STAIRAYASTAIRAYA

Al-Bustan: Jurnal Studi Islam dan Sosial KeagamaanAl-Bustan: Jurnal Studi Islam dan Sosial Keagamaan

Penelitian ini mengkaji pedagogi politik Kiai Wahab Hasbullah yang menegaskan keselarasan antara nasionalisme dan ajaran Islam. Melalui gagasannya, nilai-nilai cinta tanah air, persatuan, dan tanggung jawab sosial diposisikan sebagai bagian integral dari keislaman. Konsep ini diwujudkan dalam sebuah sistem pendidikan yang dapat diterima oleh kalangan Islamis maupun nasionalis, yang dirintis melalui Nahdlatul Wathan, cikal bakal Nahdlatul Ulama. Dengan pendekatan kualitatif studi kepustakaan dan analisis continuity and change dari John Obert Voll, penelitian ini menelaah bagaimana nilai-nilai Islam diadaptasikan dengan tuntutan nasionalisme modern. Hasilnya menunjukkan bahwa konsep pendidikan Kiai Wahab Hasbullah berhasil menjadi fondasi kesadaran nasional bagi umat Islam dan pemuda dengan menanamkan patriotisme, religiusitas moderat, dan semangat perjuangan dalam bingkai keindonesiaan. Pemikirannya membuktikan bahwa pendidikan adalah pilar utama pembangunan bangsa, yang tidak hanya berfungsi sebagai alat perlawanan kolonialisme tetapi juga strategi jangka panjang untuk mengisi kemerdekaan. Gagasan ini merupakan sumbangan penting bagi kajian pendidikan Islam kontemporer.

Konsep pendidikan berbasis Islam yang mengusung nasionalisme, menurut perspektif Kiai Abdul Wahab Hasbullah, bertujuan untuk mendirikan lembaga pendidikan yang menumbuhkan semangat nasionalisme di kalangan pemuda terhadap tanah air mereka.Pada saat yang sama, Mas Mansur baru saja kembali dari Mesir.Keduanya bertemu, berbagi visi yang sama, dan akhirnya sepakat untuk mendirikan lembaga pendidikan, yang menjadi embrio organisasi untuk pendirian Nahdlatul Ulama.Hal ini dapat dilihat dari pola pendiriannya, di mana Nahdlatul Wathan didirikan sebagai media untuk memperkuat ideologi dan idealisme nasionalis, sehingga pemuda menjadi sadar akan kolonialisme dan perlu untuk melawan.Untuk mendorong kerjasama antara Muslim dan nasionalis melalui Tashwirul Afkar dan memperkuat ekonomi melalui Nahdlatul Tujjar, yang kemudian diaktifkan melalui Komite Hijaz.Kiai Wahab mengembangkan konsep pendidikan nasionalis yang berakar pada Islam melalui pendirian Nahdlatul Wathan, yang kurikulumnya mencakup pendidikan nasionalis dan keagamaan, dengan visi bahwa pemuda akan memahami bahwa nasionalisme tidak bertentangan dengan agama tetapi sepenuhnya selaras dengan ajaran Islam.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, dan keterbatasan penelitian ini, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan:. . 1. Menganalisis lebih lanjut bagaimana konsep pendidikan berbasis Islam yang mengusung nasionalisme dapat diterapkan dan disesuaikan dengan konteks lokal di berbagai daerah di Indonesia, serta bagaimana hal ini dapat memperkuat identitas nasional-religius di kalangan generasi muda.. . 2. Meneliti lebih dalam tentang peran organisasi-organisasi seperti Nahdlatul Wathan, Tashwirul Afkar, dan Nahdlatul Tujjar dalam membentuk kesadaran nasional dan memperkuat ekonomi di kalangan umat Islam, serta bagaimana organisasi-organisasi ini dapat menjadi model bagi organisasi-organisasi serupa di masa depan.. . 3. Mengkaji secara komprehensif bagaimana pemikiran Kiai Wahab Hasbullah tentang pendidikan, pemuda, nasionalisme, pemberdayaan ekonomi, dan apresiasi terhadap seni dan budaya Islam dapat diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut dalam konteks kontemporer, serta bagaimana hal ini dapat berkontribusi pada pembangunan bangsa yang lebih inklusif dan berkeadilan.

  1. Islam dan Nasionalisme: Pandangan Pembaharu Pendidikan Islam Ahmad Dahlan dan Abdulwahab Khasbullah |... journal.unj.ac.id/unj/index.php/hayula/article/view/4343Islam dan Nasionalisme Pandangan Pembaharu Pendidikan Islam Ahmad Dahlan dan Abdulwahab Khasbullah journal unj ac unj index php hayula article view 4343
Read online
File size221.33 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test