UBUB

Journal of Psychiatry Psychology and Behavioral ResearchJournal of Psychiatry Psychology and Behavioral Research

Pengantar – Lansia yang tidak memiliki rasa makna hidup dan tidak hidup secara sadar sering mengalami ketidaknyamanan yang memicu gejolak emosional. Fenomena ini menyoroti bahwa menjadi tua memerlukan kesiapan fisik dan mental. Penyethingan ini memengaruhi pola pikir dan pemahaman hubungan dekat dengan Tuhan, serta berpotensi meningkatkan spiritualitas seseorang. Penelitian ini bertujuan memeriksa kondisi mental lansia melalui aspek keagamaan/rohani mereka – mulai dari pencarian makna hidup, usaha mandiri, hingga wawasan terhadap kondisi pribadi. Metode – penelitian kualitatif dengan interpretasi fenomenologis. Semua partisipan mengikuti sesi wawancara yang dipimpin penulis. Pernyataan semua partisipan dianalisis sebagai konten analisis menggunakan analisis tujuh langkah Colaizzi. Hasil – Analisis data hasil wawancara verbatim menghasilkan lima tema utama dan 17 subtema, yang berarti makna menua, ketidaknyamanan diri, kondisi mental, makna kehadiran Allah, serta makna dan kebutuhan liqo. Diskusi – Lansia yang siap mental menghadapi usia tua, sadar, dan menganggap Allah sebagai sumber kehidupan, kedamaian, permulaan dan akhir hidup, akan mencapai tingkat spiritualitas tinggi. Kesimpulan – Lansia dengan pandangan positif menganggap kehadiran Allah sebagai pusat kehidupan, kedamaian, serta sumber permulaan dan akhir hidup. Aktivitas liqo membantu peserta menjadi versi terbaik diri dan berusaha menjadi Muslim dengan penamaan akhir husnul khotimah, atau akhir yang baik.

Lansia yang sadar dan siap mental menghadapi proses menua dapat menaklukkan keterbatasan fisik, penyakit kronis, dan rasa kesepian.Mereka melihat masa tua sebagai peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah, bersaudara dengan orang-orang mulia, dan mempersiapkan akhir kehidupan yang baik.Aktivitas liqo menumbuhkan rasa identitas, kedamaian, serta motivasi menjadi versi terbaik diri.

Pertama, lakukan penelitian kuantitatif untuk menilai perubahan spiritualitas dan kesehatan mental partisipan liqo sebelum dan sesudah program. Pengukuran tersebut dapat mencakup skala KBBI dan WHO-QoL agar hasilnya bersifat ilmiah. Kedua, bandingkan liqo dengan aktivitas spiritual di komunitas agama lain, seperti Kristen atau Buddha. Perbandingan ini membantu mengidentifikasi unsur universal dan khusus yang memengaruhi kesejahteraan lansia. Ketiga, integrasikan modul liqo ke dalam perawatan geriatri dengan kerja sama dokter dan perawat. Kolaborasi ini memungkinkan penyesuaian aktivitas liqo sesuai kondisi fisik dan kognitif partisipan. Selain itu, evaluasi efek jangka panjang liqo pada kebersihan mental dapat dilakukan setiap enam bulan. Data longitudinal tersebut akan memberikan bukti kuat mengenai dampak liqo terhadap kebahagiaan hidup. Akhirnya, hasilnya dapat digunakan oleh lembaga kebijakan kesehatan untuk memprioritaskan program spiritual. Dengan demikian, penelitian lanjutan dapat memperluas manfaat liqo kepada lebih banyak lansia di Indonesia.

  1. UNDERSTANDING MENTAL CONDITIONS IN THE ELDERLY BASED ON RELIGIOUS/SPIRITUAL PERSPECTIVE | Journal of... doi.org/10.21776/ub.jppbr.2025.006.02.1UNDERSTANDING MENTAL CONDITIONS IN THE ELDERLY BASED ON RELIGIOUS SPIRITUAL PERSPECTIVE Journal of doi 10 21776 ub jppbr 2025 006 02 1
Read online
File size604.79 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test