IIESECOREIIESECORE

EDUCATIONEEDUCATIONE

Siswa sekolah menengah kejuruan menghadapi tuntutan perkembangan yang terkait dengan prestasi akademik, penyesuaian sosial, dan persiapan kerja. Meskipun siswa dari keluarga utuh sering diasumsikan menerima perlindungan emosional yang memadai, kelengkapan struktural keluarga tidak selalu menjamin validasi emosional atau sumber daya sosial yang cukup. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek simultan validasi emosional orang tua dan dukungan sosial terhadap ketangguhan mental siswa sekolah menengah kejuruan dari keluarga utuh. Pendekatan korelasi kuantitatif dengan desain ex post facto digunakan. Peserta adalah 66 siswa UPTD SMKN Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang dipilih melalui sampling purposive berdasarkan kriteria tinggal dengan kedua orang tua dalam satu rumah tangga. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert yang mengukur validasi emosional orang tua, dukungan sosial yang dirasakan, dan ketangguhan mental. Instrumen memenuhi kriteria validitas item (r >= .30) dan kriteria keandalan (Cronbachs alpha > .60). Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan regresi linier berganda setelah persyaratan asumsi klasik dipenuhi. Temuan menunjukkan bahwa validasi emosional orang tua tidak memiliki efek parsial yang signifikan terhadap ketangguhan mental. Namun, validasi emosional orang tua dan dukungan sosial secara simultan memiliki efek yang signifikan terhadap ketangguhan mental siswa, F(2, 63) = 3.792, p = .028, dengan R² = .107. Hasil ini menunjukkan bahwa ketangguhan mental tidak dibentuk oleh proses emosional keluarga saja, tetapi oleh interaksi antara validasi yang berbasis keluarga dan dukungan sosial yang lebih luas. Temuan ini implikasinya adalah layanan bimbingan dan konseling sekolah harus melibatkan kedua orang tua dan sistem dukungan berbasis sekolah untuk memperkuat ketangguhan siswa.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa siswa sekolah menengah kejuruan dari keluarga utuh umumnya menunjukkan tingkat validasi emosional orang tua, dukungan sosial, dan ketangguhan mental yang cukup baik.Hasil regresi menunjukkan bahwa validasi emosional orang tua tidak memiliki efek parsial yang signifikan terhadap ketangguhan mental.Namun, validasi emosional orang tua dan dukungan sosial secara simultan memiliki efek yang signifikan terhadap ketangguhan mental siswa, dengan kontribusi sebesar 10,7% dan kontribusi yang disesuaikan sebesar 7,9%.Temuan ini menunjukkan bahwa ketangguhan mental siswa tidak terbentuk oleh satu faktor relasional saja.Validasi emosional dari orang tua perlu didukung oleh sumber daya sosial yang lebih luas dari teman sebaya, guru, konselor sekolah, dan lingkungan sekolah.Oleh karena itu, status keluarga utuh tidak boleh dianggap sebagai jaminan otomatis ketangguhan remaja.kualitas interaksi emosional dan ketersediaan dukungan sosial lebih penting.Implikasi praktisnya adalah konselor sekolah dan guru bimbingan dan konseling harus mengembangkan program kolaboratif yang melibatkan siswa, orang tua, teman sebaya, dan guru.Orang tua harus didorong untuk berlatih validasi emosional melalui mendengarkan secara aktif, empati, dan komunikasi yang mendukung.Sekolah harus memperkuat sistem dukungan teman sebaya, hubungan guru-siswa, dan layanan konseling yang membantu siswa mengelola tekanan akademik dan persiapan karier.Penelitian masa depan harus menguji prediktor tambahan seperti iklim sekolah, strategi penanganan stres, harga diri, dukungan teman sebaya, dukungan guru, stres akademik, dan latar belakang sosioekonomi untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang ketangguhan mental remaja.

Berdasarkan temuan penelitian ini, saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: 1. Menganalisis peran iklim sekolah dalam membentuk ketangguhan mental siswa. Penelitian dapat menyelidiki bagaimana iklim sekolah yang positif, seperti lingkungan belajar yang mendukung dan hubungan guru-siswa yang kuat, dapat meningkatkan ketangguhan mental siswa. 2. Meneliti strategi penanganan stres dan hubungannya dengan ketangguhan mental. Penelitian dapat mengeksplorasi bagaimana strategi penanganan stres yang efektif, seperti kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengelola emosi, dapat memperkuat ketangguhan mental siswa. 3. Meneliti hubungan antara harga diri dan ketangguhan mental. Penelitian dapat menyelidiki bagaimana harga diri yang tinggi dapat menjadi faktor pelindung dalam menghadapi tekanan dan tantangan, sehingga memperkuat ketangguhan mental siswa. Dengan menggabungkan saran-saran ini, penelitian dapat lebih menyeluruh dalam memahami faktor-faktor yang berkontribusi terhadap ketangguhan mental siswa dan mengembangkan intervensi yang lebih efektif untuk memperkuat ketangguhan mereka.

  1. Hubungan Resiliensi Akademik dan Optimisme dengan Stres Akademik Peserta Didik Sekolah Menengah Atas... doi.org/10.21009/INSIGHT.112.05Hubungan Resiliensi Akademik dan Optimisme dengan Stres Akademik Peserta Didik Sekolah Menengah Atas doi 10 21009 INSIGHT 112 05
  2. The Impact of Family Functioning on Self-Esteem and Resilience Among Young Adults in the Southern Region... doi.org/10.3329/dujbs.v33i2.75819The Impact of Family Functioning on Self Esteem and Resilience Among Young Adults in the Southern Region doi 10 3329 dujbs v33i2 75819
  3. Dukungan sosial teman sebaya dan resiliensi dengan stres akademik pada mahasiswa rantau tahun pertama... ejournal.umm.ac.id/index.php/cognicia/article/view/29740Dukungan sosial teman sebaya dan resiliensi dengan stres akademik pada mahasiswa rantau tahun pertama ejournal umm ac index php cognicia article view 29740
Read online
File size189.27 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test