UncenUncen

Papua Journal of Diplomacy and International RelationsPapua Journal of Diplomacy and International Relations

Pergerakan Revolusi Kurdi di wilayah Rojava merupakan upaya melampaui model negara Westerlandian melalui konsep konfederalisme demokratis. Artikel ini memaparkan bagaimana gerakan revolusioner etnis Kurdi, terinspirasi oleh Abdullah Öcalan dan pemikiran Murray Bookchin, bertransisi dari identitas nasionalis ke pembangunan politik berbasis partisipasi langsung, keberagaman gender, dan ekonomi sosial. Dengan menganalisis konteks sejarah, kebijakan penindasan, dan dinamika konflik di Suriah, penelitian ini menegaskan bahwa pergerakan ini tidak sekadar memiliki tujuan politis, melainkan juga membentuk formasi pemerintahan post-state yang menolak hierarki dan sentralisasi negara. Melalui studi kualitatif yang mengandalkan telaah literatur, penulis meninjau bagaimana gerakan ini berkolaborasi dengan kelompok lainnya untuk membangun struktur konstitusional, sistem ekonomi koperatif, dan mekanisme demokrasi langsung sebagai alternatif bagi kelompok minoritas yang terpinggirkan. Hasilnya menunjukkan bahwa konflik struktural dan transformasi ideologis menyediakan dasar empiris bagi pemikiran pemikiran demokrasi tanpa negara dan model partisipasi multikultural di daerah konflik.

Sejarah panjang perjuangan Kurdi menegaskan pentingnya gerakan massa berbasis ideologi sebagai alat transformasi sosial.Sinergi antara Kurdi Syria dan ide Öcalan menjadi landasan PYD dalam membangun pemerintahan yang menolak model negara.Konfederalisme demokratis membuka alternatif bagi kelompok beragam untuk berpartisipasi politik tanpa model negara.

Pertama, meneliti dampak jangka panjang kebijakan ekonomi koperatif Rojava terhadap ketahanan pangan dan pengurangan ketergantungan impor, dengan fokus pada perbandingan antara wilayah konfederalitas dan daerah pengendalian negara pusat di Suriah. Kedua, mengeksplorasi efektivitas mekanisme partisipasi langsung dalam pengambilan keputusan lokal Rojava terhadap peningkatan inklusivitas gender, melalui analisis studi kasus komite perempuan di komunitas minoritas. Ketiga, menyelidiki dinamika hubungan diplomatik antara Rojava dan negara tetangga, khususnya peran pengaruh kebijakan embargo Tiongkok dan Amerika Serikat, serta bagaimana hal itu mempengaruhi stabilitas keamanan dan integrasi regional. Dengan menggabungkan ketiga pertanyaan penelitian ini, diharapkan dapat diidentifikasi faktor-faktor kunci yang memfasilitasi atau menghambat keberlanjutan model konfederalisme demokratis di wilayah konflik.

  1. The republican ideal of freedom as non-domination and the Rojava experiment - Can Cemgil, 2016. republican... journals.sagepub.com/doi/10.1177/0191453715624959The republican ideal of freedom as non domination and the Rojava experiment Can Cemgil 2016 republican journals sagepub doi 10 1177 0191453715624959
  2. Communal Democracy: The Social Contract and Confederalism in Rojava | Comparative Islamic Studies. communal... journal.equinoxpub.com/CIS/article/view/9744Communal Democracy The Social Contract and Confederalism in Rojava Comparative Islamic Studies communal journal equinoxpub CIS article view 9744
  3. Autonomy as a third mode of ordering: Agriculture and the Kurdish movement in Rojava and North and East... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/joac.12449Autonomy as a third mode of ordering Agriculture and the Kurdish movement in Rojava and North and East onlinelibrary wiley doi 10 1111 joac 12449
Read online
File size531.61 KB
Pages21
DMCAReport

Related /

ads-block-test