MARANATHAMARANATHA

Journal of Medicine and HealthJournal of Medicine and Health

Self-esteem berperan penting dalam mempertahankan identitas dan rasa harga diri seseorang yang membantunya untuk berkembang serta juga berperan dalam menjaga pandangan positif terhadap diri sendiri dan meningkatkan empati bagi mahasiswa kedokteran yang merupakan calon dokter. Rendahnya self-esteem berdampak buruk bagi kesehatan jiwa dan menghambat seseorang untuk berkembang. Manfaat yang didapatkan dari aktif berorganisasi dipandang berkaitan erat dengan self-esteem. Studi yang membahas hubungan antara keaktifan berorganisasi dan self-esteem pada mahasiswa kedokteran masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara kedua variabel tersebut pada mahasiswa kedokteran. Penelitian dengan desain cross-sectional pada 106 mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Atma Jaya (FKIK UAJ) angkatan 2021-2022. Alat ukur berupa kuesioner keaktifan berorganisasi oleh Rahmawati (2020) dan Rosenberg Self-esteem Scale (RSES). Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis. Skor kuesioner keaktifan berorganisasi pada responden memiliki nilai median cukup tinggi (61,0) dan mayoritas tergolong memiliki tingkat self-esteem sedang (75,5%). Analisis data Kruskal-Wallis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara keaktifan berorganisasi terhadap tingkat self-esteem pada mahasiswa (p=0,007). Simpulan penelitian ini menyatakan adanya hubungan signifikan antara keaktifan berorganisasi terhadap tingkat self-esteem mahasiswa preklinik FKIK UAJ.

Penelitian menemukan bahwa nilai median keaktifan berorganisasi mahasiswa preklinik FKIK UAJ adalah 61,0 dan mayoritas mahasiswa (75,5%) memiliki tingkat self-esteem sedang.Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara keaktifan berorganisasi dan tingkat self-esteem (p=0,007).Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan populasi yang lebih besar serta mengeksplorasi faktor-faktor tambahan yang memengaruhi self-esteem, seperti latar belakang ekonomi, penampilan fisik, citra tubuh, dan pencapaian akademik.

Penelitian lanjutan dapat menguji apakah peningkatan intensitas partisipasi dalam organisasi mahasiswa secara longitudinal dapat meningkatkan self-esteem, sehingga menjawab pertanyaan: Apakah peningkatan keaktifan berorganisasi menyebabkan peningkatan self-esteem pada mahasiswa kedokteran? Selanjutnya, studi dengan sampel yang lebih luas dan representatif dapat meneliti pengaruh variabel demografis seperti latar belakang ekonomi, jenis kelamin, dan status sosial terhadap hubungan tersebut, misalnya: Bagaimana faktor ekonomi dan sosio-demografis memoderasi hubungan antara keaktifan berorganisasi dan self-esteem pada mahasiswa kedokteran? Terakhir, penelitian intervensi dapat merancang program kegiatan organisasi yang terstruktur untuk mengevaluasi efeknya pada self-esteem serta variabel terkait seperti citra tubuh dan prestasi akademik, sehingga menjawab: Apakah program kegiatan organisasi yang terarah dapat meningkatkan self-esteem sekaligus memperbaiki citra tubuh dan pencapaian akademik mahasiswa kedokteran?.

Read online
File size274.55 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test