ITK AVICENNAITK AVICENNA

Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan AvicennaJurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna

Latar Belakang: Insomnia pada remaja merupakan masalah global dengan prevalensi signifikan di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang dapat menyebabkan penurunan sistem imun, kesulitan konsentrasi, dan masalah kesehatan mental. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas edukasi kesehatan berbasis penyuluhan dalam meningkatkan pengetahuan dan pencegahan insomnia pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain non-equivalent group pretest-posttest, melibatkan kelompok perlakuan dan kontrol. Intervensi berupa penyuluhan kesehatan diberikan kepada kelompok perlakuan, dan data pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa diukur sebelum dan sesudah intervensi. Jumlah Populasi dan sampel yang diteliti 24 orang yang diambil menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk mengukur pengetahuan tentang insomnia sebelum dan sesudah intervensi edukasi. data penelitian dianalisis menggunakan uji paired t testm menggunakan aplikasi spss versi 26.0. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan tentang insomnia pada kelompok eksperimen setelah menerima edukasi kesehatan (p = 0,039), sikap (p = 0,007) dan perilaku (p = 0,007). Kesimpulan: Edukasi kesehatan berbasis penyuluhan efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan pencegahan insomnia pada siswa SMK. Intervensi ini dapat menjadi strategi penting dalam mengatasi masalah insomnia di kalangan remaja.

Berdasarkan analisis komprehensif, dapat dinyatakan bahwa adanya perbedaan hasil yang signifikan antara kelompok kontrol dan perlakuan yang memberikan bukti kuat akan efektivitas intervensi edukasi kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan dan pencegahan insomnia berbasis penyuluhan kesehatan terhadap pengetahuan, sikap dan insomnia pada Siswi Sekolah Menengah Kejuruan.SMK, siswi Remaja, lebih memperhatikan disarankan untuk kualitas tidur mereka sebagai bagian dari gaya hidup sehat.Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas dengan melibatkan siswa dari berbagai jenis sekolah, termasuk sekolah menengah umum (SMA), guna membandingkan tingkat pengetahuan dan prevalensi insomnia di antara berbagai kelompok usia dan latar belakang pendidikan.

Penelitian selanjutnya dapat menjawab pertanyaan: bagaimana efektivitas intervensi edukasi kesehatan berbasis penyuluhan dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku terkait insomnia ketika diterapkan secara simultan pada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) serta pada siswa SMK di berbagai provinsi Indonesia, sehingga dapat menilai keberlakuan temuan secara nasional dan mengidentifikasi perbedaan antar‑jenis sekolah. Selanjutnya, studi longitudinal dengan desain kohort dapat menginvestigasi apakah perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku yang diperoleh setelah intervensi tetap bertahan selama enam hingga dua belas bulan, serta faktor‑faktor apa—seperti dukungan keluarga, penggunaan gadget, dan pola aktivitas fisik—yang mempengaruhi keberlanjutan perbaikan tersebut. Terakhir, penelitian eksperimental dapat membandingkan efektivitas metode edukasi kesehatan tradisional (penyuluhan tatap muka) dengan pendekatan digital (aplikasi mobile atau modul e‑learning) serta menambahkan terapi SEFT sebagai komponen tambahan, untuk menentukan strategi intervensi paling optimal dalam mengurangi tingkat insomnia dan meningkatkan kualitas tidur pada remaja. Dengan menggabungkan tiga pendekatan tersebut, diharapkan dapat menghasilkan bukti yang lebih komprehensif untuk kebijakan kesehatan sekolah.

Read online
File size289.52 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test