UKIMUKIM

ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi AgamaARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama

Memberikan sudut pandang negatif terhadap kelompok lain pada masa kini merupakan tindakan yang sering sekali dapat dijumpai. Kasus serupa juga terjadi bagi masyarakat Papua secara khusus Aitinyo, Papua Barat Daya. Teks Keluaran 1:1-22 merupakan salah satu teks yang menggambarkan masalah yang serupa. Bertolak dari kedua masalah ini maka tulisan ini dibuat untuk mengkaji ideologi Keluaran 1:1-22 dan mendialogkannya dengan konteks masa kini. Proses penafsiran yang dilakukan ialah dengan menggunakan metode kritik ideologi dengan perspektif masyarakat pribumi. Dalam analisis yang dilakukan, diketahui bahwa penggambaran kelompok secara sepihak juga ditampilkan oleh penulis teks Keluaran 1:1-22. Dimana penulis teks menggambarkan Mesir sebagai pelaku kekerasan dalam narasinya demi kepentingan masing-masing kelompok penulis. Dari seluruh data historis yang dapat dikumpulkan kemudian memberikan suatu pemahaman penting untuk memperjuangkan keadilan dan memperbaiki sudut pandang bagi Mesir dan Aitinyo.

Dari hasil kritik ideologi yang dilakukan dan berdasarkan peninggalan Mesir Kuno, tidak didapati bukti tentang perbudakan bangsa Israel dan Exodus besar-besaran.Kisah perbudakan yang dituliskan dalam Alkitab secara tidak langsung melahirkan stereotip bagi bangsa Mesir.Apabila kebenaran tentang perbudakan benar adanya hal ini tentu dilatar belakangi oleh pengalaman pahit bangsa Mesir dari penjajahan bangsa Hyksos yang adalah satu garis keturunan dengan bangsa Israel, sehingga perbudakan bangsa Israel merupakan bentuk perlindungan bangsa Mesir dari kemungkinan negatif yang bisa saja timbul dari orang-orang asing yang menempati wilayah mereka.Perjuangan masyarakat Aitinyo dalam memperjuangkan hak-hak mereka di atas tanah mereka merupakan penggambaran yang sama dengan perjuangan bangsa Mesir.Sebagai masyarakat pribumi yang memiliki pengalaman pahit dengan bangsa asing tentunya memaksa mereka untuk bersikap keras terhadap kemungkinan adanya ketidakadilan dan diskriminasi yang bisa saja terjadi.Bentuk perjuangan masyarakat Aitinyo dan bangsa Mesir harus dimaiknai sebagai bentuk perjuangan bagi sebuah keadilan yang memihak kepada masyarakat sebagai korban ketidakadilan.Dalam perspektif itulah, keadilan Allah yang membebaskan menjadi sebuah imperatif teologi bagi perjuangan keadilan masyarakat tertindas di masa kini.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk melakukan studi lebih lanjut tentang sejarah Mesir dan Israel, serta konteks sosial dan politik pada masa itu. Hal ini dapat membantu memahami lebih dalam tentang ideologi yang terkandung dalam teks Keluaran 1:1-22 dan relevansinya dengan perjuangan keadilan di Aitinyo, Papua Barat Daya. Selain itu, penelitian lanjutan juga dapat dilakukan untuk mengeksplorasi lebih lanjut tentang perspektif masyarakat pribumi dalam memahami dan menafsirkan teks Alkitab, serta implikasinya bagi perjuangan keadilan di masyarakat modern. Terakhir, penelitian tentang dampak stereotip negatif terhadap kelompok tertentu, seperti Mesir dan Aitinyo, dapat menjadi fokus penelitian selanjutnya untuk memahami bagaimana stereotip tersebut terbentuk dan bagaimana cara mengatasinya.

  1. Dimanakah Keadilan bagi Mesir? Kritik Ideologi Keluaran 1:1-22 dan Relevansinya bagi Perjuangan Keadilan... ojs.ukim.ac.id/index.php/arumbae/article/view/1170Dimanakah Keadilan bagi Mesir Kritik Ideologi Keluaran 1 1 22 dan Relevansinya bagi Perjuangan Keadilan ojs ukim ac index php arumbae article view 1170
Read online
File size475.81 KB
Pages23
DMCAReport

Related /

ads-block-test