UBUB
Journal of Psychiatry Psychology and Behavioral ResearchJournal of Psychiatry Psychology and Behavioral ResearchPendahuluan - Gangguan parafilia didefinisikan sebagai deviasi seksual intens yang abnormal diikuti dengan perilaku untuk memenuhi aktivitas erotis yang kuat. Gangguan Depresi Mayor (MDD) merupakan gangguan suasana hati yang ditandai dengan munculnya mood depresif, berkurangnya minat, fungsi kognitif yang menurun, serta gejala vegetatif termasuk gangguan tidur atau nafsu makan. Sebuah studi di Amerika Serikat menunjukkan prevalensi parafilia sebesar 15,9%, sementara prevalensi gangguan depresi di Indonesia sekitar 6,1%. Menurut DSM-5, parafilia dan gangguan terkait parafilia, serta gangguan depresi merupakan diagnosis komorbid sumbu I yang paling sering dengan prevalensi seumur hidup mencapai 56%. Berdasarkan data tersebut, penelitian ini bertujuan untuk membahas korelasi antara kedua fenomena tersebut. Metode - Peneliti menggunakan sejumlah jurnal dan buku teks yang membahas prevalensi dan patogenesis parafilia serta gangguan depresi mayor, serta korelasi antara kedua gangguan tersebut. Hasil - Parafilia jarang didiagnosis di setting klinis karena banyak kasus terkait tindakan ilegal dan kriminal (seperti pelecehan seksual), serta metode pelaporan yang tidak dapat diandalkan, sementara depresi tersebar luas di negara berpendapatan tinggi maupun rendah. Hal ini menunjukkan perlunya kesadaran pemerintah terhadap dampak gangguan depresi. Proporsi penderita yang tidak mencari pengobatan masih tinggi, mencapai 87–91% dari total kasus depresi yang tidak ditangani. Diskusi - Terdapat korelasi signifikan antara parafilia dan gangguan depresi mayor; MDD merupakan salah satu diagnosis komorbid sumbu I pada gangguan terkait parafilia dengan prevalensi seumur hidup sebesar 56%. Dari sisi patogenesis, neurotransmiter monoamin dopamin, norepinefrin, dan serotonin berperan modulasi dalam motivasi seksual, perilaku appetitif, dan perilaku konsummtif pada manusia.
Menurut hasil penelitian, dapat disimpulkan terdapat hubungan antara parafilia dan gangguan depresi mayor.Selanjutnya, dapat dilihat dari prevalensi bahwa gangguan depresi mayor merupakan salah satu gangguan komorbid sumbu I yang paling umum terkait parafilia.Pada aspek patogenesis, terjadi degradasi fungsi, kuantitas, dan produksi neurotransmiter monoamin, yaitu dopamin, norepinefrin, dan serotonin, yang menyebabkan individu dengan parafilia biasanya menunjukkan gejala seperti perubahan mood, berkurangnya minat, depresi, penurunan fungsi kognitif, serta munculnya gejala vegetatif seperti gangguan nafsu makan atau aktivitas tidur.
Penelitian lanjutan dapat mengkaji sejauh mana faktor genetik memengaruhi hubungan antara parafilia dan depresi mayor dengan melakukan analisis genomik pada populasi penderita kedua gangguan tersebut, sehingga dapat menjawab pertanyaan: apakah terdapat varian genetik spesifik yang meningkatkan risiko komorbiditas keduanya dan bagaimana pola pewarisan gen tersebut berinteraksi dengan faktor lingkungan? Selanjutnya, diperlukan studi longitudinal yang mengevaluasi efek intervensi farmakologis pada sistem monoamin—dopamin, norepinefrin, dan serotonin—terhadap perubahan perilaku parafilik dan gejala depresi, guna menentukan apakah modulasi neurotransmiter dapat memperbaiki kedua kondisi secara simultan serta mengidentifikasi dosis optimal yang meminimalkan efek samping. Terakhir, penting untuk menyelidiki peran faktor sosial‑kultural, khususnya stigma, tingkat literasi kesehatan, dan akses layanan kesehatan mental, dalam mempengaruhi prevalensi, deteksi dini, serta pengobatan parafilia dan depresi di Indonesia, sehingga dapat mengidentifikasi strategi pencegahan dan kebijakan publik yang lebih efektif serta sensitif terhadap konteks lokal. Penelitian‑penelitian ini diharapkan dapat memperluas pemahaman tentang mekanisme patofisiologis, meningkatkan pendekatan terapeutik yang terintegrasi, dan mendukung kebijakan kesehatan mental yang responsif terhadap kebutuhan khusus penderita parafilia dan depresi.
| File size | 198.38 KB |
| Pages | 6 |
| DMCA | Report |
Related /
UncenUncen Kesimpulannya, subtipe HIV-1 yang dominan di RSUD Yowari Kabupaten Jayapura adalah CRF01_AE diikuti subtipe B, dan tidak terdapat korelasi signifikan antaraKesimpulannya, subtipe HIV-1 yang dominan di RSUD Yowari Kabupaten Jayapura adalah CRF01_AE diikuti subtipe B, dan tidak terdapat korelasi signifikan antara
IRPIIRPI Hasilnya menunjukkan model NBC lebih baik daripada KNN dengan akurasi 77,69%, recall 53,14%, precision 59,84% dan F1‑Score 54,09%. Analisis visualisasiHasilnya menunjukkan model NBC lebih baik daripada KNN dengan akurasi 77,69%, recall 53,14%, precision 59,84% dan F1‑Score 54,09%. Analisis visualisasi
1001TUTORIAL1001TUTORIAL Dataset dibagi menjadi set pelatihan dan pengujian dengan rasio 75:25. Pelatihan model dilakukan menggunakan bahasa pemrograman R dengan penerapan penghalusanDataset dibagi menjadi set pelatihan dan pengujian dengan rasio 75:25. Pelatihan model dilakukan menggunakan bahasa pemrograman R dengan penerapan penghalusan
NINETYJOURNALNINETYJOURNAL Melalui analisis sistematis terhadap kebutuhan, perilaku, dan interaksi pengguna melalui pengembangan persona dan tahapan riset yang mendalam, studi iniMelalui analisis sistematis terhadap kebutuhan, perilaku, dan interaksi pengguna melalui pengembangan persona dan tahapan riset yang mendalam, studi ini
ITSCIENCEITSCIENCE Kegiatan berlangsung secara lancar adanya dukungan dari guru dalam kegiatan penyuluhan. Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat tentangKegiatan berlangsung secara lancar adanya dukungan dari guru dalam kegiatan penyuluhan. Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat tentang
UNUSAUNUSA Penelitian ini bertujuan untuk menilai perubahan D‑Dimer, PT, dan APTT setelah pemberian heparin intravena pada pasien COVID‑19 yang memerlukan unitPenelitian ini bertujuan untuk menilai perubahan D‑Dimer, PT, dan APTT setelah pemberian heparin intravena pada pasien COVID‑19 yang memerlukan unit
MORIAHMORIAH (4) Kecemasan remaja Kristen di masa pandemic Covid-19 termasuk kategori ringan, karena mereka memiliki pengetahuan tentang Covid-19, hubungan baik dengan(4) Kecemasan remaja Kristen di masa pandemic Covid-19 termasuk kategori ringan, karena mereka memiliki pengetahuan tentang Covid-19, hubungan baik dengan
MARANATHAMARANATHA Gejala yang paling umum dari klinis tumor mediastinum adalah kesulitan bernapas, diikuti oleh batuk dan gejala tipikal myasthenia gravis. Frekuensi tertinggiGejala yang paling umum dari klinis tumor mediastinum adalah kesulitan bernapas, diikuti oleh batuk dan gejala tipikal myasthenia gravis. Frekuensi tertinggi
Useful /
UBUB Kesimpulan – Pengamatan dan pendekatan yang cermat diperlukan untuk menegakkan diagnosis etiologis psikosis onset lambat, serta pemantauan efek sampingKesimpulan – Pengamatan dan pendekatan yang cermat diperlukan untuk menegakkan diagnosis etiologis psikosis onset lambat, serta pemantauan efek samping
UBUB Metode – Penelitian menyelidiki efektivitas ERP melalui analisis seri kasus pada dua individu yang mengalami distress emosional signifikan. Hasil –Metode – Penelitian menyelidiki efektivitas ERP melalui analisis seri kasus pada dua individu yang mengalami distress emosional signifikan. Hasil –
UNUSAUNUSA Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan desain studi cross‑sectional, dengan populasi berupa pasien yang dicurigai COVID-19 sebanyakPenelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan desain studi cross‑sectional, dengan populasi berupa pasien yang dicurigai COVID-19 sebanyak
UNYUNY Model pembelajaran berbasis masalah efektif meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SMA. Peningkatan ini ditandai dengan nilai post-testModel pembelajaran berbasis masalah efektif meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SMA. Peningkatan ini ditandai dengan nilai post-test