SRIWIJAYASURGERYSRIWIJAYASURGERY

Sriwijaya Journal of SurgerySriwijaya Journal of Surgery

Pendahuluan: Reseksi meningioma intrakranial hipervaskular sering dihadapkan pada perdarahan intraoperatif yang signifikan, meningkatkan morbiditas pasien dan kebutuhan transfusi. Tranexamic acid (TXA), agen antifibrinolitik, telah menunjukkan potensi di bidang bedah lain, namun bukti tingkat tinggi pada operasi tumor intrakranial masih kurang. Penelitian ini bertujuan untuk secara rigor menilai efektivitas dan keamanan TXA perioperatif dalam mengurangi kehilangan darah selama kraniotomi untuk meningioma konveksitas dan sfeno-orbital. Metode: Uji klinis tunggal pusat, double-blind, randomisasi, dengan plasebo ini melibatkan 30 pasien wanita dewasa yang dijadwalkan reseksi meningioma konveksitas atau sfeno-orbital. Pasien diacak menerima TXA intravena (bolus 15 mg/kg diikuti infus 1 mg/kg/jam) atau plasebo saline yang sama. Outcome utama adalah total kehilangan darah intraoperatif. Outcome sekunder meliputi volume transfusi, perubahan perioperatif parameter hematologi dan koagulasi, serta kejadian tromboemboli dalam 30 hari. Hasil: Kelompok TXA (n=15) dan plasebo (n=15) seimbang pada karakteristik dasar. Rata‑rata kehilangan darah intraoperatif secara signifikan lebih rendah pada kelompok TXA dibandingkan plasebo (765 ± 94,39 mL vs 1010 ± 131,20 mL; perbedaan rata‑rata –245 mL; p=0,019). Kelompok TXA menunjukkan penurunan hemoglobin pasca‑operasi yang lebih kecil (‑0,97 g/dL vs ‑2,36 g/dL; p=0,041) dan kadar D‑dimer yang lebih rendah pada 24 jam (850 ± 210 ng/mL vs 1620 ± 450 ng/mL; p<0,001). Tidak terdapat perbedaan signifikan pada volume transfusi PRBC (p=0,410). Tidak ada kejadian tromboemboli yang tercatat pada kedua kelompok. Kesimpulan: Pada pasien yang menjalani reseksi meningioma konveksitas dan sfeno‑orbital hipervaskular, pemberian TXA perioperatif secara signifikan mengurangi kehilangan darah intraoperatif dan mempertahankan hemoglobin pasca‑operasi, serta menunjukkan profil keamanan yang baik tanpa peningkatan risiko tromboemboli pada kohort ini.

Penelitian acak terkontrol ini memberikan bukti tingkat tinggi bahwa pemberian tranexamic acid secara perioperatif merupakan intervensi yang sangat efektif dan aman untuk mengurangi kehilangan darah intraoperatif serta mempertahankan hemoglobin pasca‑operasi pada pasien yang menjalani reseksi meningioma konveksitas dan sfeno‑orbital hipervaskular.Terapi ini secara signifikan menekan respons fibrinolitik sistemik yang dipicu oleh operasi.Tidak terdapat peningkatan risiko kejadian tromboemboli vena pada kelompok yang menerima tranexamic acid.

Penelitian lanjutan sebaiknya dilakukan dalam bentuk uji klinis terkontrol multisentra dengan sampel yang lebih besar dan melibatkan pasien pria serta beragam tipe meningioma, guna menilai apakah efektivitas dan keamanan tranexamic acid tetap konsisten pada populasi yang lebih heterogen. Selain itu, diperlukan studi dosis‑respon yang membandingkan regimen intravena dengan oral serta variasi dosis loading dan infus, untuk menentukan protokol optimal yang meminimalkan kehilangan darah sekaligus menjaga risiko tromboemboli tetap rendah. Selanjutnya, sebuah kohort observasional jangka panjang diperlukan untuk mengevaluasi dampak penggunaan tranexamic acid terhadap pemulihan fungsional, kebutuhan transfusi, dan kemungkinan komplikasi tardif, sehingga dapat memberikan gambaran komprehensif tentang manfaat dan risiko jangka panjang terapi ini dalam praktik neuroonkologi.

  1. Antifibrinolytic Therapy in Neurosurgical Oncology: A Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled Trial... doi.org/10.37275/sjs.v8i2.139Antifibrinolytic Therapy in Neurosurgical Oncology A Randomized Double Blind Placebo Controlled Trial doi 10 37275 sjs v8i2 139
Read online
File size971.71 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test