UnbrahUnbrah

Health and Medical JournalHealth and Medical Journal

Latar belakang: Manajemen diri pasien PPOK stabil masih menjadi tantangan kesehatan di masyarakat. Hal ini menjadi faktor risiko terjadinya komplikasi eksaserbasi pada pasien PPOK. Oleh sebab itu perlu diketahui gambaran manajemen diri yang bermasalah pada pasien PPOK stabil.Tujuan: Penelitiaan ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana gambaran manajemen diri pasien PPOK stabil di Poliklinik Paru RSUD Rasidin Padang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggambarkan manajemen diri pasien PPOK Stabil di Poliklinik Paru RSUD Rasidin Padang.Sampel dalam penelitian ini sebanyak 66 responden dengan teknik purposive sampling. Manajemen diri dinilai menggunakan Self-Management Scale (CSMS).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa diketahui lebih dari setengah responden (65,2%) berjenis kelamin laki-laki, sebagian besar (83,3%) memiliki tingkat pendidikan SMA, kurang dari setengah responden (48,5%) berada pada kategori usia dewasa akhir dan sebagian besar (71,2%) telah menderita PPOK kurang dari 5 tahun. Manajemen diri pasien PPOK stabil menunjukkan hampir setengah responden (48,5%) memiliki manajemen diri yang kurang baik. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa manajemen diri pasien PPOK stabil masih kurang baik yang berisiko terjadinya eksaserbasi yang akan memperparah kondisi pasien PPOK stabil. Diharapkan petugas kesehatan dapat memberikan edukasi dalam meningkatkan kesadaran pasien PPOK dalam memanajemen diri untuk mencegah terjadinya Eksaserbasi.

Manajemen diri pasien PPOK stabil masih menunjukkan hasil yang kurang baik, meningkatkan risiko eksaserbasi yang dapat memperparah kondisi pasien.Oleh karena itu, edukasi intensif dan berkelanjutan dari petugas kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan kesadaran pasien PPOK dalam mengelola diri.Program edukasi ini harus mencakup kepatuhan pengobatan, teknik pernapasan, serta cara menghindari faktor risiko guna mencegah eksaserbasi.

Melihat bahwa studi ini bersifat deskriptif dan menemukan manajemen diri pasien PPOK stabil masih kurang baik, penelitian lanjutan dapat berfokus pada pengembangan dan evaluasi intervensi yang lebih terstruktur. Misalnya, akan sangat bermanfaat untuk melakukan studi kuasi-eksperimental atau uji coba terkontrol secara acak guna mengukur secara objektif efektivitas berbagai model program edukasi kesehatan yang berkelanjutan, termasuk penggunaan teknologi digital atau aplikasi seluler, dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan dan praktik manajemen diri pasien PPOK di berbagai fasilitas kesehatan. Selain itu, penting juga untuk menyelidiki secara mendalam faktor-faktor sosial, ekonomi, budaya, dan psikologis—seperti tingkat literasi kesehatan pasien, dukungan keluarga, atau beban finansial pengobatan—yang mungkin berperan dalam rendahnya tingkat manajemen diri yang ditemukan. Penelitian kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pasien dan perawat dapat memberikan pemahaman yang lebih kaya tentang hambatan dan fasilitator manajemen diri di kehidupan nyata pasien. Terakhir, untuk meningkatkan generalisasi temuan, studi multisentrum yang melibatkan lebih banyak rumah sakit atau klinik di berbagai wilayah geografis dapat dilakukan, mungkin juga dengan mempertimbangkan metode penelitian longitudinal untuk memantau perubahan perilaku manajemen diri dan hasil klinis pasien PPOK dalam jangka waktu yang lebih panjang. Pendekatan ini akan memberikan dasar bukti yang lebih kuat untuk pengembangan kebijakan dan praktik klinis yang efektif.

Read online
File size278.35 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test