UIT LIRBOYOUIT LIRBOYO

Tribakti: Jurnal Pemikiran KeislamanTribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman

Ashabiyah adalah hal yang paling penting dalam membangun integritas dalam kehidupan sosial masyarakat, terutama dalam kehidupan beragama. Di Indonesia, berbagai macam agama telah berkembang, dan perbedaan etnis, ras, dan bahasa adalah ciri khas dan tantangan bagi masyarakat Indonesia. Apalagi ketika berbicara tentang agama yang sangat berisiko dalam sejarah dunia dan bahkan di Indonesia, diskriminasi, kekerasan, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama sering menjadi konflik yang berkepanjangan. Oleh karena itu, penelitian ini disajikan sebagai bentuk sampel dari polarisasi ashabiah dari masyarakat Tanon, yang memiliki perbedaan dalam satu unit sosial, bahkan pada tingkat yang lebih mikro, yaitu keluarga. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis sebagai pendekatan yang dipilih. Strategi desain yang digunakan peneliti adalah mengidentifikasi sifat fenomena masyarakat berdasarkan pengalaman individu yang menjadi anggota masyarakat Desa Tanon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri. Teori yang digunakan adalah teori struktural fungsionalisme Talcott Parson. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fungsi elit agama, abangan, dan masyarakat Tanon dalam sistem keselamatan adalah salah satu forum untuk membangun harmonisasi agama. Selain itu, elit agama, dalam menyampaikan ajaran spiritual mereka dari masing-masing agama, mengakui agama sebagai kebenaran universal dalam masyarakat Tanon. Terakhir adalah ritual adat, dan tradisi budaya adalah sarana laten bagi masyarakat Desa Tanon dalam membentuk kehidupan sosial yang harmonis.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa elit agama di Desa Tanon memiliki fungsi integrasi dalam kegiatan masyarakat, sehingga pola ini telah menjadi kunci keberhasilan masyarakat Tanon hingga saat ini yang tebal dengan toleransi antar umat beragama.Polarisasi yang dibangun oleh elit agama adalah dalam bentuk komunikasi harmonis antara masyarakat abangan dan kelas menengah sebagai patron dalam membangun sikap pluralisme.Selain itu, elit agama dalam menyampaikan ajaran agamanya masing-masing mengakui agama sebagai kebenaran universal dalam Masyarakat Tanon, terakhir, ritual adat dan budaya adalah sarana laten masyarakat Desa Tanon dalam membentuk kehidupan sosial yang harmonis.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, keterbatasan, dan bagian saran penelitian lanjutan, berikut adalah saran penelitian lanjutan yang baru:. . 1. Mempelajari lebih dalam tentang proses historis dan sosial-budaya yang membentuk sistem, struktur, dan fungsi dalam masyarakat, serta bagaimana hal-hal tersebut terbentuk dan berkembang. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan metodologis dan teoretis yang baru.. . 2. Meneliti lebih lanjut tentang peran elit agama dalam menjaga toleransi dan pluralisme di akar rumput, serta bagaimana mereka dapat menjadi model dan pemimpin dalam menciptakan integrasi sosial dan harmonisasi antar agama.. . 3. Menganalisis lebih mendalam tentang bagaimana ritual adat dan budaya dapat menjadi sarana laten bagi masyarakat dalam membentuk kehidupan sosial yang harmonis, serta bagaimana hal tersebut dapat menjadi jembatan penghubung antar agama dan kelompok sosial.

  1. Ashabiyah Polarization of the Religious Diversity of Tanon Community Kediri | Tribakti: Jurnal Pemikiran... doi.org/10.33367/tribakti.v34i1.1990Ashabiyah Polarization of the Religious Diversity of Tanon Community Kediri Tribakti Jurnal Pemikiran doi 10 33367 tribakti v34i1 1990
Read online
File size334.86 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test