POLTEKKES JAYAPURAPOLTEKKES JAYAPURA

gema kesehatangema kesehatan

Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, khususnya pada kelompok pekerja tinggi seperti petugas dengan paparan kebersihan. Tingginya kasus leptospirosis di Kota Semarang menunjukkan adanya potensi risiko yang signifikan pada kelompok pekerja ini, terutama di wilayah yang sering banjir dan memiliki sanitasi lingkungan yang kurang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko leptospirosis berdasarkan kondisi lingkungan kerja, aktivitas kerja, pemahaman, persepsi risiko, perilaku pencegahan, serta dukungan yang diterima petugas kebersihan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam terhadap tujuh petugas kebersihan, serta triangulasi sumber untuk meningkatkan validitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan kerja didominasi oleh kondisi berisiko seperti genangan air, lingkungan lembap, drainase terbuka, dan keberadaan tikus, serta aktivitas kerja yang melibatkan kontak langsung dengan sampah basah dan air kotor yang dilakukan secara berulang. Penggunaan alat pelindung diri belum dilakukan secara konsisten, dan pemahaman responden mengenai leptospirosis masih terbatas meskipun terdapat kesadaran terhadap risiko pekerjaan. Selain itu, keterbatasan edukasi kesehatan dan dukungan turut memengaruhi upaya pencegahan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa petugas kebersihan di Kota Semarang memiliki risiko tinggi terhadap leptospirosis yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan kerja yang lembap, tergenang air, serta adanya paparan dari hewan reservoir.Meskipun terdapat kesadaran terhadap risiko dan praktik higiene personal yang cukup baik, tingkat pengetahuan tentang leptospirosis masih terbatas dan penggunaan APD yang belum konsisten.Temuan ini mengindikasikan bahwa perlindungan kesehatan kerja pada petugas kebersihan masih belum optimal dan memerlukan penguatan pada aspek edukasi, perilaku pencegahan, serta dukungan sistem kerja.

Penelitian selanjutnya dapat menguji efektivitas program pelatihan terstruktur yang menekankan penggunaan alat pelindung diri (APD) secara konsisten di antara petugas kebersihan yang bekerja di daerah rawan banjir, dengan mengukur perubahan perilaku dan tingkat infeksi leptospirosis setelah intervensi. Selain itu, studi longitudinal dapat mengevaluasi dampak perbaikan infrastruktur lingkungan, seperti peningkatan sistem drainase dan kontrol populasi tikus, terhadap penurunan kasus leptospirosis pada pekerja kebersihan, dengan membandingkan daerah yang mendapatkan intervensi dan yang tidak. Selanjutnya, pengembangan sistem pemantauan kesehatan berbasis mobile (mHealth) yang memungkinkan petugas melaporkan gejala awal leptospirosis secara real‑time dapat diujicobakan untuk menilai kemampuan deteksi dini dan respons cepat dalam mengurangi beban penyakit pada kelompok pekerja ini.

  1. Penerapan Pelaksanaan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Karyawan | EUNOIA: Jurnal Pengabdian... doi.org/10.36277/eunoia.v4i2.661Penerapan Pelaksanaan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja K3 Pada Karyawan EUNOIA Jurnal Pengabdian doi 10 36277 eunoia v4i2 661
  2. Environmental Risk Factors Associated with Leptospirosis Cases in Human: a Systematic Review | Buletin... ejournal.poltekkes-smg.ac.id/ojs/index.php/keslingmas/article/view/13544Environmental Risk Factors Associated with Leptospirosis Cases in Human a Systematic Review Buletin ejournal poltekkes smg ac ojs index php keslingmas article view 13544
  3. Persepsi dan Praktik Hygiene dan Sanitasi dalam Dunia Kerja Hospitality: Implikasi terhadap Kualitas... doi.org/10.20961/shes.v8i4.108845Persepsi dan Praktik Hygiene dan Sanitasi dalam Dunia Kerja Hospitality Implikasi terhadap Kualitas doi 10 20961 shes v8i4 108845
Read online
File size200.16 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test