DWCUDWCU

berkala ilmiah kedokteran duta wacanaberkala ilmiah kedokteran duta wacana

Latar belakang: Stroke masih menjadi masalah kesehatan dunia. Dibutuhkan solusi manajemen klinis yang lebih baik guna mengupayakan instrumen yang pelayanan stroke yang berkualitas. Sebagai sebuah menstandarisasi proses dan outcome pelayanan, clinical pathway selayaknya mampu menjadi solusi perbaikan manajemen kualitas berkelanjutan. Hingga kini bukti mengenai efektivitas clinical pathway masih diperdebatkan. Tujuan: Untuk mengevaluasi dampak clinical pathway terhadap perbaikan kualitas pelayanan stroke berdasarkan indikator proses dan outcome. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode before-after without control group quasi exsperimental, dimana dilakukan penilaian pre dan post implementasi pada dua kelompok tanpa randomisasi. Kelompok intervensi adalah kelompok subyek yang ditatalaksana dengan clinical pathway sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok pasien sebelum pemberlakuan pathway (diambil dari data sekunder rekam medis). Outcome mortalitas sebagai output primer dari penelitian ini akan dibandingkan antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Hasil: Karakteristik subyek dalam penelitian ini homogeny dalam hal variabel demografi (kecuali jenis kelamin) dan karakteristik klinis gejala wajah perot, faktor risiko dan komorbiditas. Pemberlakuan clinical pathway tidak memperbaiki outcome mortalitas, meskipun proporsi mortalitas menurun, 14,5% sebelum pemberlakuan dan 17,8% setelah pemberlakuan. Clinical pathway secara signifikan memperbaiki proses pelayanan stroke pada esesmen menelan (p=0,00), esesmen rehabilitasi (p=0,00) dan edukasi saat pasien pulang (p=0,001). Jenis stroke, kondisi kesadaran saat pasien masuk RS, adanya faktor risiko DM dan AF meningkatkan risiko mortalitas pasien stroke, sedangkan pelaksanaan esesmen menelan sesegera mungkin menurunkan risiko mortalitas.

Pemberlakuan clinical pathway pada pelayanan stroke di RS Bethesda meningkatkan pencapaian indikator proses, meliputi asesmen menelan, asesmen rehabilitasi, dan edukasi.Namun, penerapan pathway tidak berhubungan signifikan dengan penurunan mortalitas pasien stroke.Faktor-faktor seperti jenis stroke perdarahan, skor GCS < 8, penurunan kesadaran pada admisi, serta komorbiditas atrial fibrilasi dan diabetes mellitus secara signifikan meningkatkan risiko mortalitas.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi (1) bagaimana integrasi faktor input seperti kompetensi tim klinis, ketersediaan peralatan, dan struktur organisasi rumah sakit memengaruhi efektivitas clinical pathway dalam menurunkan mortalitas stroke, dengan merancang studi kohort multi‑pusat yang mengumpulkan data demografis, proses, dan outcome secara simultan; (2) apakah penambahan indikator outcome tambahan, seperti kualitas hidup pasca‑stroke, lama rawat inap, dan tingkat komplikasi, dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang manfaat clinical pathway, melalui desain eksperimental terkontrol dengan kelompok pembanding yang menerima standar perawatan konvensional; dan (3) apakah penerapan modul edukasi digital bagi pasien dan keluarga pada fase discharge dapat meningkatkan kepatuhan terhadap rekomendasi klinis dan pada akhirnya menurunkan angka mortalitas, dengan melakukan uji coba teracak terkontrol (RCT) yang membandingkan kelompok yang menerima edukasi digital versus edukasi konvensional. Penelitian‑penelitian ini diharapkan dapat memperluas pemahaman tentang faktor‑faktor yang memediasi hubungan antara clinical pathway dan outcome stroke, serta memberikan bukti kuat untuk kebijakan peningkatan kualitas pelayanan di rumah sakit.

  1. berkala ilmiah kedokteran duta wacana. pemberlakuan clinical pathway kualitas pelayanan stroke rs bethesda... doi.org/10.21460/bikdw.v2i2.60berkala ilmiah kedokteran duta wacana pemberlakuan clinical pathway kualitas pelayanan stroke rs bethesda doi 10 21460 bikdw v2i2 60
Read online
File size258.8 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test