MINDAMASMINDAMAS

INSANCITAINSANCITA

Salah satu tugas penting pers adalah memberikan news (berita) dan views (pandangan) dalam menanggapi peristiwa-peristiwa penting kepada masyarakat. Sementara itu, pemerintah Orde Baru (1966-1998), yang dalam banyak kasus ditandai oleh praktek KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), sangat dominan dalam mengontrol dan membredel pers yang dinilai kritis dan oposisional. Artikel ini, dengan menggunakan metode historis dan pendekatan kualitatif, mengkaji dan menganalisis tentang surat kabar Republika di Jakarta, yang pada tahun 1994, memberikan news & views kepada kasus BAPINDO (Bank Pembangunan Indonesia), melalui kritik-kritik sosial yang tajam dan jenaka dalam kolom catatan pojoknya, Rehat. Hasil kajian menunjukan bahwa konteks kasus BAPINDO, yang melibatkan tiga pejabat penting pada masa Orde Baru, harus dilihat dalam persaingan politik dari kelas menengah Muslim yang tengah pasang pada tahun 1990-an, yang pada masa-masa awal Orde Baru di tahun 1970/1980-an mengalami surut dan dimarginalisasikan.

Dari beberapa pokok pikiran yang telah diuraikan mengenai wacana-wacana kritik sosial catatan pojok Rehat miliki surat kabar Republika di Jakarta, yang menyorooti kasus mega skandal BAPINDO (Bank Pembangunan Indonesia) pada tahun 1994 dan melibatkan beberapa pejabat tinggi negara, serta menghabiskan uang rakyat sebesar kurang-lebih 1.3 trilyun Rupiah, maka dapat dikatakan bahwa masalah KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) di Indonesia pada pemerintahan Orde Baru tahun 1990-an masih wujud.Masalah KKN ini akan menjadi isu politik utama hingga keruntuhan pemerintahan Orde Baru pada tahun 1998.Kelahiran surat kabar Republika pada tahun 1990-an berada dalam kurun waktu dan atmosfer sejarah, sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang begitu kompleks.Di satu pihak masyarakat, khususnya umat Islam, dicekam oleh rasa ketidakpastian tentang nasib mereka di masa yang akan datang.Oleh karena itu, mereka mencari ketenangan dengan segala sesuatu yang bersifat spiritualisme dan keagamaan.Maka surat kabar Republika hadir sebagai media massa yang bernuansa keagamaan dan diuntungkan dengan keadaan ini.Sementara di sisi lain, surat kabar Republika juga hadir pada saat sejarah mencatat peranan politik umat Islam di Indonesia mulai menguat ke tingkat kekuasaan birokrasi dengan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) sebagai simbolnya.Di sinilah surat kabar Republika hadir untuk memperkuat peran politik Islam yang memerlukan resonansi alat pemancar yang bertugas membentuk opini publik yang favourable.Namun begitu, sebagai media massa, maka surat kabar Republika harus tetap dituntut untuk bersikap objektif.Surat kabar Republika juga tumbuh di saat industri pers nasional dihadapkan pada berbagai masalah kemandegan yang disebabkan oleh persaingan dengan media massa elektronik yang lebih canggih dan dapat menyedot iklan lebih banyak, serta semakin berkembangnya koran dan majalah luar negeri yang diproduksi lebih canggih.Surat kabar Republika, sebagai media massa yang ingin bersikap netral, dihadapkan pada persoalan yang mendasar, yakni.secara internal, media massa harus memilih antara idealisme atau bisnis media.serta secara eksternal, pers yang kritis acapkali mendapat hambatan, bahkan serangan, dari kekuasaan negara dengan alibi harmoni atau stabilitas negara.Mensiasati hal tersebut, surat kabar Republika melengkapi diri dengan satu kolom catatan pojok yang diberi nama Rehat.Nama Rehat digunakan oleh surat kabar Republika sebagai sarana untuk melaksanakan kritik sosialnya kepada masyarakat, pemerintah, dan negara.Namun, karena Republika merupakan surat kabar yang kepemilikan saham terbesar dimiliki oleh penguasa Orde Baru, yaitu Presiden Soeharto, maka tidak mungkin ianya dapat secara terus terang melakukan kritik-kritik sosial, apalagi jika menyangkut para pembantu Presiden sebagai sasaran kritik utamanya.Jika hal itu dilakukan, maka sama halnya dengan menggali kubur sendiri, dalam artian bahwa pers bisa terkena pembredelan oleh pemerintah Orde Baru.Dalam konteks ini, catatan pojok Rehat, yang disajikan dalam bentuk satu kalimat pendek dan sederhana namun berisi sindiran yang cukup tajam tetapi tidak kasar dan masih dalam batas yang wajar, merupakan cara mengkritik surat kabar Republika kepada pihak penguasa.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, keterbatasan, dan bagian saran penelitian lanjutan, berikut adalah saran penelitian lanjutan yang baru:. . 1. Mengkaji lebih mendalam tentang peran media massa dalam mengontrol dan mengawasi pemerintah, khususnya dalam kasus BAPINDO. Penelitian ini dapat fokus pada bagaimana media massa dapat menjadi pengawas yang efektif dan bagaimana mereka dapat mempengaruhi opini publik.. . 2. Meneliti lebih lanjut tentang persaingan politik antara kelas menengah Muslim dan kelompok non-Muslim pada masa Orde Baru. Penelitian ini dapat mengungkap dinamika politik dan sosial pada masa itu, serta bagaimana media massa berperan dalam membentuk opini publik.. . 3. Menganalisis dampak dari pembredelan media massa oleh pemerintah Orde Baru. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana pembredelan tersebut mempengaruhi kebebasan pers dan bagaimana media massa dapat bertahan dan terus memberikan kritik sosial kepada pemerintah.

Read online
File size625.16 KB
Pages26
DMCAReport

Related /

ads-block-test