USKUSK

Cakradonya Dental JournalCakradonya Dental Journal

Orang tua, khususnya ibu, memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan menjaga kesehatan mulut pada anak-anak mereka dengan mengajarkan perilaku hidup sehat. Ibu memiliki tanggung jawab besar terhadap kesehatan gigi dan mulut anak, karena ibu adalah pengasuh utama sejak anak lahir. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi dan indeks karies pada anak-anak mereka. Metode yang digunakan adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional untuk mengamati hubungan antara kesehatan mulut ibu dan anak berusia 2 hingga 5 tahun. Kelompok ibu-anak dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kasus (populasi dengan karies) dan kelompok kontrol (populasi tanpa karies). Persetujuan informed consent diberikan sebagai tanda kesediaan untuk berpartisipasi dalam penelitian, yang meliputi komunikasi dan pertukaran informasi antara peneliti dan ibu sebagai responden. Indeks DMF-T digunakan untuk menilai status karies pada ibu, sedangkan indeks def-t digunakan untuk anak-anak. Data dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi berpengaruh signifikan terhadap kondisi kesehatan gigi anak. Tingginya angka def-t pada anak berkorelasi dengan tingginya angka DMF-T pada ibu. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian karies pada diri mereka sendiri dan anak-anak mereka.

Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat korelasi antara tingkat pengetahuan ibu dan status karies ibu dengan status karies gigi anak balita usia 2-5 tahun di TK Melati, Buduran, Sidoarjo.Angka def-t yang tinggi pada balita berbanding lurus dengan angka DMF-T pada ibu.Tingkat pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi berpengaruh terhadap kondisi gigi balita.

Melihat hasil penelitian ini, ada beberapa arah menarik untuk studi selanjutnya yang bisa membantu kita lebih baik memahami dan mengatasi masalah karies gigi pada balita. Pertama, penelitian lanjutan dapat fokus pada efektivitas berbagai jenis intervensi edukasi kesehatan gigi. Misalnya, kita bisa membandingkan apakah pemberian informasi melalui lokakarya interaktif yang melibatkan praktik langsung lebih efektif dalam mengubah kebiasaan ibu dan anak, dibandingkan dengan metode edukasi tradisional seperti penyuluhan satu arah. Tujuannya adalah untuk menemukan cara paling jitu agar pengetahuan ibu benar-benar diterapkan dalam menjaga kebersihan gigi anak sehari-hari, bukan hanya sekadar tahu. Kedua, karena penelitian ini hanya mengambil data pada satu waktu, studi jangka panjang (longitudinal) akan sangat bermanfaat. Dengan mengikuti pasangan ibu dan anak selama beberapa tahun, peneliti dapat melihat bagaimana perubahan pengetahuan atau kebiasaan ibu dari waktu ke waktu memengaruhi perkembangan karies gigi pada anak mereka. Ini akan membantu kita memahami kapan waktu terbaik untuk memberikan dukungan dan intervensi, serta lebih jelas melihat hubungan sebab-akibat antara kondisi gigi ibu dan anak. Terakhir, mengingat peran besar ibu yang disorot, penelitian bisa diperluas untuk mengkaji pengaruh faktor-faktor keluarga atau lingkungan yang lebih luas. Misalnya, bagaimana peran ayah atau anggota keluarga lain dalam membentuk kebiasaan kesehatan gigi anak? Atau, bagaimana ketersediaan layanan kesehatan gigi yang mudah dijangkau dan terjangkau di suatu komunitas memengaruhi tingkat karies pada balita? Dengan begitu, kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang semua hal yang memengaruhi kesehatan gigi balita dan merancang program pencegahan yang lebih menyeluruh.

Read online
File size700.85 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test