UNDARUNDAR

Journal of Public PowerJournal of Public Power

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pandangan masyarakat Madura yang dikenal fanatik terhadap kyai dan memiliki sikap paternalistik terhadap beberapa kyai meskipun sudah diketahui melanggar norma hukum melalui perilaku korupsi. Alasannya karena pada eksploratori ditemukan suatu masyarakat memberikan pandangan negatif (stigma) pada kyai dengan kyai pesse. Akan tetapi, ternyata ada kelompok yang kemudian membela kyai secara berlebihan meskipun sudah diketahui bersama kyainya tersebut korupsi. Kemudian kelompok tersebut disebut dengan istilah Denominasi Sosial Kyai yang terdiri dari keluarga (ahlul bait), santeri, wali santeri dan alumni. Oleh sebab itu, dilakukan penelitian lebih lanjut melihat fenomena tersebut terhadap masyarakat Madura terutama diluar denominasi sosial kyai. Penelitian ini menggunakan metode kualititatif dengan pendekatan Fenomenologi dengan menggunakan indepth interview dan observasi partisipan sebagai teknik pengumpulan data. Sementara untuk teknik penentuan subjek/informan penelitian menggunakan purposif dan kualitatif-eksplanatif sebagai teknik analisis data serta menggunakan Triangulasi dan Persistent-observation sebagai teknik pemeriksaan keabsahan data. Sedangkan, Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah; 1) Stigma masyarakat terhadap kyai korupsi ternyata juga distigmatisasikan kepada denominasi sosial; 2) Stigma masyarakat terhadap kyai korupsi ternyata juga distigmatisasikan hanya kepada sebagian denominasi sosial terutama keluarga (ahlul-bait); 3) Stigma masyarakat terhadap kyai korupsi ternyata tidak distigmatisasikan kepada denominasi sosial. Sedangkan, kesimpulan penelitian ini adalah ternyata kyai mendapatkan pandangan negatif (stigma) dari masyarakat yaitu kyai pesse (kyai uang), kyai sennok (kyai pelacur), blater/bajingan mak kaeh (kyai palsu) dan kyai proyek, dan mendapatkan resistensi melalui pembelaan yang dilakukan oleh denominasi sosial dengan berbagai cara baik secara verbal maupun melalui gerakan massa.

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan suatu penjelasan mengenai adanya pertarungan makna yang terjadi antara masyarakat Madura berkaitan dengan fenomena kyai/gus/lora bermasalah hukum karena aktifitas kelembagaannya dalam bidang politik mendapatkan stigma atau justifikasi dari masyarakat karena masalah korupsi yang menimpanya dengan berbagai labelisasi negatif sebagai suatu deviant behaviour.Akan tetapi, di sisi yang lain terdapat orang atau sekelompok orang setia kepada aktor bermasalah hukum tersebut dengan melakukan pembelaan secara radikal yang merupakan bagian dari denominasi sosial tokoh tersebut dengan berbagai narasi dan argumentasi.Artinya jika mengacu pada apa yang digambarkan Goffman bahwa indikasi perilaku penyimbolan yang memperlakukan collective action (aksi bersama) sebagai sebuah makna bahwa mempertahankan orang atau sekelompok orang tersebut tengah melakukan pertahanan simbol.Sebab hal ini menjadi penting sebagai sebuah proses presentasi diri menjadikan kyai sebagai manusia agung yang jauh dari dunia dosa.Sedangkan, pada bagian yang lain orang atau sekelompok orang melakukan pemaknaan terhadap perilaku seorang aktor (meskipun dianggap terhormat sekalipun) dengan berbagai pandangan yang beragam melalui stigma-stigma tertentu yang berdasarkan pada ajaran moral bahwa setiap manusia tidak akan pernah luput dari salah dan dosa.Perdebatan tersebut akhirnya menyimpulkan bahwa sebaiknya kyai kembali pada fungsi sosialnya sebagai kawula agama (penuntun masyarakat dalam bidang sosial keagamaan), akan tetapi, di sisi yang lain menolak pendapat tersebut yang menyebut bahwa kyai punya hak yang sama untuk berpolitik praktis menjadi bagian dari kawula nagara, sehingga bisa melakukan kontrol langsung dari potensi kerusakan birokrasi, sebab kyai dianggap memiliki ilmu pengetahuan terutama agama yang lebih besar dari yang lainnya sebagai self control atau memiliki iman politik yang lebih kuat.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, dan keterbatasan penelitian ini, berikut adalah saran penelitian lanjutan:. . 1. Mengkaji lebih dalam tentang peran kyai dalam masyarakat Madura, terutama dalam hal kepemimpinan dan pengaruhnya terhadap masyarakat. Penelitian ini dapat berfokus pada bagaimana kyai dapat menjadi figur sentral dalam berbagai perspektif kehidupan, dan bagaimana nilai-nilai moralitas yang mereka tanamkan dapat diterima oleh masyarakat.. . 2. Melakukan studi komparatif tentang konflik internal dan eksternal yang dialami oleh pesantren di Madura, serta bagaimana konflik tersebut mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kyai. Penelitian ini dapat mengeksplorasi lebih lanjut tentang konflik temporal dan permanen yang terjadi antara kyai, dan bagaimana konflik tersebut dapat mempengaruhi psikologi santri, wali, dan masyarakat.. . 3. Meneliti lebih lanjut tentang resistensi dan pembelaan yang dilakukan oleh denominasi sosial kyai terhadap kyai yang terlibat kasus hukum. Penelitian ini dapat fokus pada bagaimana denominasi sosial kyai, seperti keluarga, santeri, wali santeri, dan alumni, memberikan dukungan dan pembelaan terhadap kyai yang terlibat kasus korupsi, serta bagaimana hal ini mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kyai tersebut.

Read online
File size771.23 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test