SRIWIJAYASURGERYSRIWIJAYASURGERY

Sriwijaya Journal of SurgerySriwijaya Journal of Surgery

Pendahuluan: Fraktur cincin panggul merupakan cedera yang mengancam jiwa dengan tingkat mortalitas tinggi. Walaupun faktor risiko klinis telah terdefinisi dengan baik di negara berpenghasilan tinggi, data dari negara berpenghasilan menengah dan rendah (LMIC) masih terbatas, dimana faktor sosioekonomi dapat memengaruhi kelangsungan hidup secara signifikan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi faktor sosiodemografik dan klinis yang berhubungan dengan mortalitas di rumah sakit pada pasien dengan fraktur panggul di sebuah pusat trauma tingkat tersier di Indonesia. Metode: Studi kohort retrospektif dilakukan terhadap semua pasien (N=31) yang dirawat dengan fraktur panggul traumatik di Rumah Sakit Umum Dr. Mohammad Hoesin antara Januari 2021 hingga Juni 2025. Data demografi pasien, variabel sosioekonomi, mekanisme cedera, dan manajemen klinis dianalisis. Hasil utama yang diukur adalah mortalitas di rumah sakit. Mengingat sifat eksploratori dan ukuran sampel kecil, analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square Pearson dan Fishers Exact dilakukan untuk mengidentifikasi asosiasi potensial. Hasil: Tingkat mortalitas di rumah sakit secara keseluruhan adalah 9,7% (3 dari 31 pasien). Cohort sebagian besar terdiri dari dewasa muda (61,3% berusia 20-59 tahun) yang mengalami kecelakaan lalu lintas (87,1%). Satu-satunya variabel yang menunjukkan asosiasi statistik signifikan dengan mortalitas adalah jenis pekerjaan. Ketiga kematian terjadi pada pasien dari sektor pekerjaan informal, dengan tingkat mortalitas 37,5% pada subkelompok ini (p=0,008). Tidak ditemukan asosiasi signifikan untuk klasifikasi fraktur (p=0,736), yang kemungkinan disebabkan oleh daya statistik terbatas. Kesimpulan: Meskipun terbatas oleh ukuran sampel, studi ini mengidentifikasi asosiasi kuat antara pekerjaan sektor informal dan mortalitas pasca fraktur panggul. Temuan ini menghasilkan hipotesis kritis bahwa di lingkungan LMIC, kerentanan sosioekonomi merupakan faktor utama yang memengaruhi hasil buruk, kemungkinan melalui penundaan perawatan dan presentasi dengan gangguan fisiologis yang lebih parah.

Dalam analisis retrospektif eksploratori pada pasien fraktur panggul di pusat trauma Indonesia, pekerjaan sektor informal merupakan satu‑satunya faktor yang secara statistik signifikan berhubungan dengan mortalitas di rumah sakit.Sinyal kuat ini, meskipun muncul di tengah keterbatasan metodologis, menunjukkan bahwa kerentanan sosial‑ekonomi dapat menjadi penggerak utama kelangsungan hidup setelah cedera berat di lingkungan LMIC.

Penelitian selanjutnya dapat menjawab pertanyaan: bagaimana pengaruh faktor sosiodemografik, khususnya status pekerjaan informal, terhadap mortalitas pada fraktur panggul jika dilakukan pada sampel yang lebih besar dan melibatkan beberapa rumah sakit di Indonesia? Selanjutnya, penting untuk menyelidiki dampak waktu penangguhan dalam perawatan pra‑hospital, termasuk lama transportasi dan akses ke fasilitas trauma, terhadap tingkat mortalitas dan komplikasi pada pasien dengan fraktur panggul. Akhirnya, penelitian harus menguji efektivitas intervensi dukungan sosial, seperti program bantuan keuangan atau pendidikan kesehatan, dalam mengurangi mortalitas pada pasien sektor informal, sehingga dapat memberikan bukti kuat untuk kebijakan kesehatan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kerentanan ekonomi.

  1. Determinants of In-Hospital Mortality Following Pelvic Ring Fractures: A 4.5-Year Analysis from a Developing... sriwijayasurgery.com/index.php/sjs/article/view/135Determinants of In Hospital Mortality Following Pelvic Ring Fractures A 4 5 Year Analysis from a Developing sriwijayasurgery index php sjs article view 135
Read online
File size729.69 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test