MAHESA INSTITUTEMAHESA INSTITUTE

Warisan: Journal of History and Cultural HeritageWarisan: Journal of History and Cultural Heritage

Artikel ini membahas transformasi pers Tionghoa dalam menghadapi upaya pemerintah Indonesia untuk menutup pers yang menggunakan huruf yang diizinkan selama era Demokrasi Terpimpin. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah untuk menganalisis tindakan pemerintah dalam mencoba menutup pers Tionghoa serta transformasi pers Tionghoa agar dapat terus menerbitkan di Indonesia. Pers Tionghoa merupakan surat kabar yang diterbitkan di Indonesia dengan menggunakan bahasa dan aksara Tionghoa. Selain itu, terdapat pula pers Tionghoa yang menerbitkan dalam bahasa Melayu, yang diproduksi oleh komunitas Tionghoa peranakan yang tinggal di Indonesia. Pers Tionghoa telah mengalami dua upaya penutupan oleh pemerintah, yaitu pada April 1958 dan pada tahun 1960, yang mengakibatkan transformasi pers Tionghoa di Indonesia. Pers Tionghoa terus menerbitkan di Indonesia dengan bertransformasi menjadi surat kabar yang menggunakan nama, bahasa, dan tulisan Indonesia.

Pers Tionghoa telah ada di Indonesia sejak 1901 dengan surat kabar Li Po.Selama era Demokrasi Terpimpin, pemerintah Indonesia melakukan dua upaya penutupan terhadap pers Tionghoa, yaitu pada 1958 melalui regulasi yang melarang penggunaan huruf selain Latin atau Arab, dan pada 1960 melalui Peperti No.3 tahun 1960, yang mengakibatkan penghilangan pers beraksara Tionghoa.Setelah dua kali mengalami larangan publikasi, pers Tionghoa bertransformasi menjadi pers berbahasa Indonesia, namun akhirnya menghilang sepenuhnya setelah peristiwa 30 September 1965.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi bagaimana pers Tionghoa yang beralih menggunakan nama dan bahasa Indonesia beradaptasi secara konten dan peran sosial setelah regulasi 1958‑1960, sehingga dapat menjawab pertanyaan: Bagaimana strategi editorial dan identitas budaya pers tersebut dalam mempertahankan audiensnya? Selain itu, studi perbandingan antara pers Tionghoa pada masa Demokrasi Terpimpin dan era Orde Baru dapat mengungkap perbedaan orientasi politik serta dampaknya terhadap persepsi publik, sehingga menimbulkan pertanyaan: Apakah perubahan rezim mempengaruhi sikap politik dan kebebasan pers Tionghoa? Selanjutnya, penelitian yang memanfaatkan arsip nasional serta wawancara oral dengan mantan jurnalis dan pembaca dapat merekonstruksi dinamika pers Tionghoa pasca‑1965, dengan fokus pada pertanyaan: Bagaimana evolusi pers Tionghoa setelah peristiwa 30 September 1965 mempengaruhi komunitas Tionghoa‑Indonesia dan identitas media mereka?.

  1. Transformation of the Chinese Press in Indonesia Facing a Ban on Publication, 1958-1965 | Pratama | Warisan:... doi.org/10.34007/warisan.v6i1.2518Transformation of the Chinese Press in Indonesia Facing a Ban on Publication 1958 1965 Pratama Warisan doi 10 34007 warisan v6i1 2518
  2. TRANSFORMASI KARAKTERISTIK KOMUNIKASI DI ERA KONVERGENSI MEDIA | Gushevinalti | Bricolage : Jurnal Magister... journal.ubm.ac.id/index.php/bricolage/article/view/2069TRANSFORMASI KARAKTERISTIK KOMUNIKASI DI ERA KONVERGENSI MEDIA Gushevinalti Bricolage Jurnal Magister journal ubm ac index php bricolage article view 2069
  3. Perlawanan Kwee Kek Beng dalam Rubrik Hindia And Holland Dan Djamblang Kotjok Pada Surat Kabar Sin Po... ejournal.upi.edu/index.php/factum/article/view/38973Perlawanan Kwee Kek Beng dalam Rubrik Hindia And Holland Dan Djamblang Kotjok Pada Surat Kabar Sin Po ejournal upi edu index php factum article view 38973
Read online
File size278.2 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test