JURNALPOLTEKKESMALUKUJURNALPOLTEKKESMALUKU

JKTJKT

Pelayanan kesehatan merupakan salah satu bentuk pelayanan yang menjadi kebutuhan dasar setiap manusia, karena kesehatan merupakan hal utama dalam menunjang aktivitas sehari-hari. Data World Health Organization (WHO) 2018 menunjukkan bahwa 5,7 hingga 8,4 juta orang meninggal disebabkan oleh rendahnya kualitas pelayanan kesehatan setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas pelayanan kesehatan dengan kepuasan pasien rawat jalan di Puskesmas Hila. Penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif. Sumber data berasal dari data primer menggunakan pendekatan cross sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Karakteristik responden dalam penelitian ini mencakup jenis kelamin laki‑laki 41,4% dan perempuan 58,6%, alamat Hila 46%, Kaitetu 43,4% dan Seith 10,6%, serta usia responden sebagian besar 17‑25 tahun sebanyak 49,5%. Hasil penelitian menunjukkan rata‑rata responden memberikan respon cukup terhadap variabel bukti langsung, kehandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati yang didapat selama pemeriksaan di Puskesmas Hila. Analisis bivariat dengan uji chi‑square menghasilkan nilai P = 0,000 (p<0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara kualitas pelayanan kesehatan dan kepuasan pasien rawat jalan di Puskesmas Hila.

Mayoritas responden adalah perempuan, beralamat di Desa Hila, dan berusia 17‑25 tahun.Analisis menunjukkan bahwa mayoritas menilai kualitas pelayanan kesehatan dan kepuasan pasien berada pada tingkat cukup.Semua dimensi kualitas pelayanan (tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy) terbukti berhubungan signifikan dengan kepuasan pasien (p = 0,000).

Penelitian selanjutnya dapat menguji hubungan kausal antara kualitas pelayanan dan kepuasan pasien dengan desain longitudinal yang memantau perubahan selama beberapa tahun; selain itu, studi komparatif antar‑puskesmas di wilayah Maluku Tengah dapat mengidentifikasi variasi regional dan faktor kontekstual yang memengaruhi kepuasan, sehingga memberikan gambaran yang lebih luas. Selanjutnya diperlukan intervensi berbasis peningkatan kualitas, misalnya pelatihan staf tentang komunikasi empatik dan prosedur standar, untuk menilai dampaknya secara eksperimental terhadap tingkat kepuasan pasien. Terakhir, analisis faktor moderasi seperti tingkat pendidikan atau pendapatan responden dapat memperdalam pemahaman tentang bagaimana karakteristik demografis memediasi hubungan antara kualitas layanan dan kepuasan, sehingga memberikan dasar kebijakan yang lebih terarah.

Read online
File size143.62 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test