UMRAHUMRAH
SELATSELATTujuan penulisan adalah untuk menganalisis kepastian hukum surat keterangan waris yang dibuat menurut penggolongan penduduk sebagai persyaratan pengambilan jaminan kredit. Adanya ketentuan penggolongan penduduk seperti ketentuan Pasal 131 dan 163 Indische Staatregeling tidak dapat memberikan kepastian hukum dalam pembuatan keterangan waris yang digunakan sebagai syarat pengambilan jaminan kredit, karena dalam praktiknya ada pihak bank yang meminta surat keterangan waris harus dibuat oleh Notaris, walaupun yang bersangkutan termasuk golongan pribumi. Sebenarnya Pasal 15 ayat (1) UUJN 2014 tidak secara jelas menyebutkan kewenangan Notaris untuk membuat surat keterangan waris, namun pihak bank lebih memilih surat keterangan waris harus dibuat oleh Notaris, dengan pertimbangan karena surat keterangan waris yang dibuat oleh Notaris lebih memiliki kekuatan pembuktian yang kuat. Hal ini karena setiap akta yang dibuat oleh Notaris memiliki kekuatan pembuktian lahiriah, formal dan material. Perlu diperhatikan bahwa setelah Indonesia Merdeka, mestinya praktik pembuatan surat keterangan waris berdasarkan golongan pendudukan tidak perlu ada lagi, karena hal tersebut bertentangan dengan UU Nomor 40 Tahun 2008, karena hal tersebut merupakan tindakan dikriminatif sekaligus rasialis, dan melanggar prinsip-prinsip Hak Azasi Manusia. Dengan demikian, aturan hukum dalam pembuatan bukti sebagai ahli waris yang masih harus berdasarkan etnis dan institusi yang membuatnya berbeda harus segera diakhiri, di samping itu tidak ada akibat hukum apapun dengan adanya pembedaan bukti ahli waris berdasarkan etnis ini.
Adanya ketentuan penggolongan penduduk seperti ketentuan Pasal 131 dan 163 Indische Staatregeling tidak dapat memberikan kepastian hukum dalam pembuatan keterangan waris yang digunakan sebagai syarat pengambilan jaminan kredit, karena dalam praktiknya ada pihak bank yang meminta surat keterangan waris harus dibuat oleh Notaris, walaupun yang bersangkutan termasuk golongan pribumi.Walaupun sebenarnya Pasal 15 ayat (1) UUJN 2014 tidak secara jelas menyebutkan kewenangan Notaris untuk membuat surat keterangan waris, namun pihak bank lebih memilih surat keterangan waris harus dibuat oleh Notaris, dengan pertimbangan karena surat keterangan waris yang dibuat oleh Notaris lebih memiliki kekuatan pembuktian yang kuat.Hal ini karena setiap akta yang dibuat oleh Notaris memiliki kekuatan pembuktian lahiriah, formal dan material.Perlu diperhatikan bahwa setelah Indonesia Merdeka, mestinya praktik pembuatan surat keterangan waris berdasarkan golongan pendudukan tidak perlu ada lagi, karena hal tersebut bertentangan dengan UU Nomor 40 Tahun 2008, karena hal tersebut merupakan tindakan dikriminatif sekaligus rasialis, dan melanggar prinsip-prinsip Hak Azasi Manusia.Dengan demikian, aturan hukum dalam pembuatan bukti sebagai ahli waris yang masih harus berdasarkan etnis dan institusi yang membuatnya berbeda harus segera diakhiri, di samping itu tidak ada akibat hukum apapun dengan adanya pembedaan bukti ahli waris berdasarkan etnis ini.
Untuk mengatasi tumpang tindihnya peraturan perundang-undangan yang berhak/berwenang membuat bukti (formalitas) sebagai ahli waris dan menimbulkan kerancuan dan berkesan diskriminatif dan dalam rangka perlunya kepastian hukum yang bersifat demokratis dan berkeadilan, maka perlu ditentukan satu bentuk formalitas bukti sebagai ahli waris dan satu-satunya institusi atau pejabat yang berwenang membuat bukti tersebut, sehingga tercipta kepastian hukum. Penghapusan penggolongan penduduk ini juga secara tegas diatur dalam Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan: Setiap warga negara bersamaan dalam kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Pasal 28 D ayat (1) menyatakan: Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum dalam sebuah Negara merdeka, notaris harus secara aktif ikut serta mengimplementasikan nilai-nilai kemerdekaan dalam suatu tindakan nyata. Notaris harus siap menjadi agen pembaharuan dan satu-satunya pejabat yang berwenang untu membuat bukti ahli waris dalam bentuk (formal) akta pihak untuk seluruh Warga Negara Indonesai, tanpa bedasarkan golongan/etnis/suku ataupun agama.
| File size | 1003.14 KB |
| Pages | 18 |
| DMCA | Report |
Related /
YARSIYARSI Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan survey cross sectional. Penelitian dilakukan di posyandu balitaMetodologi: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan survey cross sectional. Penelitian dilakukan di posyandu balita
GEMACENDEKIAGEMACENDEKIA Studi ini menunjukkan bahwa rekonstruksi tari Han tidak dapat sepenuhnya dipahami melalui kerangka kerja Barat konvensional, tetapi memerlukan pendekatanStudi ini menunjukkan bahwa rekonstruksi tari Han tidak dapat sepenuhnya dipahami melalui kerangka kerja Barat konvensional, tetapi memerlukan pendekatan
STIE AASSTIE AAS Populasi penelitian adalah 53 karyawan, dan teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh atau total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner,Populasi penelitian adalah 53 karyawan, dan teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh atau total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner,
STIE AASSTIE AAS Temuan ini menegaskan perlunya peninjauan kebijakan tax harmonization dan revisi regulasi untuk mengeliminasi double taxation dan meringankan beban wajibTemuan ini menegaskan perlunya peninjauan kebijakan tax harmonization dan revisi regulasi untuk mengeliminasi double taxation dan meringankan beban wajib
UIN WALISONGOUIN WALISONGO Dalam tradisi terdapat pemberian yang bersifat timbal balik, dilakukan keluarga mempelai laki-laki untuk menutupi kekurangan mas kawin dari pihak laki-laki.Dalam tradisi terdapat pemberian yang bersifat timbal balik, dilakukan keluarga mempelai laki-laki untuk menutupi kekurangan mas kawin dari pihak laki-laki.
PENERBITPENERBIT Namun, seiring dengan berkembangnya modernitas, digitalisasi, dan pergeseran nilai generasi muda, wariga mengalami transformasi signifikan baik dari sisiNamun, seiring dengan berkembangnya modernitas, digitalisasi, dan pergeseran nilai generasi muda, wariga mengalami transformasi signifikan baik dari sisi
PENERBITPENERBIT Berdasarkan temuan tersebut, terdapat dua rekomendasi utama. Pertama, gereja, khususnya HKBP, perlu mengembangkan program liturgi dan pastoral berbasisBerdasarkan temuan tersebut, terdapat dua rekomendasi utama. Pertama, gereja, khususnya HKBP, perlu mengembangkan program liturgi dan pastoral berbasis
LPPPIPUBLISHINGLPPPIPUBLISHING Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan survei, menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria: responden pernahMetode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan survei, menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria: responden pernah
Useful /
UIJUIJ Integrasi teknologi digital serta pendekatan holistik yang melibatkan guru, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci untuk internalisasi nilai‑nilai IslamIntegrasi teknologi digital serta pendekatan holistik yang melibatkan guru, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci untuk internalisasi nilai‑nilai Islam
STAIALBAHJAHSTAIALBAHJAH Namun demikian, meskipun terdapat keselarasan secara normatif, kontribusi zakat terhadap pencapaian SDGs belum banyak diuraikan secara eksplisit dalamNamun demikian, meskipun terdapat keselarasan secara normatif, kontribusi zakat terhadap pencapaian SDGs belum banyak diuraikan secara eksplisit dalam
UIN WALISONGOUIN WALISONGO Studi ini menemukan bahwa SAFEnet telah beralih dari fungsi pemantauan pelanggaran hak digital menjadi fasilitator wacana publik, penyedia bantuan hukum,Studi ini menemukan bahwa SAFEnet telah beralih dari fungsi pemantauan pelanggaran hak digital menjadi fasilitator wacana publik, penyedia bantuan hukum,
UIN WALISONGOUIN WALISONGO Mayoritas santri masih mempercayai jaringan keluarga dan otoritas agama sebagai titik referensi utama saat memilih kandidat pilihan mereka. Selain itu,Mayoritas santri masih mempercayai jaringan keluarga dan otoritas agama sebagai titik referensi utama saat memilih kandidat pilihan mereka. Selain itu,