UNHJAMBIUNHJAMBI

Journal of CommunicationJournal of Communication

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hate speech sebagai strategi delegitimasi politik terhadap perempuan dalam komunikasi politik digital di media sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya partisipasi perempuan dalam politik tidak selalu diiringi dengan penerimaan yang setara, melainkan diikuti oleh maraknya ujaran kebencian yang menyerang tidak hanya kapasitas profesional, tetapi juga identitas gender. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma kritis melalui metode analisis wacana kritis model Norman Fairclough untuk mengkaji bagaimana bahasa digunakan dalam membentuk, mereproduksi, dan melegitimasi ketimpangan gender dalam komunikasi politik digital. Data penelitian berupa konten hate speech yang dikumpulkan dari berbagai platform media sosial melalui teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hate speech terhadap perempuan membentuk pola wacana yang sistematis, ditandai dengan penggunaan stereotip gender, delegitimasi kapasitas kepemimpinan, serta pergeseran isu dari ranah politik ke aspek personal. Selain itu, konstruksi gender dalam ujaran kebencian memperlihatkan adanya standar ganda yang menempatkan perempuan sebagai aktor politik yang inferior. Dalam konteks ini, hate speech tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi kebencian, tetapi juga sebagai strategi komunikasi politik yang secara aktif membentuk persepsi publik dan melemahkan legitimasi perempuan. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan kritis dalam memahami hubungan antara bahasa, kekuasaan, dan gender, serta perlunya upaya komprehensif dalam mengatasi hate speech melalui regulasi, literasi digital, dan penguatan etika komunikasi politik di era digital.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa hate speech dalam komunikasi politik digital merupakan praktik diskursif yang tidak bersifat netral, melainkan berfungsi sebagai strategi sistematis dalam proses delegitimasi terhadap perempuan.Ujaran kebencian yang muncul di media sosial tidak hanya menyerang individu secara personal, tetapi juga membentuk pola wacana yang merepresentasikan perempuan sebagai aktor politik yang tidak kompeten, emosional, dan tidak layak memimpin.Melalui konstruksi bahasa yang berulang, hate speech berkontribusi dalam membangun persepsi publik yang merugikan perempuan, sekaligus memperkuat stereotip gender yang telah mengakar dalam struktur sosial.Dengan demikian, delegitimasi politik terhadap perempuan tidak terjadi secara spontan, tetapi diproduksi dan direproduksi melalui praktik komunikasi yang terstruktur di ruang digital.Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa media sosial berperan sebagai arena yang memperkuat dan mempercepat penyebaran wacana delegitimasi tersebut.Logika algoritmik yang mendorong visibilitas konten berbasis keterlibatan menjadikan ujaran kebencian yang bersifat provokatif lebih mudah tersebar dan mendapatkan legitimasi sosial.Dalam konteks ini, interaksi antara pengguna, teknologi, dan struktur sosial menghasilkan ekosistem komunikasi yang memungkinkan hate speech tidak hanya diproduksi, tetapi juga dinormalisasi.Oleh karena itu, fenomena ini perlu dipahami sebagai hasil dari relasi kompleks antara bahasa, kekuasaan, dan sistem teknologi dalam komunikasi politik digital.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk fokus pada peran aktor-aktor tertentu dalam memproduksi dan menyebarkan hate speech terhadap perempuan di media sosial. Studi ini dapat mengidentifikasi strategi dan motif di balik produksi narasi provokatif dan manipulatif yang bertujuan untuk mendelegitimasi perempuan dalam politik. Selain itu, penelitian juga dapat mengeksplorasi bagaimana dinamika algoritma platform media sosial mempengaruhi distribusi dan visibilitas hate speech, serta bagaimana interaksi antara pengguna, teknologi, dan struktur sosial membentuk ekosistem komunikasi yang memungkinkan hate speech untuk diproduksi dan dinormalisasi. Dengan memahami peran aktor dan dinamika algoritma, penelitian ini dapat memberikan saran praktis untuk mengatasi hate speech secara lebih efektif, serta memperkuat etika komunikasi politik di era digital.

Read online
File size214.47 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test