UBP KARAWANGUBP KARAWANG

Pharma Xplore : Jurnal Sains dan Ilmu FarmasiPharma Xplore : Jurnal Sains dan Ilmu Farmasi

Bervariasi penggunaan obat akan mengakibatkan adanya perbedaan dalam biaya dan luaran terapi sehingga diperlukan analisis efektivitas biaya penggunaan terapi metformin dan obat bahan alam untuk mengetahui penggunaan penanganan dalam mengatasi diabetes mellitus yang paling cost-effective. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pilihan manakah yang lebih cost-effective antara metformin dan obat bahan alam pada pasien diabetes melitus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan deskriptif, dimana data yang diambil merupakan data menggunakan white rat trials. Sampel pada penelitian ini sebanyak 6 kelompok dengan menggunakan uji coba tikus putih dengan masing masing kelompok sebanyak 18 ekor yang terdiri dari 3 ekor tikus putih yang menggunakan metformin dan 3 ekor yang menggunakan obat bahan alam.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa metformin menunjukkan efektivitas penurunan kadar glukosa darah yang lebih tinggi dibandingkan seluruh kelompok obat bahan alam.Tingginya efektivitas metformin pada penelitian ini diduga berkaitan dengan mekanisme kerja metformin yang mampu meningkatkan sensitivitas insulin, produksi glukosa hati melalui penghambatan glukoneogenesis, serta meningkatkan penggunaan glukosa pada jaringan perifer.Mekanisme tersebut menyebabkan kadar glukosa darah menurun lebih cepat dan lebih stabil dibandingkan terapi lainnya.Pada analisis Cost-Effectiveness Analysis (CEA) diperoleh bahwa metformin memiliki nilai ACER paling rendah yaitu 11,09 Rp/% dengan biaya terapi sebesar Rp700 sehingga menjadi terapi yang paling efisien.Nilai ICER pada OHT Bilon sebesar -210,45 Rp/%, jamu sambiloto -70,72 Rp/%, dan Diabetadex -1.489,16 Rp/% menunjukkan bahwa seluruh obat bahan alam memiliki biaya lebih tinggi dengan efektivitas lebih rendah dibandingkan metformin.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metformin merupakan terapi yang paling cost-effective untuk penanganan diabetes melitus pada model hewan uji tikus putih yang diinduksi aloksan.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan jumlah sampel yang lebih besar dan periode observasi yang lebih panjang agar diperoleh hasil yang lebih representatif. Selain itu, perlu dilakukan evaluasi terhadap variasi dosis, bentuk sediaan, kombinasi terapi, serta analisis biomarker lain untuk memperjelas mekanisme kerja obat bahan alam. Penelitian lanjutan juga dapat mengembangkan analisis farmakoekonomi yang lebih luas seperti cost utility analysis maupun cost benefit analysis. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan terapi herbal yang lebih efektif, ekonomis, dan berbasis bukti ilmiah.

Read online
File size389.95 KB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test