UBUB

Journal of Psychiatry Psychology and Behavioral ResearchJournal of Psychiatry Psychology and Behavioral Research

Pendahuluan: Sindrom Post Power (Post Power Syndrome) merupakan kondisi psikologis yang sering dialami oleh individu yang kehilangan posisi atau status sosial penting, khususnya pada pensiunan yang sebelumnya memegang peran kepemimpinan. Perubahan drastis dari menjadi aktif dan dihormati menjadi pensiunan dapat menimbulkan perasaan kehilangan identitas dan makna dalam hidup, yang pada gilirannya dapat menghasilkan gejala psikologis seperti depresi dan kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika Sindrom Post Power pada seorang guru wanita pensiunan dan faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan adaptasi terhadap kehidupan pasca pensiun. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Teknik Pattern Matching digunakan untuk menganalisis swim data dan mengidentifikasi pola serta tema utama terkait pengalaman Sindrom Post Power. Hasil: Subjek penelitian menunjukkan gejala emosional seperti kesedihan, kecemasan, dan perasaan terisolasi, serta perubahan perilaku seperti kesulitan tidur dan pola makan yang berubah. Meskipun subjek berhasil mengisióttir waktu luang dengan aktivitas baru seperti berkebun, gejala Sindrom Post Power tetap terlihat dalam cerita dan perilaku. Diskusi: Stres emosional mengarah pada mekanisme koping yang maladaptif, seperti reaksi pengganti dan berlebihan memikirkan kenangan lama. Penelitian menyoroti pentingnya observasi langsung dan wawancara untuk menganalisis gejala perilaku. Kesimpulan: Sindrom Post Power dapat memengaruhi kesejahteraan emosional dan perilaku setelah pensiun. Dukungan sosial dan strategi intervensi psikosial penting untuk membantu pensiunan mengEnumerasi perubahan kehidupan. Penelitian ini memberikan wawasan bagi pendidik dan psikolog untuk menyediakan dukungan yang lebih efektif bagi guru pensiunan.

Sindrom Post Power menimbulkan kehilangan peran aktif dan rasa dihormati, sehingga menurunkan identitas dan makna hidup pada guru pensiunan.Faktor budaya dan sosial di Indonesia, yang menempatkan guru sebagai otoritas terhormat, meningkatkan tingkat stres saat pensiun.Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas sosial, ekonomi, dan kebijakan dukungan dapat menyembuhkan gejala post-power dan memperkuat kesejahteraan psikologis guru pensiunan.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi efektivitas program intervensi yang menggabungkan kegiatan religius, sosial, dan ekonomi untuk menurunkan Sindrom Post Power pada guru pensiunan di beberapa provinsi menggunakan desain kuasi‑eksperimental. Selanjutnya, studi longitudinal dapat memantau perubahan kesejahteraan psikologis guru pensiunan selama lima tahun pertama, menilai proses rekonstruksi identitas, dan mengidentifikasi faktor penahan atau pemicu perubahan. Terakhir, penelitian perbandingan dapat mengkaji perbedaan gender dalam pengalaman Sindrom Post Power antara guru pensiunan laki‑laki dan perempuan, untuk mencari mekanisme dukungan yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik masing-masing kelompok. Pendekatan ini akan menghasilkan rekomendasi berbasis bukti mengenai cara paling efektif untuk mengelola dampak psikologis pensiun, memperkuat kebijakan dukungan sosial, dan mempromosikan kesejahteraan jangka panjang penanggung pendidikan.

  1. WELFARE PSYCHOLOGICAL WELL-BEING OF RETIRED ELEMENTARY SCHOOL TEACHERS: IDENTIFYING SYMPTOMS AND SOLUTIONS... jppbr.ub.ac.id/index.php/jppbr/article/view/182WELFARE PSYCHOLOGICAL WELL BEING OF RETIRED ELEMENTARY SCHOOL TEACHERS IDENTIFYING SYMPTOMS AND SOLUTIONS jppbr ub ac index php jppbr article view 182
  2. Post-Power Syndrome dan Perubahan Perilaku Sosial Pensiunan Guru | Psympathic : Jurnal Ilmiah Psikologi.... doi.org/10.15575/PSY.V3I1.668Post Power Syndrome dan Perubahan Perilaku Sosial Pensiunan Guru Psympathic Jurnal Ilmiah Psikologi doi 10 15575 PSY V3I1 668
Read online
File size443.31 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test