KEMENSOSKEMENSOS

Sosio Konsepsia: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan SosialSosio Konsepsia: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial

Sebagai masyarakat yang bermukim diperdesaan Lereng Merapi, tentu memiliki beragam bentuk kearifan lokal dalam upaya mitigasi bencana erupsi. Permasalahan penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian, bagaimana bentuk dan makna kearifan lokal masyarakat perdesaan lereng Merapi yang didayagunakan dalam upaya mitigasi bencana erupsi. Penelitian dilakukan di Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan Kabupaten Sleman. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan mengetahui bentuk dan makna kearifan lokal masyarakat lereng Merapi dalam upaya mitigasi bencana erupsi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa dalam upaya mitigasi bencana erupsi, masyarakat di perdesaan Lereng Merapi mendayagunakan sejumlah bentuk kearifan lokal: 1) pengetahuan lokal mencakup inisiatif lokal berupa kegiatan religius, pembimbingan filosofi jawa, gugur gunung, jimpitan, dan rembug warga. Teknologi lokal berupa kenthongan sebagai wahana pertukaran informasi baik kondisi aman maupun dalam keadaan marabahaya 2) budaya lokal, berupa tradisi mencakup upacara labuhan dan nyadran, kesenian slawatan, serta ungkapan lokal seperti sing eling lan waspada, 3) keterampilan lokal mencakup keterampilan bertani dalam pembuatan pakan ternak berbahan dasar sampah organik. 4) sumberdaya lokal mencakup sumberdaya manusia, alam, dan sumberdaya sosial. 5). proses sosial lokal mencakup penguatan pola interaksi sosial, tata hubungan warga, dan pengawasan sosial. 6) solidaritas kelompok meliputi penguatan sikap kebersamaan dan kesetiakawanan sosial berlandaskan filosofi Jawa. Direkomendasikan agar kebijakan penanggulangan korban bencana alam mengutamakan upaya mitigasi dengan mendayagunakan setiap bentuk kearifan lokal masyarakat di daerah rawan bencana.

Berdasar analisis data dan pembahasan peneliti dapat menarik beberapa kesimpulan berikut.Masyarakat Kalurahan Umbulharjo sebagai komunitas yang bertempat tinggal di daerah rawan bencana, ternyata memiliki kearifan lokal yang masih dilestarikan dan didayagunakan dalam mitigasi bencana erupsi.Pertama, pengetahuan lokal masyarakat, yakni mencakup inisiatif lokal dan teknologi lokal.1) kegiatan warga masyarakat bersifat religius, bertujuan untuk memohon kepada Tuhan Yang Mahaesa agar selamat dari marabahaya khususnya bahaya erupsi Merapi melalui pengajian bagi umat Islam, Ibadat misa dan doa novena bagi pemeluk agama Katolik, dan kebaktian untuk umat yang beragama Kristen Protestan.2) Pembimbingan filosofi Jawa melalui pendidikan sopan santun, penggunaan bahasa Jawa secara benar, pendirian sanggar tari, dan pembentukan paguyuban mocopat yang bertujuan agar warga masyarakat memiliki kepribadian kuat, ketangguhan mental, dan ketahanan sosial secara memadai.3) gugur gunung, yakni kegotongroyongan warga dalam segala aspek kehidupan seperti tolong menolong atau bantu membantu yang telah dilakukan seperti dalam membangun rumah pascaerupsi 2010, bergotong royong melakukan persiapan dan pelaksanaan upacara labuhan, serta bekerja bakti dalam memperbaiki jalur evakuasi.4) jimpitan, merupakan model keswadayaan dan kemandirian warga masyarakat setempat dalam menghimpun dana bantuan sosial.1) tradisi mencakup upacara labuhan Merapi dan nyadran.Labuhan Merapi dan nyadran merupakan upaya mitigasi bencana secara tradisi yang dilakukan warga Kalurahan Umbulharjo, bertujuan untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Mahaesa, agar terbebas dari segala marabahaya dan bencana.Keberadaan kesenian selawatan oleh warga masyarakat setempat didayagunakan sebagai wahana untuk memohon keselamatan melalui lantunan paduan suara yang senantiasa mengagungkan nama Allah SWT dan Rosul utusan-Nya.Ungkapan lokal sing eling lan waspada pada dasarnya mengingatkan warga setempat agar selalu sadar bahwa mereka bertempat tinggal di daerah rawan bencana erupsi Merapi dan hendaknya selalu waspada.Dalam kajian ini difokuskan pada keterampilan warga yang mendukung masyarakat Kalurahan Umbulharjo dapat bertahan hidup di kawasan lereng Merapi sehingga mampu melakukan berbagai upaya mitigasi bencana erupsi.Keterampilan lokal masyarakat yang berhasil digali meliputi keterampilan bertani, beternak, dan pembuatan pakan ternak berbahan dasar sampah organik.Ketiga keterampilan warga desa lokasi kajian tersebut merupakan keterampilan lokal yang menunjang upaya masyarakat dalam melakukan kewaspadaan, kesiapsiagaan, dan antisipasi dalam rangka meminimalisir risiko bencana erupsi.Sumberdaya setempat yang didayagunakan warga Kalurahan Umbulharjo dalam melakukan upaya kesiapsiagaan menghadapi bencana erupsi Merapi berupa sumberdaya manusia, sumberdaya alam, dan sumberdaya sosial.Sumberdaya manusia mencakup pikiran, tenaga, dan kemampuan warga Kalurahan Umbulharjo untuk berpikir objektif dan sadar, bahwa mereka menempati daerah rawan letusan Merapi yang perlu pengetahuan/pemahaman tentang gejala awal, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan menghadapi erupsi.Di samping itu masyarakat setempat juga memiliki tenaga profesional yang berkemampuan memadai, baik dalam melaksanakan kesiapsiagaan menghadapi bencana, bertugas kemanusiaan saat tanggap darurat, maupun dalam melaksanakan berbagai tugas pada saat pascabencana.Sumberdaya sosial masyarakat Kalurahan Umbulharjo yang didayagunakan untuk keperluan mitigasi bencana meliputi Satuan Perlindungan Masyarakat dalam Penanggulanggan bencana (Satlinmas PB) dan kampung siaga bencana (KSB) “Merapi Sumberdaya berupa lembaga sosial tersebut juga didayagunakan dalam upaya mitigasi bencana, dan sangat mendukung warga masyarakat dalam bersiapsiaga menghadapi erupsi Merapi dan antisipasi untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan bencana tersebut.Kelima, proses sosial lokal, meliputi pola interaksi masyarakat, tata hubungan kemasyarakatan, dan pengawasan sosial.Masyarakat Kalurahan Umbulharjo memiliki pola berinteraksi sosial ala perdesaan dengan penuh suasana kekeluargaan, kerukunan, dan kebersamaan.Berkait dengan tata hubungan kemasyarakatan, warga desa setempat selain mengacu pada norma dan adat istiadat, juga berlandaskan pada peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di negara kita.Sementara dalam hal pengawasan sosial terhadap perilaku menyimpang, warga setempat memberlakukan sanksi moral berupa teguran lisan, teguran tertulis, peringatan keras secara tertulis, dan jika yang bersangkutan tetap tidak mengindahkan (mbandel) warga melakukan pengucilan lingkungan ketetanggaan.Sementara pelanggaran terhadap hukum perdata dan pidana, warga masyarakat setempat menyerahkan kepada pihak berwajib.Warga Kalurahan Umbulharjo dalam mengembangkan solidaritas sosial berlandaskan filosofi Jawa yang mengendap dalam ungkapan mangan ora mangan yen ngumpul, yang berintikan penerapan nilai kesetiakawanan sosial mencakup kejujuran, kepedulian, tenggang rasa, gotongroyong, rela berkorban, kebersamaan, kerukunan, musyawarah, legawa, dan nilai taat norma.Nilai solidaritas sosial tersebut oleh warga setempat diimplementasikan dalan hidup bermasyarakat, termasuk didayagunakan dalam berbagai upaya berkait dengan kegiatan yang bertujuan pengurangan risiko bencana erupsi Merapi.Makna kearifan lokal berkaitan dengan mitigasi bencana erupsi, bahwa setiap bentuk kearifan lokal Kalurahan Umbulharjo terbukti didayagunakan dalam upaya pengurangan risiko bencana erupsi Merapi.Keragaman kearifan lokal masyarakat setempat berdayaguna dalam pembangunan fisik, penyadaran warga, dan peningkatan masyarakat menghadapi bencana erupsi.Kearifan berbentuk teknologi dan keterampilan lokal serta jiwa kegotongroyongan didayagunakan dalam pembangunan prasarana dan sarana mitigasi seperti pembuatan pemeliharaan jalur evakuasi, banker, dan gardu pantau.Kearifan berupa tradisi, seni, dan ungkapan lokal didayagunakan sebagai wahana penyuluhan dan bimbingan sosial dalam menyadarkan masyarakat tentang pentingnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan sebelum terjadi bencana.Sementara kearifan lokal seperti kegiatan religius, solidaritas sosial, dan keberadaan kampong siaga bencana “Merapi didayagunakan warga dalam meningkatkan kemampuan menghadapi bencana erupsi.

Berdasarkan hasil penelitian ini, berikut adalah saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan: Pertama, pemerintah dapat merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan pelestarian setiap bentuk kearifan lokal masyarakat di daerah rawan bencana alam. Perlu melibatkan berbagai kementerian yang memiliki tugas pokok dan fungsi perlindungan dan jaminan sosial bagi korban bencana alam, mendorong melakukan sinergitas dan pelibatan di antara Kementerian Sosial, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Pendidikan dan Kebudyaan, serta Kementerian Pariwisata. Kedua, penggalian dan pelestarian berbagai bentuk kearifan lokal masyarakat daerah rawan bencana alam khususnya rawan letusan gunung Merapi, sebagaimana diamanatkan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 perlu terus dilakukan. Pemerintah DI Yogyakarta melalui Dinas Sosial, BPBD, Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata hendaknya secara intensif melakukan sosialisasi dan promosi berbagai strategi pendayagunaan kearifan lokal yang dilakukan masyarakat daerah rawan bencana lereng Merapi dalam upaya kesiapsiagaan menghadapi erupsi. Ketiga, generasi tua hendaknya senantiasa terus menyosialisasikan kepada generasi muda mengenai setiap bentuk kearifan lokal. Generasi tua terutama tokoh kunci masyarakat seperti sesepuh desa, tetua adat, pemuka agama, dan aparat desa secara intensif perlu memberi bimbingan melalui pemahaman, penanaman, ataupun penerapan nilai-nilai kearifan lokal dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam lingkungan keluarga, ketetanggaan, sekolah, maupun lingkungan masyarakat secara lebih luas.

Read online
File size395.36 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test