasikan dalam pengembangan produk farmasi atau nutraceutical berbasis Ageratum conyzoides. Dengan mengintegrasikan fokus‑fokus tersebut, penelitian selanjutnya dapat memberikan pedoman praktis untuk optimasi proses ekstraksi dan pemanfaatan maksimal senyawa flavonoid.

  1. PENGARUH METODE EKSTRAKSI PANAS TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULIT BAWANG MERAH (Allium cepa... doi.org/10.33024/jikk.v9i1.5830PENGARUH METODE EKSTRAKSI PANAS TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULIT BAWANG MERAH Allium cepa doi 10 33024 jikk v9i1 5830
  2. Isolation, Identification, and Antioxidant Activity of Flavonoid Compounds in the Ethanol Extract in... ejournal.undip.ac.id/index.php/ksa/article/view/53056Isolation Identification and Antioxidant Activity of Flavonoid Compounds in the Ethanol Extract in ejournal undip ac index php ksa article view 53056
Read online
File size185.74 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test