POLITEKNIKALISLAMPOLITEKNIKALISLAM

Jurnal Teras KesehatanJurnal Teras Kesehatan

Afasia adalah gangguan bahasa akibat kerusakan pada bagian otak yang bertanggung jawab dalam pemrosesan bahasa. Diperkirakan lebih dari 2 juta orang mengalami strok di Indonesia dan 25-40% diantaranya menderita afasia. Kasus afasia dapat ditangani dengan metode stimulasi multimodal. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan langkah-langkah terapi dan mengetahui tingkat keberhasilan metode stimulasi multimodal dalam meningkatkan kemampuan menamai tingkat kalimat pada pasien gangguan bahasa afasia konduksi pascastrok. Penelitian ini dilakukan kepada pasien laki-laki berusia 48 tahun di salah satu Rumah Sakit swasta di Purwakarta. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan teknik sampling purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan setelah penegakan diagnosis dan penentuan metode terapi yang tepat, yaitu dengan melakukan tes awal; memberikan terapi stimulasi multimodal sebanyak 10 pertemuan (durasi 45 menit/pertemuan); kemudian tes akhir. Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil tes awal dengan akhir dan menghitung persentase kenaikannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kenaikan skor maksimal pad tes akhir, sehingga persentase kenaikannya adalah 100% dan termasuk dalam kategori berhasil. Peningkatan yang signifikan pada pasien dalam penelitian ini mengindikasikan potensi metode stimulasi multimodal sebagai intervensi yang efektif untuk rehabilitasi bahasa pada pasien afasia konduksi pascastrok.

Setelah dilakukan terapi sebanyak 10 pertemuan dengan durasi 45 menit masing‑masing, pasien memperoleh skor 3 (mampu) pada ketiga materi tes akhir, menghasilkan persentase peningkatan 100 %.Terapi stimulasi multimodal terbukti meningkatkan kemampuan menamai tingkat kalimat pada pasien afasia konduksi, dengan kenaikan skor dari 0 menjadi 9.Secara signifikan, metode ini memperbaiki produksi bahasa pada pasien dengan gangguan afasia konduksi.

Penelitian selanjutnya dapat menguji efektivitas metode stimulasi multimodal pada sampel yang lebih besar dengan desain randomized controlled trial untuk membandingkannya dengan terapi konvensional, sehingga dapat menilai generalisasi hasil pada populasi afasia pasca‑stroke yang beragam. Selain itu, diperlukan studi yang mengeksplorasi variasi dosis terapi, seperti jumlah pertemuan, durasi tiap sesi, dan kombinasi modalitas yang optimal untuk tipe afasia yang berbeda (misalnya Broca, Wernicke, atau konduksi), guna menentukan protokol paling efisien dalam meningkatkan kemampuan bahasa. Selanjutnya, penting juga untuk meneliti keberlanjutan perbaikan bahasa dalam jangka panjang dengan melakukan follow‑up periodik dan menilai kebutuhan sesi pemeliharaan setelah terapi inti selesai, sehingga dapat mengidentifikasi strategi pencegahan kemunduran kemampuan berbicara pada pasien afasia.

  1. Penerapan Metode Stimulasi Multimodal Pada Pasien Gangguan Bahasa Afasia Konduksi Pascastroke | Jurnal... doi.org/10.38215/jtkes.v7i2.149Penerapan Metode Stimulasi Multimodal Pada Pasien Gangguan Bahasa Afasia Konduksi Pascastroke Jurnal doi 10 38215 jtkes v7i2 149
Read online
File size486.22 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test