ADMIADMI

Jurnal Kesehatan dan KedokteranJurnal Kesehatan dan Kedokteran

Tuberkulosis paru (TB) merupakan penyakit menular yang menjadi penyebab utama kematian di dunia. Pada tahun 2018 kasus TB Paru di Nusa Tenggara Timur mengalami peningkatan sebesar 6.833 kasus dan Kabupaten Kupang sebesar 3,212%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi kasus TB paru di Puskesmas Oekabiti Kecamatan Amarasi Kabupaten Kupang Tahun 2017-2020 berdasarkan umur, jenis kelamin, pemeriksaan dahak BTA, rontgen, jenis pasien dan alamat tempat tinggal. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan desain cross sectional. Hasil penelitian tahun 2017 terdapat prevalensi penderita TB paru sebanyak 2,85%, tahun 2018 sebanyak 2,62%, tahun 2019 sebanyak 1,6%, dan tahun 2020 sebanyak 0,91%. Hasil pemeriksaan apus dan rontgen positif sebanyak 70 orang (8%) dan negatif sebanyak 805 (92%). Hasil pemeriksaan sputum smear tertinggi adalah hasil sedikit (1,5%), dan hasil pemeriksaan terendah positif 1 dengan total 0,22%. Terdapat 4,7% jenis kelamin perempuan dan 3,31% jenis kelamin laki-laki, 3,65% usia tidak produktif, 1,6% usia tidak produktif dan 2,74% usia produktif. Pada pasien tipe baru ada 7,31%, pasien tipe relaps 0,6%, dan pasien tipe lain 0,1%. Berdasarkan wilayah tempat tinggal 8 desa dan 1 Kelurahan, penderita TB paru tertinggi berada di Desa Kotabes yaitu 1,6%. Prevalensi penderita TB paru dari tahun 2017-2020 mengalami penurunan setiap tahunnya. Penderita TB Paru paling banyak ditemukan pada wanita dengan hasil BTA negatif tertinggi, pada usia tidak produktif dengan jenis penderita baru terbanyak terdapat di Desa Kotabes.

Prevalensi penderita TB paru Pada tahun 2017 adalah 2,85%, pada tahun 2018 adalah 2,62%, pada tahun 2019 adalah 1,6%, dan pada tahun 2020 adalah 0,91%.Prevalensi penderita TB paru tahun 2017-2020 berdasarkan hasil pemeriksaan BTA sputum yang tertinggi adalah hasil scanty (1,5%), berdasarkan pemeriksaan rontgen hasil rontgen positif adalah 8%, berdasarkan jenis kelamin paling tinggi yaitu terdapat pada perempuan yaitu 4,7%, usia tidak produktif lebih rentan terinfeksi Mycobacterium tuberkulosis dengan jumlah 3,65%, berdasarkan tipe penderita paling tinggi terdapat pada tipe penderita baru (7,31%), dan berdasarkan wilayah tempat tinggal menunjukan bahwa dari 8 Desa dan 1 Kelurahan penderita TB paru tertinggi terdapat di Desa Kotabes (1,6%).

Penelitian ini memberikan gambaran penting mengenai prevalensi dan karakteristik penderita TB paru di Puskesmas Oekabiti. Namun, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif dan merancang intervensi yang lebih tepat, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang bisa dilakukan. Pertama, perlu dilakukan studi analitik mendalam, seperti studi kasus-kontrol atau kohort, untuk mengidentifikasi secara pasti faktor-faktor risiko yang berkontribusi terhadap kejadian TB paru di wilayah tersebut. Penelitian ini tidak hanya terbatas pada demografi, tetapi juga mencakup faktor perilaku seperti kebiasaan merokok, status gizi, riwayat kontak, serta kondisi lingkungan rumah seperti ventilasi dan kepadatan hunian, dengan pengumpulan data primer yang lebih detail. Dengan demikian, kita bisa memahami hubungan sebab-akibat secara lebih kuat, yang krusial untuk intervensi kesehatan masyarakat yang efektif. Kedua, mengingat adanya penurunan prevalensi dari tahun 2017-2020, akan sangat bermanfaat untuk mengevaluasi secara spesifik efektivitas program penanggulangan TB yang telah dilaksanakan oleh Puskesmas Oekabiti atau dinas kesehatan setempat. Evaluasi ini bisa mengkaji aspek deteksi dini, kepatuhan pengobatan pasien, upaya pelacakan kontak, serta kegiatan promosi kesehatan yang dilakukan, baik melalui pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. Ketiga, untuk melengkapi temuan mengenai Desa Kotabes yang memiliki prevalensi tertinggi, disarankan untuk melakukan penelitian kualitatif atau etnografi. Studi ini bertujuan menggali secara mendalam peran faktor sosial budaya, seperti pola interaksi masyarakat, kebiasaan berkumpul, tingkat sanitasi, dan persepsi kesehatan lokal, dalam mempengaruhi penularan TB. Pemahaman holistik dari berbagai aspek ini akan menghasilkan strategi pencegahan dan pengendalian TB paru yang lebih berkelanjutan dan sesuai dengan konteks lokal.

Read online
File size197.71 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test